Elite Gelisah, Rakyat Mulai Bergerak, Rumah Pak JK Ramai Dikunjungi
Oleh: Azis Talib
Sejumlah tokoh nasional datang ke rumah Bapak Jusuf Kalla (JK). Nada mereka sama, kritik terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Tapi pertanyaannya sangat sederhana; siapa yang sebenarnya gelisah?
Setiap perubahan arah negara selalu punya konsekuensi. Ketika kebijakan mulai menyentuh rakyat bawah, biasanya ada kegelisahan dari atas. Ini bukan hal baru dalam politik.
Hari ini, arah itu mulai terlihat. Pemerintahan yang dimpimpin Pak Prabowo mendorong sektor riil, terutama pertanian. Semangat Pasal 33 UUD 1945 - ekonomi untuk rakyat kembali dibicarakan serius, bahkan sudah mulai dijalankan.
Salah satu contohnya adalah program makan bergizi gratis (MBG).
Sekilas, ini program sosial biasa, hanya urusan makan. Tapi dampaknya, selain untuk memupuk kecerdasan kolektif anak bangsa, secara langsung dan otomatis bersentuhan dengan ekonomi. Program ini menciptakan lonjakan permintaan besar terhadap beras, sayur, daging, telur, ikan, susu, minyak goreng, cabe, bumbu, sabun cuci, kain pel dan lap dan sebagainya.
Petani dan peternak tidak lagi menunggu pasar, melainkan pasar yang datang kepada mereka.
Dari sini efeknya menyebar. Produksi naik. Distribusi dan transportasi bergerak. Rumah Potong Hewan tumbuh, Lapangan kerja terbuka, bahkan limbah dapur pun berubah menjadi bahan baku pakan ternak, peternak ayam dan bebek sumringah.
Inilah cara Presiden Prabowo menggerakkan ekonomi dari bawah (prabowonomics).
Dan di sinilah masalahnya bagi sebagian pihak di elit.
Ketika akses ekonomi mulai terbuka lebih luas, ketika peluang tidak lagi hanya berputar di kelompok tertentu di atas, maka ada yang merasa kehilangan ruang.
Kritik pun bermunculan. Tentu, kritik itu penting. Tapi semua pihak harus jernih; apakah ini kritik untuk memperbaiki, atau karena tidak lagi di posisi yang sama seperti dulu?.
Pak Jusuf Kalla tentu paham betul situasi ini. Beliau tahu, perubahan selalu menimbulkan resistensi. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekedar suara keras, tetapi sikap yang bijak.
Kita memang belum melihat hasil akhir, karena baru permulaan. Tantangannya masih banyak. Tapi arahnya sudah terlihat nyata.
Dan seperti biasa, setiap perubahan selalu memunculkan dua kubu; mereka yang siap beradaptasi, dan mereka yang ingin bertahan pada keadaan lama.
Bagi sebagian elite, ini mungkin terasa tidak nyaman.
Tapi bagi rakyat desa di seluruh tanah air, inilah awal yang telah lama ditungu-tunggu.
Selamat hari raya idul fitri
Mohon Maaf Lahir Bathin
*****
.jpg)
Posting Komentar