GPS Dipercaya, Hisab Diragukan: Maju Tak Kena, Mundur Tak Kena
Secara astronomi, bulan tidak pernah menunggu manusia untuk diakui keberadaannya. Bulan terus bergerak dalam orbitnya dengan hukum kosmik yang dapat dihitung dengan presisi tinggi. Al-Qur’an bahkan menegaskan: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. Ar-Rahman: 5). Artinya, keteraturan semesta adalah realitas teologis sekaligus ilmiah. Menolak keteraturan itu bukan bentuk kesalehan, melainkan bentuk kegagalan memahami ayat Tuhan di alam ini.
Ironi besar muncul dalam kehidupan modern umat. Dunia telah menghabiskan ribuan triliun rupiah untuk mengembangkan teknologi navigasi satelit. GPS menjadi penunjuk arah paling dipercaya manusia modern. Kita mengikuti arah digital itu tanpa ragu, tanpa perdebatan akidah, tanpa keraguan fikih. Kita tidak menolak koordinat satelit karena “tidak melihat langsung orbitnya”. Namun ketika ilmu yang sama menjelaskan posisi bulan, sebagian umat tiba-tiba berubah menjadi penuh kecurigaan.
Lebih aneh lagi, muncul pola pikir yang sulit dijelaskan secara rasional. Perhitungan ilmiah berbasis matematika dan fisika diragukan, tetapi pengamatan melalui teropong justru dianggap lebih sah. Seolah-olah kebenaran baru diakui jika dapat disentuh oleh mata teropong. Padahal teropong itu sendiri adalah produk sains yang sama. Ini bukan sekadar inkonsistensi, melainkan paradoks intelektual yang menunjukkan betapa sebagian umat masih gamang berdamai dengan ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an berkali-kali menyeru manusia untuk berpikir: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 190). Dalam sejarahnya, umat Islam pernah menjadi pelopor sains dunia. Al-Biruni meneliti bumi dan langit dengan ketelitian luar biasa. Al-Battani menghitung orbit benda langit dengan akurasi yang mengagumkan. Mereka tidak menganggap ilmu sebagai ancaman iman. Justru melalui ilmu, mereka menemukan kedalaman iman.
Kini, sebagian umat justru memelihara kecurigaan terhadap sains atas nama kehati-hatian religius. Sikap ini berbahaya, karena melahirkan religiositas yang defensif dan anti-intelektual. Agama seolah harus dilindungi dari ilmu, padahal keduanya tidak pernah bertentangan. Yang bertentangan adalah ketakutan manusia menghadapi perubahan cara berpikir, atau keperluan lain.
Dunia bergerak dengan kecepatan teknologi. Peradaban dibangun oleh mereka yang berani berpikir, bukan oleh mereka yang takut pada perhitungan. Jika umat terus mempertahankan kecurigaan terhadap ilmu, maka yang dipertaruhkan bukan hanya perbedaan hari raya, melainkan posisi umat dalam sejarah peradaban.
Singkatnya, persoalan hilal hanyalah gejala dari masalah yang lebih besar: krisis keberanian intelektual. Percaya pada satelit tetapi ragu pada hisab adalah kontradiksi yang sangat memalukan bagi tradisi ilmu yang pernah melahirkan peradaban besar ummat Islam. Bulan akan terus bergerak sesuai hukum Tuhan, tetapi sejarah tidak akan menunggu umat yang takut berpikir. Jika umat ingin bangkit, maka yang harus diubah bukan metode melihat hilal, melainkan mentalitas menghadapi ilmu. Sebab peradaban tidak pernah runtuh karena kekurangan iman, tetapi runtuh karena ketakutan menggunakan akal.
wallahu a'lam bissawab
Yuk kita lebaran, Mohon Maaf Lahir Bathin
*****
.jpg)
Posting Komentar