Jika Iran Mengusik Arab, Keruntuhan Persia akan Terulang

Table of Contents

Oleh: Abu Bakar Huremakin

Iran lahir dari rahim Imperium Persia, salah satu peradaban paling kuat dan paling lama bertahan dalam sejarah dunia. Pada masa Dinasti Sasaniyah (224–651 M), Persia menguasai wilayah luas dari Mesopotamia, Kaukasus, hingga Asia Tengah, memiliki birokrasi maju, militer profesional, sistem pajak mapan, dan menjadi rival utama Kekaisaran Romawi Timur. Hingga awal abad ke-7 M, Persia masih dipandang sebagai kekuatan global utama.

Namun, imperium sebesar itu runtuh dalam waktu relatif singkat. Antara tahun 633–651 M, Persia dikalahkan oleh ekspansi Khilafah Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Kekalahan krusial terjadi dalam Perang Qadisiyah (636 M) dan Perang Nahavand (642 M), dua pertempuran yang secara efektif mematahkan tulang punggung militer Persia. Pada 651 M, Kaisar terakhir Sasaniyah, Yazdegerd III, terbunuh, menandai runtuhnya kekuasaan Persia secara politik.

Yang patut digarisbawahi bahwa bangsa Arab yang mengalahkan Persia saat itu bukanlah bangsa yang berperadaban mapan. Mereka tidak memiliki tradisi kekaisaran, teknologi militer canggih, atau sumber daya besar. Namun, mereka unggul dalam solidaritas iman, disiplin kolektif dan momentum sejarah, dimana faktor yang diabaikan oleh elit Persia yang terfragmentasi dan lelah oleh perang panjang melawan Bizantium.

Pelajaran sejarah ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi Iran hari ini. 

Dalam eskalasi konflik "Amerika-Israel versus Iran", Teheran menembakkan rudalnya dan melakukan manuver militer yang berdampak langsung ke wilayah negara-negara Arab, dengan dalih keberadaan pangkalan militer "Amerika Serikat" di kawasan tersebut. Namun, langkah ini mengandung risiko strategis yang sangat besar.

Mengganggu negara-negara Arab bukan hanya persoalan militer, tetapi menyentuh "memori historis, identitas kawasan dan solidaritas geopolitik". Tekanan eksternal justru berpotensi menyatukan negara-negara Arab sebagaimana Persia dahulu menghadapi konsolidasi kekuatan Arab-Islam yang awalnya terpecah-pecah, lalu terkonsolidasi kemudian menumbangkan Persia.

Sejarah telah menunjukkan bahwa "kekuatan besar tidak selalu tumbang oleh musuh yang lebih kuat, melainkan oleh musuh yang diremehkan". Jika kalkulasi geopolitik keliru, kesalahan historis (era Persia) bisa terulang bukan karena Iran lemah, melainkan karena gagal membaca dinamika kawasan Arab yang memiliki ingatan panjang terhadap dominasi Persia di masa lalu.

Dengan kata lain, keberanian tanpa kehati-hatian bukanlah strategi tepat, tapi hal itu adalah undangan terbuka bagi pengulangan tragedi sejarah yang waktunya, sekali lagi, ditentukan oleh kesalahan membaca musuh. 

*****

Posting Komentar