Iran-Israel, Benci Tapi Rindu

Table of Contents

Oleh: Achmad Ilyas, mantan sekjen HMI MPO

Iran kerap diposisikan sebagai musuh ideologis utama Israel. Retorika anti-Israel menjadi bagian tak terpisahkan dari pidato politik, doktrin militer, hingga propaganda regional Teheran. Namun ketika konflik benar-benar memanas, tindakan Iran justru memunculkan tanda tanya besar.

Iran disebut memiliki sekitar 50 ribu stok rudal serta puluhan ribu drone kamikaze, sebuah kapasitas militer yang jika digunakan secara penuh dan terfokus, sangat berpotensi menciptakan kerusakan serius bagi Israel. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Persenjataan itu tidak diarahkan secara masif ke Israel, melainkan tersebar ke berbagai negara di kawasan, dengan dalih menyasar kepentingan dan pangkalan militer Amerika Serikat.

Masalahnya, sebelum eskalasi konflik terjadi, berbagai laporan media internasional sudah menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah memindahkan sebagian pasukan dan peralatan militernya dari sejumlah pangkalan di negara-negara Arab. Dengan kata lain, banyak target yang kemudian diserang Iran namun sejatinya telah kehilangan nilai strategis.

Pertanyaannya menjadi sangat mendasar:

Jika tujuan Iran adalah memberikan pukulan telak kepada Israel, mengapa tidak memusatkan puluhan ribu rudal dan drone kamikaze itu langsung ke wilayah Israel?. Mengapa justru menghamburkan amunisi mahal ke sasaran yang secara militer sudah dikosongkan?.

Di sinilah konflik Iran–Israel tampak paradoksal. Retorika permusuhan dibangun setinggi mungkin, tetapi praktik militernya justru penuh pembatasan. Seolah-olah ada garis tak tertulis yang tidak boleh dilanggar, bahwa konflik harus cukup panas saja untuk menjaga citra perlawanan, tetapi tidak boleh brutal untuk benar-benar menghancurkan lawan.

Situasi ini mengisyaratkan bahwa konflik tersebut bukan semata soal kehancuran militer, melainkan juga tentang *manajemen musuh*. Israel tetap dibutuhkan sebagai simbol perlawanan, sementara Iran tetap memerlukan Israel sebagai legitimasi ideologis untuk pengaruh regionalnya.

Karena itu, konflik ini sering tampak lebih mirip pertunjukan atau drama geopolitik ketimbang perang yang sebenarnya. Ancaman besar dilontarkan, senjata canggih dipamerkan, tetapi penggunaannya selalu terukur dan setengah hati.

Mungkin saja, hubungan Iran dan Israel terasa seperti relasi yang ganjil; keras dalam kata-kata, tapi penuh batas dalam tindakan,

Ini sebuah konflik yang layak disebut *benci tapi rindu*.


*****

Posting Komentar