Jejak yang Memanggil dari Dua Warisan
Oleh: Arman Arfah
Perbincangan tentang Iran itu selalu datang seperti gema lama yang tak pernah benar-benar hilang. Ia mengetuk pelan di ruang ingatan, lalu menjelma menjadi lorong sunyi yang membawa saya kembali ke sebuah rumah milik almarhum Andi Azikin Lantara. Di sanalah, pada masa muda yang masih dipenuhi dahaga pencarian, kami duduk melingkar dalam pengajian yang terasa teduh, namun diam-diam dianggap asing oleh lingkungan sekitar.
Pengajian itu tidak riuh, tidak pula populer. Ia berjalan dalam suasana yang nyaris eksklusif, bukan karena ingin memisahkan diri, tetapi karena cara belajarnya yang tidak lazim. Ayat-ayat Al-Qur’an dibuka dengan hati-hati, hadis-hadis ditelusuri dengan ketekunan, lalu sang guru mengurai maknanya perlahan, seolah sedang membedah lapisan demi lapisan cahaya yang tersembunyi di balik kata-kata.
Namun, di luar lingkaran kecil itu, kami diberi label. Tertuduh disebut sebagai “kelompok Islam Jamaah”, sebuah istilah yang pada masa itu kerap dibalut kecurigaan. Ada jarak yang tumbuh, bukan karena merasa berbeda. Akan tetapi karena metode yang ditempuh dianggap asing. Kami belajar dengan cara manqul, menyandarkan pemahaman kepada sanad, terhadap mata rantai ilmu yang bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah perjalanan itu, justru berjumpa satu kenyataan yang menampar kesadaran. Betapa miskinnya kami dalam memahami agama yang diyakini sendiri. Kesadaran itulah menjadikan agar tetap bertahan, bukan untuk mencari pembenaran, tetapi mencari kebenaran. Meskipun harus berjalan di jalan yang sunyi.
Suatu hari, dalam satu majelis yang terasa lebih hening dari biasanya, sang guru mengangkat sebuah hadis yang begitu dikenal, namun ternyata menyimpan kedalaman yang belum pernah kami sentuh sepenuhnya :
> تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, ialah Kitabullah dan Sunnahku".
Hadis ini dikenal luas dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, diriwayatkan dalam beberapa jalur, di antaranya oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa’. Ia sering dikaitkan dengan pesan-pesan akhir Rasulullah SAW, kepada umatnya. Wasiat peradaban agar umat tidak tercerai dari sumber utama petunjuk.
Namun, belum selesai kami mencerna makna itu, sang guru melanjutkan dengan hadis lain yang terasa serupa, tetapi sekaligus berbeda. Kali ini nadanya lebih dalam, seolah menyentuh wilayah yang lebih batin :
> إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ، مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي
“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat (mulia), jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya, ialah Kitabullah dan keturunanku (Ahlul Baitku)".
Hadis ini dikenal sebagai Hadis Tsaqalain, diriwayatkan dalam banyak kitab hadis, termasuk Shahih Muslim, dari sahabat Zaid bin Arqam. Nabi Muhammad SAW dalam beberapa kesempatan, di antaranya di Ghadir Khum setelah Haji Wada’. Ia bukan sekadar pesan, tetapi penegasan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Ahlul Bait sebagai penjaga makna dan kesinambungan nilai.
Dua hadis itu, di mata kami yang masih belajar, sempat tampak seperti dua arah yang berbeda. Seolah-olah satu menunjuk ke Sunnah, sementara yang lain menunjuk ke Ahlul Bait. Tetapi semakin dalam kami merenung, semakin terasa bahwa keduanya bukanlah pertentangan, melainkan dua sisi dari satu cahaya yang sama.
Al-Qur’an adalah wahyu yang terjaga. Sunnah adalah penjelasnya dalam tindakan dan ucapan Nabi. Sementara Ahlul Bait adalah penjaga nilai yang hidup, mewarisi bukan hanya teks, tetapi juga ruh dari ajaran itu. Jika Sunnah adalah penjabaran, maka Ahlul Bait adalah kesinambungan rasa dan makna. Di situlah kami mulai memahami, bahwa menjaga agama bukan hanya soal teks, tetapi juga soal siapa yang membawa dan merawatnya dalam sejarah.
Dari sanalah, perjalanan kami berubah arah. Pengajian tidak lagi sekadar menjadi ruang belajar, tetapi menjadi awal dari sebuah pengembaraan batin. Kami mulai bertanya dengan jujur, di manakah jejak Ahlul Bait itu berlanjut? Di jalur mana sejarah menjaga mereka? Bagaimana agar cahaya itu sampai kepada kita hari ini? Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kami melintasi buku-buku, diskusi panjang hingga perdebatan yang sering kali lebih emosional daripada rasional. Namun, semakin jauh kami melangkah, satu nama terus muncul seperti panggilan yang tidak bisa diabaikan itulah "Karbala".
Karbala bukan sekadar tempat, tapi pengejawantahan luka sejarah yang tidak pernah benar-benar kering. Di sana, cucu Rasulullah, Husain bin Ali, berdiri dalam kesunyian yang agung, menghadapi kekuasaan yang menuntut legitimasi tanpa kebenaran. Peristiwa Tragedi Karbala bukan hanya tentang peperangan yang tidak seimbang. Sekaligus penegasan bahwa kebenaran tidak selalu menang dalam jumlah, tetapi selalu hidup dalam makna. Husain tidak mewarisi pedang, tetapi mewarisi prinsip, tidak mencari kemenangan dunia, tetapi menjaga kemurnian risalah.
Di situlah kami mulai mengerti, bahwa Ahlul Bait bukan sekadar garis keturunan. Mereka adalah garis keberanian dalam memaknai tafsir kehidupan. Terhadap ajaran Nabi yang ketika teks mulai ditarik ke berbagai kepentingan, iya kukuh berdiri sebagai penunjuk arah yang jernih. Pengembaraan itu tidak serta-merta memberi jawaban yang selesai. Justru ia membuka lebih banyak ruang perenungan. Wujud pembelajaran bahwa kebenaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah diterima. Kadang datang sebagai kegelisahan, sesekali hadir sebagai pertanyaan yang tidak kunjung menemukan ujung.
Namun satu hal yang pasti, dari rumah itulah pengajian yang dulu dianggap asing, menjelma menjadi awal babak perjalanan yang tidak akan pernah benar-benar berakhir.
Pengembaraan dalam mengejar warisan Nabi, bukan hanya sebagai teks yang dibaca, tetapi sebagai cahaya yang harus dijaga. Dari setiap langkah itu, Karbala selalu hadir sebagai pengingat. Bahwa iman bukan hanya tentang apa yang diyakini, tetapi juga tentang apa yang berani diperjuangkan, meski harus berjalan sendiri di tengah sunyi.
28 Maret 2026
Catatan Reflektif
Arman Arfah
.jpg)
Posting Komentar