Ketika Syahid Menjadi Cita Tertinggi

Table of Contents


Oleh: Arman Arfah

Renungan tentang Persia, Perang dan Kematian yang Dimuliakan

Siang itu, selepas salat Jumat di Masjid Al-Markaz Al-Islami, pertemuan di serambi masjid berubah menjadi diskusi yang mengalir jauh melampaui batas ruang dan waktu. Tema yang semula terdengar umum, "Menjaga arah umat di tengah gelombang perubahan", perlahan membawa kami memasuki wilayah yang lebih dalam : geopolitik, sejarah peradaban dan makna kematian dalam pandangan suatu bangsa.

Hadir dalam diskusi itu beberapa tokoh yang mencoba membaca dunia dari sudut pandang yang berbeda. Prof. DR. Qasim Mathar membuka percakapan dengan satu pandangan yang terasa provokatif sekaligus filosofis. Menurutnya, dalam konfigurasi sejarah dunia, perang sering kali justru menjadi rahim bagi lahirnya peradaban. Sejarah manusia menunjukkan bahwa banyak peradaban besar lahir dari benturan yang keras. Dari konflik yang memaksa manusia menemukan bentuk baru dari kehidupan kolektifnya.

Perang, dalam perspektif itu, bukan hanya peristiwa militer. Ia adalah momen ketika sejarah dipaksa bergerak lebih cepat. Dalam bahasa filsafat sejarah, benturan sering kali menjadi energi yang mendorong transformasi peradaban. Dalam benturan itu manusia dipaksa menata ulang makna hidupnya: tentang kekuasaan, tentang identitas dan tentang tujuan kolektif sebuah bangsa.

Perspektif itu mengingatkan kita pada perjalanan panjang peradaban Persia. Bangsa yang kini kita kenal sebagai Iran bukanlah bangsa yang lahir kemarin sore dalam peta sejarah dunia. Ia adalah pewaris dari salah satu peradaban tertua di bumi. Peradaban Persia yang sejak masa Kekaisaran Achaemenid telah membentang dari Asia Tengah hingga ke jantung Mediterania. Dalam tradisi Persia kuno terdapat gagasan yang sangat kuat tentang kehormatan, keberanian dan kesetiaan kepada tanah air. Nilai-nilai itu kemudian berkelindan dengan tradisi spiritual Islam ketika wilayah Persia menjadi bagian dari dunia Islam.

Filsuf-filsuf Persia seperti Ibn Sina dan Suhrawardi pernah membangun tradisi pemikiran yang mencoba menyatukan rasionalitas dengan cahaya spiritualitas. Dalam tradisi itu, kehidupan manusia bukan sekadar perjalanan biologis. Ia adalah perjalanan menuju kesempurnaan jiwa. Dan dalam kondisi tertentu, kematian bahkan dapat dipahami sebagai gerbang menuju keabadian nilai.

Diskusi kemudian bergerak ke arah yang lebih sosiologis ketika Sawedi Muhammad meminjam gagasan dari buku Way of the Nation Fight karya Richard Ned Lebow. Dalam analisis Lebow, perang sering kali lahir dari tiga dorongan utama. Pencarian status, dorongan keamanan dan emosi kolektif seperti dendam atau harga diri nasional. Perang dalam perspektif itu bukanlah anomali sejarah. Ia justru bagian dari dinamika manusia sejak awal peradaban.

Sejarah bahkan mencatat bahwa konflik pertama dalam kisah manusia bermula dari tragedi antara dua anak Adam. Peristiwa Habil dan Qabil yang sering dibaca sebagai simbol awal pertumpahan darah manusia. Namun perang tidak selalu hanya menghancurkan infrastruktur. Ia juga berusaha menghancurkan sesuatu yang lebih dalam: semangat suatu bangsa. Karena sebuah bangsa sesungguhnya tidak runtuh hanya ketika kotanya hancur, tetapi ketika keyakinan hidup rakyatnya runtuh.

Lalu diskusi berkembang melintasi ruang, menyentuh Iran. Muhammad Adlani mencoba mengurai bagaimana Iranian Revolution mengubah wajah bangsa Persia secara radikal. Revolusi itu bukan hanya pergantian kekuasaan dari monarki kepada republik. Merupakan transformasi kesadaran kolektif. Setelah revolusi, Iran melakukan referendum besar untuk menentukan arah negara. Apakah akan menjadi negara Islam, negara demokrasi sekuler atau negara sosialis. Hasilnya sangat jelas. Mayoritas rakyat Iran memilih negara Islam. Pilihan itu tidak lahir dari ruang kosong.

Ia lahir dari tradisi panjang yang membentuk cara pandang masyarakat Iran tentang kehidupan, pengorbanan dan kematian. Dalam budaya revolusioner Iran, konsep syahid memiliki tempat yang sangat tinggi. Bagi sebagian besar masyarakat Iran, syahid bukan sekadar kematian di medan perang.

Menjelma dalam puncak pengabdian seorang manusia kepada Tuhan dan tanah airnya. Kesyahidan dipahami sebagai bentuk kematian yang agung. Kematian yang tidak dilihat sebagai akhir kehidupan, tetapi sebagai gerbang menuju kemuliaan di hadapan Sang Pencipta. Dalam pandangan seperti itu, rasa takut terhadap kematian berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Ia berubah menjadi keberanian untuk mempertahankan prinsip hidup. Bagi mereka, kematian di jalan yang diyakini benar bukanlah tragedi tapi bentuk kehormatan. Di titik ini, perang tidak lagi hanya dipahami sebagai konflik geopolitik semata. Menjadi benturan peradaban. Satu peradaban yang mencoba mempertahankan identitas dan prinsip hidupnya berhadapan dengan konfigurasi kekuatan global yang memiliki kepentingan geopolitik yang berbeda. Dalam perspektif itu, Iran sering dipahami oleh sebagian pengamat sebagai negara yang mencoba menggagas bentuk peradaban alternatif. Peradaban yang secara umum berusaha mempertahankan nilai kemanusiaan dan secara khusus dibingkai oleh nilai-nilai Islam.

Di sinilah narasi tentang konflik Timur Tengah menjadi sangat kompleks. Perdebatan teologis sering kali bercampur dengan propaganda politik. Bahkan isu tentang identitas mazhab sering digunakan sebagai alat untuk memecah belah umat. Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa peradaban Islam selama berabad-abad dibangun oleh keragaman pemikiran dan tradisi intelektual.

Diskusi siang itu akhirnya membawa kita pada satu kesadaran yang lebih luas. Bahwa perang tidak pernah hanya tentang senjata. Ia juga tentang makna hidup yang diyakini oleh sebuah bangsa. Tentang nilai-nilai yang ingin mereka pertahankan. Tentang bagaimana mereka memandang kehidupan dan kematian. Bagi sebagian bangsa, kematian adalah sesuatu yang harus dihindari sejauh mungkin. Namun bagi bangsa yang memiliki tradisi spiritual yang kuat, kematian dapat dipandang sebagai jalan menuju kehormatan.

Di titik itulah konsep syahid menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan sekadar kematian.

Ia adalah pernyataan bahwa ada nilai yang lebih tinggi daripada sekadar bertahan hidup. Dan bagi sebagian bangsa yang telah lama ditempa oleh sejarah panjang peradaban, nilai itu sering kali menjadi sumber daya tahan yang tidak mudah dipatahkan oleh kekuatan apa pun. Karena pada akhirnya, sejarah menunjukkan satu pelajaran yang sederhana namun sering dilupakan. Sebuah bangsa tidak pernah benar-benar dikalahkan ketika rakyatnya masih memiliki keyakinan tentang makna hidup dan kematian.

14 Maret 2026

Catatan Reflektif 

Arman Arfah

Posting Komentar