Ketika Tafsir Setan, Mengaku Wahyu

Table of Contents

Penyunting: Husein Mukhsin Al Habsyi dan Djamaluddin Karim

Perdebatan, perpecahan, bahkan saling menegasikan antar aliran dalam agama sering dianggap sebagai konsekuensi yang wajar dari perbedaan penafsiran. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar; apakah semua perbedaan itu benar-benar lahir dari wahyu, atau justru dari sesuatu yang menyusup di antara wahyu dan manusia?

 Al-Qur’an memberi peringatan yang tegas sekaligus subtil (suatu yang bekerja samar). Dalam (QS. Al-Hajj/22:52)

 

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّآ اِذَا تَمَنّٰىٓ اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْٓ اُمْنِيَّتِهٖۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ

 

52. Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan (godaan-godaan) ke dalam keinginannya itu. Lalu, Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah memantapkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”,

 

Ayat ini menetegaskan bahwa setiap rasul, ketika menyampaikan wahyu Allah swt, tidak luput dari upaya setan yang “menyisipkan” sesuatu ke dalamnya. Namun, Allah segera menghapus ayat-ayat setan itu dan memurnikan kembali ayat-ayat-Nya. Artinya, wahyu tetap terjaga, tetapi ruang penerimaan manusia tidak pernah steril dari godaan setan.

 

Di titik inilah persoalan bermula.

 

Wahyu turun dalam keadaan murni, tetapi setelah risalah kenabian, melewati manusia biasa, makhluk yang membawa kepentingan, emosi, dan kecenderungan subjektif. Pada ruang inilah setan bekerja, tidak mengubah wahyu, tetapi mengganggu cara manusia memahaminya. Setan tidak datang dengan kebohongan yang kasar, melainkan dengan kebenaran yang dibelokkan secara halus, pelan dan pasti.

 

Al-Qur’an menggambarkan secara tajam tipe manusia seperti ini. Dalam QS. Al-Baqarah/2:204-205)

 

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ

 

204. Di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia adalah penentang yang paling keras.

 

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

 

205. Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.

 

Kedua Ayat tersebut diatas, menegaskan bahwa; ada orang yang ucapannya memukau, mengagumkan, bahkan bersumpah atas nama Allah untuk meyakinkan, padahal ia adalah penentang yang paling keras dan pembuat kerusakan. Kebenaran diucapkan, tetapi digunakan untuk tujuan yang yang lain.

 

Lebih jauh lagi, dalam (QS. Al-An’am/6:112)

 

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ

 

112. Demikianlah (sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh) Kami telah menjadikan (pula) bagi setiap nabi musuh yang terdiri atas setan-setan (berupa) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka, tinggalkan mereka bersama apa yang mereka ada-adakan (kebohongan).

 

Ayat ini menegaskan, bahwa setan tidak hanya bekerja secara gaib, tetapi juga melalui manusia nyata. Disebutkan adanya “setan-setan” dari jenis manusia dan jin yang saling membisikkan perkataan indah untuk menipu.

 

Ayat ini membuka satu realitas; bahwa penyesatan paling berbahaya justru hadir dalam bentuk bahasa yang tampak benar, bahkan religius. Dengan kata lain, tidak semua yang terdengar seperti kebenaran benar-benar berasal dari kebenaran.

 

Di sinilah garis pemisah antara wahyu dan tafsir menjadi krusial. Wahyu bersumber dari Yang Maha Benar, tetapi tafsir adalah produk manusia yang bisa dipengaruhi oleh setan yang menyusup dalam berbagai selera dan kepentingan manusia, Materi, Pengaruh, ideologi dan ambisi kekuasaan. 


Ketika tafsir mulai dibungkus dengan klaim absolut, di situlah potensi penyimpangan semakin besar.

 

Sejarah agama memperlihatkan pola yang berulang. Perbedaan tafsir yang semula wajar berkembang menjadi klaim kebenaran yang saling meniadakan. Setiap kelompok merasa paling otentik, sementara yang lain dianggap menyimpang, bahkan sesat. Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan dalil yang sama.

 

Jika wahyu itu satu, mengapa tafsirnya bisa saling bertentangan secara tajam?

Al-Qur’an seakan memberi jawabannya; karena ada “suara lain”, suara setan yang ikut berbicara dalam ruang tafsir manusia. Suara itu tidak selalu datang sebagai penolakan terhadap wahyu, tetapi justru sebagai penafsiran yang di belokkan namun tampak seolah sah. Setan menyusup, bukan menabrak. Setan memperindah, bukan merusak secara terang-terangan.

 

Lebih berbahaya lagi, suara setan ini sering kali dilembagakan. Diajarkan, diwariskan, dan akhirnya dianggap sebagai bagian dari kebenaran itu sendiri. Ketika ini terjadi, manusia tidak lagi mampu membedakan *mana wahyu* dan *mana tafsir* yang telah terkontaminasi ajaran setan.


Di titik inilah agama menghadapi ujian terbesarnya; bukan dari serangan eksternal, tetapi dari distorsi internal yang terus menyusup dan luput disadari. Dengan menyadari kemungkinan adanya “penyusupan setan” dalam tafsir bukan berarti meragukan wahyu. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk penghormatan terhadap kemurnian wahyu itu sendiri.

 

Yang perlu diuji bukan firman Tuhan, melainkan cara manusia memahaminya. Kesadaran ini menuntut kerendahan hati intelektual. Bahwa tidak semua yang terdengar indah itu benar. Bahwa tidak semua yang mengatasnamakan Tuhan benar-benar mewakili kehendak-Nya.

 

Pada akhirnya, menjaga agama bukan hanya soal mempertahankan teks, tetapi merawat kejernihan dalam memahaminya. Sebab wahyu tidak pernah keliru, tetapi manusia bisa saja tergelincir, menyerap bisikan setan saat merasa paling memahaminya.

 

Mungkin karena itulah, yang paling mendekati kebenaran bukanlah mereka yang paling keras mengklaimnya, melainkan mereka yang tetap menyisakan ruang untuk ragu, untuk menguji, dan untuk terus membersihkan hatinya dari kemungkinan bisikan setan yang tidak disadari.


Wallahu a'alam bissawab'

*****

Posting Komentar