Ketika Tafsir Setan, Mengaku Wahyu
Perdebatan, perpecahan, bahkan saling menegasikan antar aliran dalam agama sering dianggap sebagai konsekuensi yang wajar dari perbedaan penafsiran. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar; apakah semua perbedaan itu benar-benar lahir dari wahyu, atau justru dari sesuatu yang menyusup di antara wahyu dan manusia?
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ
رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّآ اِذَا تَمَنّٰىٓ اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْٓ
اُمْنِيَّتِهٖۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ
اللّٰهُ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ
52. Kami tidak mengutus seorang
rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali apabila dia mempunyai suatu
keinginan, setan pun memasukkan (godaan-godaan) ke dalam keinginannya itu.
Lalu, Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, kemudian Allah memantapkan
ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”,
Ayat ini menetegaskan bahwa setiap
rasul, ketika menyampaikan wahyu Allah swt, tidak luput dari upaya setan yang “menyisipkan”
sesuatu ke dalamnya. Namun, Allah segera menghapus ayat-ayat setan itu dan
memurnikan kembali ayat-ayat-Nya. Artinya, wahyu tetap terjaga, tetapi ruang
penerimaan manusia tidak pernah steril dari godaan setan.
Di titik inilah persoalan bermula.
Wahyu turun dalam keadaan murni,
tetapi setelah risalah kenabian, melewati manusia biasa, makhluk yang membawa
kepentingan, emosi, dan kecenderungan subjektif. Pada ruang inilah setan
bekerja, tidak mengubah wahyu, tetapi mengganggu cara manusia memahaminya.
Setan tidak datang dengan kebohongan yang kasar, melainkan dengan kebenaran
yang dibelokkan secara halus, pelan dan pasti.
Al-Qur’an menggambarkan secara tajam
tipe manusia seperti ini. Dalam QS. Al-Baqarah/2:204-205)
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ
قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ
وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
204. Di antara manusia ada yang
pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Nabi Muhammad) dan
dia menjadikan Allah sebagai saksi atas (kebenaran) isi hatinya. Padahal, dia
adalah penentang yang paling keras.
وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ
الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
205. Apabila berpaling (dari engkau atau
berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak
tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.
Kedua Ayat tersebut diatas, menegaskan bahwa; ada orang yang ucapannya memukau, mengagumkan, bahkan bersumpah atas nama Allah untuk
meyakinkan, padahal ia adalah penentang yang paling keras dan pembuat
kerusakan. Kebenaran diucapkan, tetapi digunakan untuk tujuan yang yang lain.
Lebih jauh lagi, dalam (QS. Al-An’am/6:112)
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ
عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ
زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ
وَمَا يَفْتَرُوْنَ
112. Demikianlah (sebagaimana Kami menjadikan
bagimu musuh) Kami telah menjadikan (pula) bagi setiap nabi musuh yang terdiri
atas setan-setan (berupa) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu
menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka, tinggalkan mereka
bersama apa yang mereka ada-adakan (kebohongan).
Ayat ini menegaskan, bahwa setan tidak
hanya bekerja secara gaib, tetapi juga melalui manusia nyata. Disebutkan adanya
“setan-setan” dari jenis manusia dan jin yang saling membisikkan perkataan
indah untuk menipu.
Ayat ini membuka satu realitas; bahwa penyesatan paling berbahaya justru hadir dalam bentuk
bahasa yang tampak benar, bahkan religius. Dengan kata lain, tidak semua yang
terdengar seperti kebenaran benar-benar berasal dari kebenaran.
Di sinilah garis pemisah antara wahyu dan tafsir menjadi krusial. Wahyu bersumber dari Yang Maha Benar, tetapi tafsir adalah produk manusia yang bisa dipengaruhi oleh setan yang menyusup dalam berbagai selera dan kepentingan manusia, Materi, Pengaruh, ideologi dan ambisi kekuasaan.
Ketika tafsir mulai dibungkus dengan klaim
absolut, di situlah potensi penyimpangan semakin besar.
Sejarah agama memperlihatkan pola
yang berulang. Perbedaan tafsir yang semula wajar berkembang menjadi klaim
kebenaran yang saling meniadakan. Setiap kelompok merasa paling otentik,
sementara yang lain dianggap menyimpang, bahkan sesat. Ironisnya, semua itu
sering dibungkus dengan dalil yang sama.
Jika wahyu itu satu, mengapa
tafsirnya bisa saling bertentangan secara tajam?
Al-Qur’an seakan memberi jawabannya;
karena ada “suara lain”, suara setan yang ikut berbicara dalam ruang tafsir
manusia. Suara itu tidak selalu datang sebagai penolakan terhadap wahyu, tetapi
justru sebagai penafsiran yang di belokkan namun tampak seolah sah. Setan menyusup,
bukan menabrak. Setan memperindah, bukan merusak secara terang-terangan.
Lebih berbahaya lagi, suara setan ini
sering kali dilembagakan. Diajarkan, diwariskan, dan akhirnya dianggap sebagai
bagian dari kebenaran itu sendiri. Ketika ini terjadi, manusia tidak lagi mampu
membedakan *mana wahyu* dan *mana tafsir* yang telah terkontaminasi ajaran setan.
Di titik inilah agama menghadapi ujian terbesarnya; bukan dari serangan eksternal, tetapi dari distorsi internal yang terus menyusup dan luput disadari. Dengan menyadari kemungkinan adanya “penyusupan setan” dalam tafsir bukan berarti meragukan wahyu. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk penghormatan terhadap kemurnian wahyu itu sendiri.
Yang perlu diuji bukan firman Tuhan,
melainkan cara manusia memahaminya. Kesadaran ini menuntut kerendahan hati
intelektual. Bahwa tidak semua yang terdengar indah itu benar. Bahwa tidak
semua yang mengatasnamakan Tuhan benar-benar mewakili kehendak-Nya.
Pada akhirnya, menjaga agama bukan hanya soal
mempertahankan teks, tetapi merawat kejernihan dalam memahaminya. Sebab wahyu
tidak pernah keliru, tetapi manusia bisa saja tergelincir, menyerap bisikan setan saat
merasa paling memahaminya.
Mungkin karena itulah, yang paling mendekati kebenaran
bukanlah mereka yang paling keras mengklaimnya, melainkan mereka yang tetap
menyisakan ruang untuk ragu, untuk menguji, dan untuk terus membersihkan
hatinya dari kemungkinan bisikan setan yang tidak disadari.
Wallahu a'alam bissawab'
*****

Posting Komentar