Ketika Tuhan Tidak Berpihak pada Identitas Iman: Pelajaran Koresh, Zulkarnain dan Palestina Hari Ini

Table of Contents


Penyunting: Ridwan Kara dan Sophian Kasim

Salah satu sumber paling berbahaya dalam konflik modern bukan semata senjata atau kekuatan militer, melainkan klaim religius yang merasa paling sah mewakili Tuhan. Ketika agama berubah dari sumber etika menjadi alat legitimasi kekuasaan, maka kekerasan tak lagi dianggap kejahatan, melainkan “perintah suci”.

Di titik inilah kisah Koresh Agung dan figur Zulkarnain menjadi relevan, bukan sebagai romantisme sejarah, melainkan sebagai kritik keras terhadap eksklusivisme agama modern, termasuk dalam konflik Palestina-Israel hari ini.

Tuhan Memilih tidak Berdasarkan Identitas Iman (Agama)

Dalam Kitab Perjanjian Lama, Koresh adalah paradoks teologis. Dia bukan penganut Yudaisme, tidak mengenal Tuhan YHWH, dan tidak hidup dalam hukum Taurat, tidak beriman kepada Nabi Musa. Namun justru kepadanyalah Tuhan menitipkan mandat besar; membebaskan bangsa Yahudi dari pembuangan di Babilonia.

Koresh sang Raja Persia, bahkan disebut sebagai yang diurapi, sebuah istilah yang biasanya dilekatkan pada raja atau nabi umat pilihan. Pesannya tegas dan mengganggu:
Tuhan tidak bekerja berdasarkan identitas iman formal, melainkan berdasarkan fungsinya menegakkan nilai keadilan.

Dengan kata lain, Tuhan tidak menunggu seseorang “se-iman” untuk menjalankan kehendak-Nya, tapi Tuhan bekerja melalui siapa pun yang bersedia menghentikan penindasan.

Zulkarnain dan Etika Kekuasaan

Pesan serupa muncul dalam Al-Qur’an melalui figur Zulkarnain. Al-Qur’an tidak menjelaskan afiliasi agamanya secara rinci. Yang ditekankan justru sikapnya terhadap kekuasaan; ia tidak menganggapnya sebagai hak ilahi yang melekat pada dirinya, melainkan sebagai amanah yang dibatasi oleh perwujudan nilai keadilan.

Zulkarnain dihormati bukan karena identitas agama, tetapi karena kesadarannya bahwa kekuasaan harus melindungi yang lemah dan membatasi kezaliman. Ia tidak membangun tembok atas nama superioritas iman, melainkan untuk mencegah kerusakan.

Di sini, wahyu memberi garis tegas:
bahwa iman tanpa keadilan tidak memiliki nilai moral di hadapan Tuhan.

Dari Tanah yang Dijanjikan ke Tanah yang Diperebutkan

Koresh (Raja Persia) mempersilakan bangsa Yahudi kembali ke Tanah Kanaan, wilayah yang dalam bahasa iman disebut tanah yang dijanjikan atau al-ard al-muqaddasah. Namun dalam logika wahyu, kembalinya umat bukanlah lisensi untuk menindas yang lain.

Berabad-abad kemudian, wilayah yang sama dikenal sebagai Palestina, tanah yang kini menjadi medan konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Ironisnya, narasi agama yang dulu membela kaum tertindas, hari ini kerap dipakai untuk membenarkan penindasan baru.

Di sinilah terjadi pembalikan moral:
agama yang seharusnya mengekang kekuasaan, justru dijadikan alat untuk menghalalkannya.

Eksklusivisme Agama dan Krisis Nurani

Eksklusivisme agama modern bekerja dengan logika sederhana namun berbahaya;
karena kami dipilih Tuhan, maka tindakan kami selalu benar.

Logika inilah yang menghancurkan pesan Koresh dan Zulkarnain. Dalam kisah suci, tanah tidak pernah diberikan tanpa syarat moral. Kekuasaan tidak pernah dilepaskan dari keadilan. Dan Tuhan tidak pernah bisa diklaim sepihak oleh satu identitas.

Ketika klaim religius digunakan untuk menyingkirkan hak hidup orang lain, maka yang dipertahankan bukan iman, melainkan dominasi, hawa nafsu dan ego.

Tuhan yang Menilai Tindakan, Bukan Klaim

Kisah Koresh dan Zulkarnain mengajarkan satu pelajaran mendasar yang sering diabaikan dalam konflik Palestina–Israel hari ini:
Tuhan tidak berpihak pada siapa yang paling lantang mengutip kitab suci, tetapi pada siapa yang menegakkan keadilan.

Jika Tuhan bisa bekerja melalui raja asing yang tidak se-iman, maka tidak ada satu bangsa, satu negara, atau satu kelompok agama pun yang berhak memonopoli kehendak-Nya.

Wahyu, pada akhirnya, bukan alat legitimasi kekuasaan tapi adalah cermin nurani dan di hadapan cermin itu, yang diuji bukan identitas iman, melainkan keberpihakan kita pada kemanusiaan dan keadilan.

*****

Posting Komentar