Kores, Zulkarnain: Raja Persia Mengemban Misi Kenabian, Membawa Pulang Bani Israel ke Tanahnya
Penyunting: Ryu Midun
Sejarah keagamaan sering dibaca dengan kacamata hitam-putih; nabi di satu sisi, penguasa duniawi di sisi lain; iman berhadapan dengan politik; wahyu berseberangan dengan kekuasaan. Namun kitab-kitab suci justru menyimpan kisah yang lebih rumit dan karena itu lebih manusiawi. Salah satunya tentang Kores raja Persia, yang membuka jalan bagi kembalinya Bani Israel ke tanah yang dijanjikan, tanah Kanaan, tanah yang disucikan.
Dalam Kitab Yesaya, Tuhan menyebut Kores sebagai yang diurapi (masias); sebuah istilah yang lazimnya hanya dilekatkan pada raja Israel atau figur suci.
“Beginilah firman TUHAN kepada yang diurapi-Nya, kepada Kores,” demikian bunyi Yesaya 45:1. Sebuah pernyataan yang mengejutkan, mengingat Kores bukan Yahudi dan tidak hidup dalam tradisi Taurat.
Namun justru melalui dirinya, sejarah berbelok. Kores menaklukkan Babilonia dan mengeluarkan dekret yang membebaskan bangsa Israel dari pembuangan. Mereka diizinkan pulang, membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci, serta kembali ke Tanah Kanaan, tanah yang sejak lama disebut sebagai tanah perjanjian (Ezra 1:1-4; 2 Tawarikh 36:22–23). Alkitab bahkan menyebut Kores sebagai “gembala” Tuhan (Yesaya 44:28), sebuah metafora kepemimpinan yang sarat makna moral.
Di sini, pembebasan atas penindasan Bani Israel tidak datang dari nabi, melainkan dari seorang raja asing. Kores tidak menyampaikan wahyu, tetapi tindakannya menghadirkan keadilan dan pemulihan bagi bangsa Israel. Kores bukan nabi dalam arti formal, tetapi menjalankan misi kenabian; membebaskan kaum yang tertindas dan membuka jalan pulang bagi bangsa Israel yang tercerabut dari tanahnya (tanah Kanaan), tanah yang di janjikan, tanah yang disucikan Allah swt.
Menariknya, pola serupa muncul dalam tradisi Islam melalui kisah Zulkarnain dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi. Al-Qur’an tidak menyebut Zulkarnain sebagai nabi, tetapi menegaskan bahwa Allah memberinya kekuasaan dan petunjuk untuk menjalankan tugas besar di bumi (Al-Kahfi 18:84). Zulkarnain digambarkan sebagai penguasa yang adil, yang menghukum dengan proporsional dan memberi ganjaran kepada yang beriman (Al-Kahfi 18:87-88) serta melindungi manusia dari kerusakan (Al-Kahfi 18:94-98).
Sebagian mufasir klasik mengaitkan Zulkarnain dengan Kores di Persia. Terlepas dari benar tidaknya identifikasi historis tersebut, pesan teologisnya jelas; bahwa "Tuhan dapat mempercayakan misi besar kepada siapa pun yang Ia kehendaki", termasuk penguasa dunia yang tidak menyandang status kenabian.
Kisah Kores dan Zulkarnain menantang cara kita memahami peran agama dalam sejarah. Kisah ini menolak anggapan bahwa kehendak Tuhan hanya bekerja melalui jalur religius yang formal. Namun dalam dua kitab suci besar, justru seorang raja non-nabi tampil sebagai pelaksana kehendak ilahi bukan melalui mimbar, melainkan melalui kebijakan dan tindakan nyata.
Di tengah dunia yang kerap mempolitisasi agama dan mensucikan identitas, kisah ini menghadirkan cermin yang jernih. Nilai kenabian tidak semata diukur dari gelar atau klaim kesalehan, melainkan dari keberanian menegakkan keadilan dan memulihkan martabat manusia. Kores membuka jalan pulang bagi Bani Israel bukan karena dirinya bagian dari umat pilihan, melainkan karena ia dipilih oleh Tuhan untuk sebuah tugas.
"Mungkin" di sanalah pelajaran yang penting ditelaah; Tuhan tidak pernah kekurangan jalan untuk menepati janji-Nya. Kadang memilih jalan yang tak terduga melalui seorang raja asing untuk mengingatkan manusia bahwa iman sejati diuji bukan oleh identitas, melainkan oleh dampak nyata bagi sesama manusia.
*****
.jpg)
Posting Komentar