Mengapa Iran Mudah Ditembus Mossad

Table of Contents

Oleh: Achmad Ilyas, mantan sekjen HMI MPO 

Di panggung politik global, Iran dan Israel tampil sebagai dua musuh bebuyutan. Retorika keras sering terdengar dari kedua pihak. Dalam berbagai pidato resmi, Israel disebut sebagai musuh utama, sementara Israel memandang Iran sebagai ancaman strategis terbesar di kawasan Timur Tengah.

Namun jika kita menyingkap sedikit tirai retorika itu, kita akan menemukan sebuah ironi geopolitik yang menunjukkan kedua negara ini justru sudah terlalu lama saling mengenal.

Bahkan mungkin, terlalu akrab.

Hubungan keduanya tidak selalu dipenuhi permusuhan seperti yang terlihat sekarang. Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi, Iran justru memiliki hubungan yang cukup erat dengan Israel. Pada era itu, Iran menjadi salah satu negara Muslim yang menjalin hubungan strategis dengan Israel, baik dalam bidang perdagangan, militer, maupun intelijen.

Badan keamanan Iran saat itu, SAVAK, bahkan memiliki kerja sama pelatihan dengan badan intelijen Israel Mossad. Artinya, arsitektur keamanan Iran modern pada masa itu tidak sedikit dipengaruhi oleh pengalaman dan metode yang juga dikenal oleh intelijen Israel.

Ibarat sebuah rumah lama, meskipun pemiliknya telah berganti, rancangan pintu dan jendelanya masih sama. Orang yang dulu ikut membangun rumah itu tentu tahu di mana letak pintu belakang, bahkan mungkin tahu di mana kunci cadangannya disimpan.

Ketika Revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki dan melahirkan Republik Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini, arah politik Iran berubah secara drastis. Israel kemudian diposisikan sebagai musuh ideologis yang harus dilawan.

Namun dunia intelijen tidak bekerja berdasarkan slogan. Dunia intelijen bekerja dengan jaringan, arsip lama, dan hubungan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Hubungan semacam itu tidak serta-merta hilang hanya karena rezim berganti. Banyak jalur lama, baik jaringan bisnis, komunikasi informal, maupun relasi personal yang seringkali tetap hidup secara diam-diam.

Ironi lain bahkan pernah muncul dalam salah satu skandal geopolitik terbesar pada era Ronald Reagan, yaitu Iran Contra Affair. Pada masa itu, meskipun Iran secara terbuka mengecam Amerika Serikat dan Israel, tapi dalam praktiknya terjadi transaksi rahasia di mana senjata dari Amerika Serikat sampai ke Iran melalui perantara Israel.

Peristiwa tersebut memperlihatkan sesuatu hal yang sangat jelas bahwa dalam geopolitik, permusuhan di mimbar politik tidak selalu sama dengan hubungan yang terjadi di belakang layar.

Situasi menjadi semakin menarik ketika pecah Perang Iran-Irak antara Iran dan Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein. Dalam konflik tersebut, Israel melihat Irak sebagai ancaman yang lebih besar bagi keamanan kawasan dibanding Iran. Karena itu, dalam beberapa kesempatan Israel secara tidak langsung membantu suplai persenjataan bagi Iran.

Logika geopolitiknya berkata bahwa musuh dari musuh apa salahnya menjadi mitra sementara.

Karena sejarah panjang inilah muncul pertanyaan yang sering mengemuka di berbagai analisis keamanan; mengapa operasi intelijen Mossad sering tampak berhasil menembus wilayah Iran?

Jawaban yang paling masuk akal adalah; mungkin bukan semata-mata karena Iran lemah dalam keamanan. Tapi lebih tepat jika dikatakan bahwa "Israel memiliki pemahaman historis yang sangat mendalam" tentang struktur keamanan Iran.

Ditambah lagi, sistem keamanan Iran sendiri cukup kompleks, dengan berbagai lembaga seperti Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang memiliki peran besar di bidang militer, ekonomi, dan intelijen. Struktur yang kompleks seperti ini sering kali menciptakan ruang persaingan internal, birokrasi berlapis, dan celah koordinasi yang dapat dimanfaatkan oleh operasi intelijen asing.

Pada akhirnya, hubungan Iran dan Israel sebenarnya bukan hanya cerita tentang dua musuh yang saling membenci, namun lebih menyerupai kisah dua mantan sekutu yang berpisah secara dramatis, lalu berubah menjadi rival ideologis.

Mereka saling menyerang dalam pidato politik, saling mengancam dalam strategi militer, dan saling memata-matai dalam operasi intelijen.

Namun jauh di balik semua itu, keduanya mengetahui satu hal yang tidak selalu disadari publik adalah bahwa mereka pernah berjalan di jalur yang sama.

Dan dalam dunia intelijen, tidak ada senjata yang lebih tajam daripada pengetahuan lama tentang seorang musuh.

******

Posting Komentar