Palestina, Absen di Meja Tawar Iran

Table of Contents


Penyunting: Ryu Midun, wartawan anggota LAPMI

Pertanyaan singkat namun menusuk dilontarkan Ali Mukhtar Ngamabalin dalam sebuah talk show di Kompas TV pada 14 Maret 2026. Bang Ali panggilan akrabnya mempertanyakan, mengapa Iran yang secara terbuka mengajukan tiga syarat gencatan senjata kepada Amerika Serikat, tidak memasukkan kemerdekaan Palestina dalam syarat tersebut. Padahal selama puluhan tahun, pembebasan Palestina dijadikan slogan politik utama Republik Islam Iran.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memposisikan diri sebagai poros perlawanan terhadap Israel dan Barat. Dukungan terhadap Palestina diwujudkan melalui retorika keras, pendanaan dan bantuan kepada kelompok seperti Hamas. Palestina dijadikan simbol legitimasi moral, baik di panggung internasional maupun untuk konsumsi politik domestik.

Namun ketika konflik menyentuh kepentingan langsung Iran, serangan terhadap wilayahnya dan eskalasi dengan Amerika Serikat retorika itu menghilang. Tiga syarat gencatan senjata yang diumumkan Iran sepenuhnya berpusat pada kepentingan nasionalnya sendiri; pengakuan kedaulatan, pembayaran ganti rugi dan jaminan penghentian agresi di masa depan. Palestina tidak disebut sama sekali.

Absennya Palestina menyingkap  kontradiksi mendasar. Jika kemerdekaan Palestina benar-benar prinsip, maka momen negosiasi strategis justru menjadi kesempatan terkuat untuk dijadikan alat tawar. Namun ketika Iran tidak menjadikannya syarat, maka muncul kesan bahwa isu Palestina hanya berfungsi sebagai alat retorika dan mobilisasi politik, bukan agenda yang diperjuangkan secara serius, lagi pula pada saat resiko politiknya signifikan.

Pilihan sikap seperti ini membawa konsekuensi moral dan politis. Dengan menyingkirkan kemerdekaan Palestina dari meja perundingan, Iran mengirim pesan bahwa solidaritas ideologis bersifat kondisional saja, dengan kata lain bahwa issu Palestina hanyalah simbol yang digaungkan di atas mimbar, tetapi ditinggalkan dalam diplomasi yang nyata.

Seperti lazimnya, sejarah seringkali menunjukkan pola serupa; keberanian berbicara tidak selalu sejalan dengan keberanian bertindak. 

Dalam episode ini, Iran tampak memilih menyelamatkan kepentingan nasionalnya terlebih dahulu. Sikap itu mungkin rasional secara strategis, tetapi meninggalkan pertanyaan serius tentang konsistensi moral yang selama ini diklaimnya.

*****




Posting Komentar