PERANG IRAN–ISRAEL–AMERIKA: SEBUAH HIPOTESIS GEOPOLITIK

Table of Contents

Oleh: Juliadi

Perang Dunia II melahirkan satu konsekuensi besar, Amerika Serikat tampil sebagai pemenang utama yang kemudian menjelma menjadi negara adidaya. Dunia, dalam banyak aspek, tunduk pada arsitektur politik, ekonomi dan militernya. Lawan utamanya kala itu, Uni Soviet tapi sudah runtuh. Sejak saat itu, Amerika nyaris tak memiliki penyeimbang global yang setara.

Namun perlahan, meski masih “mungil”, muncul kembali kekuatan-kekuatan penantang seperti Rusia dan China. Meski hingga kini keduanya belum sepenuhnya mampu menandingi dominasi Amerika. Dalam konstelasi ini, Iran tampil sebagai proxy utama perlawanan terhadap hegemoni Amerika, dengan dukungan persenjataan dari Korea Utara, teknologi strategis Rusia, serta sokongan ekonomi China.

Puncak konsolidasi perlawanan ini terlihat dalam pembentukan BRICS. Namun, aliansi ini masih sarat keraguan dan kepentingan masing-masing negara anggotanya.

Iran sebagai Umpan Strategis

Dalam hipotesis ini, Iran digambarkan seperti “memancing ular keluar dari sarangnya”. Ketika Iran mengeluarkan taring militernya, itu justru menjadi legitimasi yang cukup bagi Amerika untuk bertindak. Karena di balik Iran, terdapat bayang-bayang Korea Utara, Rusia, dan China.

Di titik inilah, Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump, Pentagon dapat mengukur sejauh mana kekuatan “negara-negara mungil penantang” yang berani dan mampu melawan. 

Pertanyaan besarnya: apakah Amerika menilai bahwa kelompok ini bisa ditaklukkan, atau justru sedang menghitung risiko global yang lebih besar? Waktu akan menjawab.

Jika Amerika mampu melumat Iran, maka itu akan menjadi pesan keras bagi negara-negara BRICS lain yang mencoba mendelegitimasi status Amerika sebagai superpower global.

Amerika, Musuh dan Identitas Adidaya

Amerika menciptakan dan mempertahankan identitasnya sebagai negara adidaya melalui kekuatan militer. Karena itu, Amerika membutuhkan musuh. Rusia, Iran, negara-negara Amerika Latin, hingga China, diposisikan sebagai “lawan” demi menjaga narasi global tersebut.

Di Timur Tengah, Amerika “menciptakan” Israel sebagai perpanjangan tangannya. Kepentingan Amerika diterjemahkan oleh Israel, sementara Israel membangun lobi kuat baik politik maupun ekonomi di dalam negeri Amerika, termasuk pada industri persenjataan dan keuangan.

Akibatnya, Amerika kerap berada di bawah tekanan dua kekuatan internal; pemilik modal besar dan lobi politik Yahudi. Konsekuensinya terlihat jelas bahwa Amerika hampir selalu memenuhi kepentingan Israel, sembari membangun citra bahwa stabilitas Timur Tengah hanya bisa dijaga melalui kekuatan militer.

Iran: Aktor yang Tidak Bisa Diatur

Bagi Amerika, Iran adalah negara yang “keras kepala”. Upaya pendekatan langsung maupun melalui lobbi Israel, juga dengan upaya pencairan dana Iran yang sangat besar, namun semua upaya ini masih selalu gagal. Iran memilih strategi berbeda; membangun kekuatan tak langsung melalui milisi regional seperti Hamas, Hizbullah dan Houthi.

Milisi-milisi ini terus mengganggu rencana Amerika-Israel, memaksa Israel pada logika klasik: sebaik-baik pertahanan adalah menyerang. Visi Amerika sebagai “polisi dunia” diterjemahkan Israel melalui jalan perang.

Iran memahami logika ini. Perang, bagi Amerika, adalah bahan bakar industri militernya. Damai hanya diajukan oleh pihak yang lemah. Maka strategi Iran bukan perang cepat, melainkan perang panjang; menutup jalur bisnis vital Amerika, seperti Selat Hormuz, sambil menciptakan guncangan ekonomi global.

Perang sebagai Hipotesis, Bukan Kesimpulan

Amerika dan Israel membangun hipotesis bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, sehingga menurut mereka tidak ada pilihan lain selain menghancurkan Iran. Iran mengkonter narasi itu dengan sentimen ideologis dan religius; Amerika sebagai “setan besar” dan Israel sebagai “setan kecil”, Matilah Amerika dan Matilah Israel.

Agitasi ini dibangun kuat didalam Iran. Dalam skenario ekstrem, kota Teheran dan Tel Aviv sama-sama hancur. Dari titik ini, pihak yang lebih dulu menawarkan gencatan senjata adalah pihak yang merasa paling lemah.

Apakah itu Iran atau Amerika?

Perang baru memasuki minggu-minggu awal. Konstelasi global masih cair. Seperti dalam riset ilmiah, ini baru tahap hipotesis, belum kesimpulan. Sejarah punya kebiasaan menjadi hakim terakhir pada semua peristiwa.

*****

Posting Komentar