Perang: Wajah Setan dalam Diri Manusia
Tausiah: Habib Mukhsin Al Habsyi
Sejarah manusia hampir tak pernah sepi dari perang. Dari pembunuhan pertama antara dua anak Adam hingga konflik modern yang disiarkan langsung lewat layar ponsel, pertumpahan darah seolah menjadi pola atau siklus peradaban yang terus berulang.
Pertanyaan;
Apakah perang benar kehendak Tuhan, atau justru manifestasi lain dari kejahatan yang bersemayam dalam diri manusia?
Al-Qur’an memberikan panduan teologis yang tajam. Kitab suci ini tidak memuliakan perang sebagai tujuan, melainkan memotretnya sebagai akibat dari dominasi hawa nafsu dan keberhasilan setan menunggangi kehendak manusia. Dalam perspektif ini, perang bukanlah tindakan ilahi, melainkan wajah setan yang menjelma melalui diri manusia.
Sejak awal penciptaan, Al-Qur’an sudah mengisyaratkan potensi destruktif manusia. Ketika Tuhan menyampaikan rencana penciptaan khalifah di bumi, para malaikat justru mempertanyakan kemungkinan manusia “membuat kerusakan dan menumpahkan darah”. Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Tak lama setelah itu, Al-Qur’an mengisahkan pembunuhan pertama dalam sejarah Qabil membunuh Habil. Bukan karena perintah Tuhan, melainkan karena jiwa yang dikuasai dorongan gelap dalam bahasa Al-Qur’an, hawa nafsu yang telah membujuknya.
Di sinilah peran setan menjadi sentral. Al-Qur’an menegaskan bahwa misi utama setan adalah menyesatkan manusia dan menjerumuskannya ke dalam permusuhan dan kebencian. Permusuhan inilah bahan bakar perang. Setan tidak mengangkat senjata, tetapi menguasai narasi, emosi, dan ambisi manusia. Setan bekerja melalui keserakahan, rasa unggul, dendam historis, dan klaim kebenaran tunggal.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggambarkan setan semata sebagai makhluk gaib. Ada “setan-setan dari jenis manusia” yang berbicara dengan bahasa yang sangat indah dan manusiawi; politik, ideologi, bahkan agama. Mereka bisa tampil sebagai pemimpin, juru bicara atau intelektual yang membungkus kekerasan dengan dalih kehormatan bangsa, keamanan nasional, atau kehendak Tuhan. Dalam konteks inilah perang sering kali disakralkan, padahal hakikatnya adalah proyek kehancuran yang ditunggangi setan.
Al-Qur’an membuat garis pemisah yang jelas: jalan Tuhan dan jalan setan. Jalan Tuhan bermuara pada keadilan dan perdamaian, sementara jalan setan berujung pada kerusakan. Bahkan ketika perang diizinkan, Al-Qur’an menyebutnya sebagai kondisi darurat, dengan batasan ketat: tidak melampaui batas, tidak menyerang lebih dulu, dan selalu membuka pintu damai. Ini menegaskan bahwa perang bukan ideal ilahi, melainkan toleransi minimum atas realitas manusia yang belum sepenuhnya mampu mengendalikan dirinya.
Dalam dunia modern, wajah perang semakin kompleks. Senjata semakin canggih, tetapi logika dasarnya tetap sama: dehumanisasi musuh, normalisasi kekerasan, dan penghapusan empati. Setan tak lagi berbisik di padang pasir; namun setan hadir dalam propaganda digital, algoritma kebencian, dan pidato-pidato berapi-api yang mereduksi nyawa manusia menjadi angka statistik.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan tangan manusia sendiri. Tuhan tidak membutuhkan perang untuk menegakkan kehendak-Nya. Manusialah, ketika gagal mengendalikan nafsu dan kesombongannya, menjadikan perang sebagai jalan pintas. Dalam situasi seperti itu, setan tidak perlu memaksa, cukup memberi pembenaran.
Karena itu, membaca perang sebagai manifestasi setan dalam rupa manusia bukanlah sikap pesimistis, melainkan refleksi kritis, dan mengajak manusia bercermin: apakah konflik yang kita dukung benar-benar berangkat dari keadilan atau hanya hasil dari kebencian yang kita legitimasi?.
Al-Qur’an menempatkan damai sebagai tujuan, dan perang sebagai kegagalan moral yang terpaksa ditoleransi. Selama manusia masih mudah diprovokasi oleh rasa unggul, dendam, dan ketakutan, selama itu pula setan akan terus menemukan jalannya, bukan dengan wajah iblis, melainkan dengan wajah manusia yang tampak rasional dan meyakinkan.
Dan mungkin, di situlah ujian terbesar manusia sebagai khalifah; bukan sekadar memenangkan perang, tetapi menang melawan dorongan untuk berperang.
wallahu a'alam bissawab.jpg)
Posting Komentar