Sama-sama Rasional: Amerika, Israel dan Iran Harus Menang

Table of Contents


Penyunting: Ryu Midun, wartawan anggota LAPMI

Di panggung politik global, moralitas sering hanya menjadi hiasan retorika. Yang menentukan arah sejarah bukanlah idealisme, melainkan kalkulasi kekuatan. Dalam logika inilah serangan atau tekanan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menjadi “rasional”. Struktur kekuasaan dunia tidak menginginkan lahirnya pemain baru dengan senjata nuklir, sebab setiap nuklir baru berarti gangguan terhadap keseimbangan dominasi lama.

Amerika Serikat, sebagai penjaga tatanan global pasca-Perang Dunia II, memiliki kepentingan strategis untuk mempertahankan hierarki kekuatan. Demikian juga Israel, di kawasan Timur Tengah, memandang superioritas militer sebagai syarat eksistensinya. Maka, program nuklir Iran dilihat bukan hanya soal keamanan kawasan, melainkan ancaman terhadap struktur dominasi yang sudah mapan selama beberapa dekade.

Namun, rasionalitas tidak hanya milik Washington atau Tel Aviv. Bagi Teheran, nuklir adalah bahasa kekuasaan yang paling dipahami dunia. Dalam sistem internasional yang anarkis, tidak ada jaminan keamanan selain kemampuan untuk menakutkan lawan. Nuklir menjadi “asuransi hidup” tameng negara, yang membuat serangan lawan menjadi mahal dan berisiko tinggi jika dilakukan.

Di sinilah paradoks global muncul. Negara yang sudah memiliki nuklir merasa berhak mencegah negara lain memilikinya, sementara negara yang belum memilikinya merasa berhak mengejar demi keamanan negaranya.

Rasionalitas berubah menjadi lingkaran kecurigaan tanpa ujung; setiap tindakan pencegahan dibaca sebagai agresi, dan setiap upaya pertahanan dibaca sebagai ancaman.

Akibatnya, konflik bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal siapa yang lebih dulu menguasai rasa takut. Dunia modern tidak diatur oleh etika universal, melainkan oleh keseimbangan teror. Nuklir bukan hanya masalah senjata, tetapi simbol otoritas global, alat untuk menentukan siapa yang boleh hidup aman dan siapa yang harus terus merasa terancam.

Karena itu, ketika Amerika dan Israel menekan Iran, mereka bertindak “rasional” menurut logika dominasi global. Sebaliknya ketika Iran bertahan pada program nuklirnya, ia juga “rasional” menurut logika survival negara. Dunia tidak sedang menyaksikan pertarungan moral, melainkan benturan kepentingan dalam sistem yang menormalkan ketakutan sebagai dasar stabilitas.

Pada akhirnya, "rasionalitas global" sebetulnya hanyalah nama lain dari "ketidakadilan yang dilembagakan". Yang kuat menyebutnya stabilitas, yang lemah menyebutnya ancaman. Dan selama nuklir tetap menjadi ukuran kekuasaan, maka perdamaian dunia akan selalu berdiri di atas fondasi ketakutan.

Nah, Jika Iran ingin mempertahankan nuklirnya hingga membuatnya menjadi senjata pemusnah massal, adalah keniscayaan dalam perang saat ini 2026, tidak ada pilihan lain kecuali mengalahkan Amerika-Israel secara militer, bukan "kemenangan opini" dengan penuh rasa simpati dari penggiat medsos dunia.

*****

Posting Komentar