Sejarah Terciptanya Perang Iran–Israel

Table of Contents
Oleh: Juliadi

Semua kitab suci langit berbicara tentang kaum-kaum terdahulu. Kisah-kisah itu bukan catatan masa lalu, melainkan peringatan dan pelajaran bagi generasi setelahnya. Sejarah dalam perspektif iman adalah medium untuk membaca kehendak Tuhan atas peradaban manusia; siapa yang bangkit, siapa yang runtuh, dan mengapa kekuasaan berpindah tangan.

Dalam konteks inilah perang Iran–Israel yang tak pernah benar-benar meletus sebagai perang terbuka penuh, namun terus hidup sebagai konflik ideologis, militer, dan proxy.  Ini perlu dibaca serius, bukan sekadar pertarungan geopolitik modern, melainkan kelanjutan dari sejarah panjang agama, kekuasaan, dan rekayasa konflik global.

Persia: Dari Imperium Kuno ke Pusat Peradaban Islam

Jauh sebelum Islam hadir, Persia atau Parsia telah berdiri sebagai salah satu imperium terbesar dunia kuno. Bangsa ini dikenal sebagai bangsa Aria yang unggul dalam administrasi, militer, dan ilmu pengetahuan. Dalam Al-Qur’an, Persia bahkan disebut secara implisit sebagai kekuatan besar yang kelak mengalami pasang surut di hadapan risalah Islam.

Islam bersentuhan dengan Persia sejak awal. Salah satu simbol terkuatnya adalah 'Salman al-Farisi', seorang Persia yang lebih dulu mencari kebenaran lintas agama sebelum akhirnya memeluk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad SAW. Ini menunjukkan bahwa Persia bukan bangsa yang asing terhadap Islam, bahkan sejak fase embrioniknya.

Secara teritorial, Persia baru ditaklukkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, bersamaan dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan Islam. Di kota suci itu pula berdiri Masjid Umar, tidak jauh dari Tembok Ratapan sebuah simbol awal relasi kompleks Islam–Yahudi–Kristen.

Selepas penaklukan, Persia justru menjelma menjadi pusat peradaban Islam. Dari rahim Persia lahir para ilmuwan besar, filsuf, dan teolog. Di kemudian hari, wilayah ini menjadi pusat mazhab Syiah terutama melalui garis keturunan Rasulullah dari cucunya, Imam Husain RA.

Iran Modern: Dari Monarki Pro-Amerika ke Republik Islam

Nama “Iran” muncul sebagai identitas negara modern yang panjang, sejarahnya diwarnai pertumpahan darah perebutan kekuasaan. Monarki terakhirnya dipimpin oleh Reza Pahlavi, seorang raja yang sangat dekat dengan Amerika Serikat. Di bawahnya, Iran menjadi sekutu strategis Washington bahkan sering dipandang sebagai boneka kepentingan Barat di Asia Barat.

Semua berubah pada Revolusi Iran 1979. Dipimpin oleh Ruhollah Khomeini, monarki runtuh dan digantikan oleh Republik Islam Iran sebuah sistem politik unik yang menempatkan ulama (mullah) sebagai pusat kekuasaan melalui konsep wilayat al-faqih.

Sejak saat itu, Iran dan Amerika Serikat berada di dua kutub berlawanan. Iran tidak hanya memutus hubungan politik, tetapi juga membingkai perlawanan terhadap Amerika sebagai jihad ideologis. Israel sekutu utama Amerika di Timur Tengah secara otomatis diposisikan sebagai musuh utama.

Israel: Negara Baru dengan Cita-Cita Lama

Israel identik dengan kaum Yahudi sebuah bangsa yang selama berabad-abad hidup tanpa negara. Ketika Kesultanan Ottoman runtuh pasca-Perang Dunia I, Palestina jatuh ke tangan Inggris. Di sinilah lobi Yahudi global memainkan peran krusial.

Melalui transaksi politik dan jual beli tanah, Inggris memfasilitasi pembagian wilayah Palestina. Pada 1948, kaum Yahudi mendeklarasikan berdirinya negara Israel. Sejak awal, negara ini tidak sekedar berdiri, tetapi membawa konsep besar: Israel Raya cita-cita perluasan wilayah melalui aneksasi bertahap.

Amerika Serikat melihat Israel sebagai aset strategis; pangkalan geopolitik, perpanjangan tangan Pentagon, dan alat kendali atas minyak serta jalur militer Timur Tengah. Sejak itu, peta kekuasaan kawasan pun berubah. Banyak negara Timur Tengah dipaksa memilih: tunduk pada poros Amerika, atau berhadapan langsung dengannya.

Iran vs Israel: Perang yang Tak Pernah Diumumkan

Iran tidak melawan Israel secara frontal. Strateginya adalah perang tidak langsung; mendukung milisi-milisi perlawanan Palestina dan kelompok-kelompok regional dengan narasi agama, kemanusiaan, dan anti-penjajahan. Palestina menjadi medan proksi utama tempat konflik lokal dinaikkan menjadi simbol perlawanan global.

Bagi Iran, pemusnahan etnis Palestina oleh Israel adalah bukti penjajahan modern. Isu kemanusiaan dijadikan senjata ideologis untuk menantang dominasi Amerika dan Israel. Dalam doktrin ini, Amerika adalah “setan besar” dan Israel “setan kecil” narasi yang efektif membangkitkan moral force umat Islam lintas negara.

Catatan Rahasia: Amerika dan Rekayasa Perang

Konflik ini tak bisa dipahami tanpa melihat peran Amerika Serikat sebagai arsitek konflik. Perang Iran–Irak (1980–1988) menjadi contoh telanjang bagaimana perang dipelihara, bukan diselesaikan.

Amerika secara resmi mendukung Irak, memberi bantuan intelijen, teknologi militer, bahkan menutup mata atas penggunaan senjata kimia. Namun secara rahasia, Washington melalui Israel justru menjual senjata ke Iran. Prinsipnya sederhana dan brutal: Iran jangan menang, tapi juga jangan kalah.

Skema ini mencapai puncaknya pada era Presiden Ronald Reagan, dengan operator lapangan Oliver North. Rudal dan suku cadang persenjataan dikirim ke Iran melalui Israel, sementara dana hasil penjualan dialihkan ke konflik lain di Nikaragua.

Ketika skandal Iran–Contra Affair terbongkar, yang dikorbankan hanyalah operator. Arsitek kebijakan tetap aman. Perang berakhir tanpa pemenang; Iran hancur, Irak hancur, jutaan nyawa melayang sementara Amerika tetap dominan tanpa perlu invasi langsung.

Perang sebagai Produk Kesengajaan

Perang Iran-Israel bukan kecelakaan sejarah melainkan hasil akumulasi panjang yang dibingkai narasi agama, kolonialisme, ideologi, dan rekayasa geopolitik. Amerika Serikat bukan sekadar aktor, melainkan sutradara yang menjaga agar konflik tetap hidup, terkendali, dan menguntungkan.

Dalam sejarah, hukum sering ditekuk, moral dijadikan retorika dan kemanusiaan diperdagangkan atas nama stabilitas. Iran–Contra bukan anomali, melainkan potret telanjang bagaimana dunia modern bekerja; perang dipelihara, bukannya dihentikan.

Dan seperti pesan kitab suci tentang kaum terdahulu, sejarah ini seharusnya dibaca agar umat manusia tidak terus mengulang tragedi yang sama, dengan dalih yang berbeda.

*****

Posting Komentar