Selat Trump dan Imajinasi Kekuasaan yang Tak Pernah Kenyang
Di dunia yang semakin absurd, barangkali kita tak lagi terkejut jika suatu hari Donald J. Trump bangun pagi, menatap peta dunia, lalu berkata; “Mengapa tidak? Mari kita beri nama baru menjadi Selat Trump.”
Selat yang dimaksud tentu saja adalah Selat Hormuz, urat nadi perdagangan minyak dunia yang selama berabad-abad tak pernah meminta izin kepada siapa pun untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Namun dalam imajinasi kekuasaan modern, nama bukan lagi soal sejarah, geografi, atau konsensus internasional. Nama adalah klaim. Nama adalah branding. Dan branding adalah kekuasaan.
Donald J. Trump, sebagaimana kita tahu, bukan sekadar politisi. Ia adalah produk sempurna dari kapitalisme spektakuler; seorang pengusaha yang memahami bahwa dunia hari ini tidak lagi dibentuk oleh substansi, melainkan oleh persepsi. Jika gedung bisa dinamai Trump Tower, mengapa tidak untuk selat?
Satirnya, gagasan semacam ini justru terasa masuk akal dalam logika zaman sekarang. Kita hidup dalam era di mana batas antara realitas dan pertunjukan semakin kabur. Politik menjadi panggung, dan panggung membutuhkan simbol. Dalam hal ini, memberi nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump” bukanlah kebijakan, melainkan performa sebuah deklarasi bahwa bahkan ruang geografis pun bisa diprivatisasi secara imajiner.
lebih jauh lagi, ini mencerminkan cara pandang kekuasaan yang melihat dunia sebagai properti. Laut bukan lagi ruang bersama umat manusia, melainkan potensi aset yang bisa “di-rebrand”. Dalam logika ini, sejarah menjadi gangguan, dan kedaulatan negara lain hanyalah catatan kaki.
Tentu saja, dunia tidak akan serta-merta menerima perubahan nama tersebut. Iran, negara-negara Teluk, dan komunitas internasional akan menolaknya. Namun yang menarik bukanlah apakah nama itu akan diakui, melainkan bahwa ide semacam itu bisa muncul dan dianggap wajar oleh sebagian orang.
Di sinilah satir berubah menjadi kritik serius. Ketika pemimpin dunia mulai berpikir seperti pemilik merek global, kita patut bertanya; apakah politik masih tentang kepentingan publik, atau sekadar ekspansi ego dalam skala planet?
Fenomena ini juga bukan monopoli Trump. Banyak pemimpin di berbagai belahan dunia memiliki kecenderungan serupa, mengabadikan nama, membangun dinasti simbolik, atau meninggalkan jejak dalam bentuk yang paling kasat mata. Bedanya, Trump melakukannya dengan gaya yang lebih terang-terangan, bahkan nyaris karikatural.
Namun justru karena itu, ia menjadi cermin yang jujur. Ia menunjukkan kepada kita wajah kekuasaan modern tanpa polesan; narsistik, spektakuler, dan tak pernah benar-benar kenyang.
Jika suatu hari benar ada “Selat Trump” di peta dunia, mungkin itu bukan sekadar lelucon yang menjadi kenyataan. Ia adalah penanda bahwa kita telah memasuki era di mana dunia bukan lagi dihuni oleh negara-negara berdaulat, melainkan oleh ego-ego besar yang berlomba meninggalkan jejak, bahkan jika itu berarti menimpa sejarah yang sudah ada.
Dan ketika itu terjadi, mungkin kita hanya bisa tertawa kecil, sambil bertanya; setelah selat Trump, apa lagi yang akan diberi nama ulang? Samudra? Benua? Atau, pada akhirnya, kebenaran itu sendiri?
Karena dalam dunia yang dikuasai branding, bahkan realitas pun bisa diganti labelnya
*****
.jpg)
Posting Komentar