Sunni, Syiah, dan Ilusi Perlawanan terhadap Israel

Table of Contents


Sejak kelahirannya pada 1948, Israel tidak pernah lepas dari perlawanan dunia Islam. Negara-negara Arab yang mayoritas Sunni menjadi aktor pertama yang mengangkat senjata. Mereka datang dengan semangat solidaritas, keyakinan agama, dan janji pembebasan Palestina. Namun sejarah mencatat, perang demi perang justru berakhir dengan kekalahan, kompromi, atau stagnasi.

Dari perang 1948, 1967, hingga 1973, kekuatan Sunni (Arab) gagal mengubah peta kekuasaan secara fundamental. Bahkan, sebagian negara Arab kemudian memilih jalan normalisasi. Perlawanan yang dulu bersifat kolektif perlahan berubah menjadi sporadis dan terfragmentasi.

Di sisi lain, kemunculan Iran pasca Revolusi 1979 membawa narasi baru dari dunia Syiah. Iran memposisikan diri sebagai garda depan “poros perlawanan” terhadap Israel. 

Namun berbeda dengan negara-negara Arab Sunni di masa lalu, Iran tidak langsung terlibat dalam perang terbuka. Strateginya lebih halus sekaligus kompleks; perang proksi melalui kelompok-kelompok seperti Hezbollah di Libanon, Houti di Yaman dan Hamas di Gaza.

Selama puluhan tahun, konflik Iran-Israel berlangsung dalam "bayang-bayang" serangan siber, sabotase, pembunuhan tokoh penting, hingga pertempuran tak langsung di Suriah dan Lebanon. 

Baru dalam perkembangan terbaru 2025-2026, Iran mulai menunjukkan keterlibatan yang lebih terbuka, termasuk serangan langsung ke wilayah Israel. Sebuah eskalasi yang mengubah wajah konflik, tetapi belum mengubah hasil akhirnya.

Di titik ini, kita melihat ironi besar; dua kutub besar dalam Islam Sunni dan Syiah yang sering kali saling berseberangan secara teologis dan politik, ternyata bertemu dalam satu musuh yang sama. Namun, kesamaan musuh tidak otomatis melahirkan kemenangan yang sama.

Baik Sunni maupun Syiah menghadapi kenyataan pahit yang sama yakni ketidakmampuan mengalahkan Israel.

Mengapa?

Jawabannya tidak sesederhana soal kekuatan militer. Israel bukan hanya negara dengan teknologi pertahanan canggih, tetapi juga memiliki dukungan geopolitik kuat dari Barat, terutama Amerika Serikat. Sementara itu, dunia Islam justru terjebak dalam fragmentasi internal konflik kepentingan, rivalitas aliran/mashab dan kompetisi regional, dan krisis kepemimpinan.

Perlawanan yang dilakukan selama ini lebih sering bersifat simbolik ketimbang strategis. Retorika kemenangan tidak diiringi dengan konsolidasi kekuatan yang nyata. Bahkan dalam banyak kasus, konflik internal antarnegara Muslim (Sunni versus Syiah) justru lebih dominan dibandingkan fokus terhadap Israel.

Ironi semakin dalam ketika “perlawanan” cenderung dijadikan komoditas politik domestik. Isu Palestina diangkat untuk membangun legitimasi dan pencitraan, tetapi tidak diikuti dengan langkah konkret yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

Dengan kata lain, baik Sunni maupun Syiah sama-sama terjebak dalam ilusi perlawanan, sebuah narasi heroik yang tidak pernah benar-benar mencapai tujuan akhirnya.

Ini bukan berarti perlawanan tidak penting. Tetapi tanpa strategi yang matang, persatuan yang nyata, dan keberanian untuk mengoreksi diri, perlawanan hanya akan menjadi ritual yang berulang, keras dalam slogan, lemah dalam hasil.

Sejarah sudah berjalan lebih dari tujuh dekade. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling keras melawan Israel, tetapi siapa yang paling mampu berpikir jernih untuk keluar dari lingkaran kegagalan yang sama.

*****

Posting Komentar