Ukraina Kerahkan 201 Pakar Militer untuk Lawan Drone Iran di Teluk

Table of Contents

Penyunting: M Fajri

KYIV, 
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa Ukraina telah mengerahkan 201 orang pakar militer spesialis anti-drone ke kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia guna membantu negara-negara mitra menghadapi ancaman drone buatan Iran yang kian meningkat.

Menurut Zelenskyy, para pakar tersebut memiliki pengalaman langsung menghadapi drone kamikaze Shahed yang digunakan Rusia dalam perang Ukraina. Keahlian itu kini dialihkan untuk membantu pertahanan udara negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran dalam eskalasi konflik regional terbaru.

Sumber diplomatik menyebutkan, pakar Ukraina ditempatkan di beberapa negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi, serta bekerja sama erat dengan pasukan Amerika Serikat dan mitra koalisi lainnya.

Fokus utama mereka mencakup:

  • Deteksi dan pelacakan drone jarak jauh

  • Pengembangan sistem pertahanan berlapis terhadap drone berbiaya rendah

  • Integrasi teknologi radar, sensor suara, dan drone pencegat

Langkah ini dinilai sebagai bentuk ekspor keahlian militer Ukraina yang diperoleh dari perang modern yang berintensitas tinggi.

Analis pertahanan menilai Ukraina kini berperan sebagai laboratorium perang drone paling relevan di dunia. Selama lebih dari empat tahun konflik, Ukraina menghadapi ribuan serangan drone, termasuk serangan berkelompok (swarm attacks), yang memaksa mereka mengembangkan sistem pertahanan adaptif dan murah.

“Pengalaman Ukraina sangat berharga bagi negara-negara Teluk yang menghadapi ancaman serupa, tetapi dalam konteks geografis dan politik yang berbeda,” ujar seorang analis pertahanan Eropa.

Ia menambahkan bahwa Iran menggunakan drone bukan hanya sebagai senjata militer, tetapi juga sebagai alat tekanan geopolitik berbiaya rendah dengan efek psikologis tinggi.

Langkah Ukraina ini mendapat sambutan positif dari negara-negara Barat. Pejabat pertahanan AS menyebut kontribusi Ukraina sebagai “contoh nyata berbagi keahlian strategis antar-sekutu”.

Sementara itu, Israel, yang juga menjadi target serangan drone dan rudal Iran, disebut turut memantau kerja sama Ukraina dengan negara-negara Teluk sebagai bagian dari pertahanan regional yang lebih luas.

Di sisi lain, media pemerintah Iran mengkritik langkah tersebut dan menuduh Ukraina “memperluas konflik” dengan berpihak pada blok Barat dan negara-negara Teluk.

Penempatan pakar militer ini menandai pergeseran penting posisi Ukraina: dari negara penerima bantuan militer internasional menjadi penyedia keahlian tempur dan teknologi pertahanan.

Bagi Kyiv, langkah ini bukan hanya soal solidaritas keamanan, tetapi juga memperkuat posisi diplomatik Ukraina di tengah upaya mencari dukungan politik dan ekonomi global dalam menghadapi Rusia.

“Ukraina menunjukkan bahwa mereka bukan hanya korban perang, tetapi juga aktor keamanan yang relevan dalam konflik global,” kata seorang diplomat Eropa.

*****

Posting Komentar