Dari Kecurigaan ke Kepercayaan: Jalan Panjang Persatuan Umat
(1).jpg)
Lapsus: Ryu Midun, wartawan LAPMI
Pertemuan Duta Besar Iran dengan sejumlah tokoh Islam di Indonesia kembali mengangkat satu seruan lama; umat Islam harus bersatu melawan ketidakadilan global, terutama dalam konflik dengan Israel. Pesan ini terasa kuat, apalagi ketika penderitaan rakyat Palestina terus terjadi.
Namun di balik seruan itu, muncul pertanyaan yang tidak sederhana: benarkah umat Islam sudah siap untuk bersatu?
Masalahnya bukan pada kurangnya musuh bersama. Banyak umat Islam sepakat soal Palestina. Tetapi persoalan utamanya justru ada di dalam rasa saling curiga yang belum selesai, terutama antara Sunni dan Syiah.
Kecurigaan ini tidak muncul begitu saja, terbentuk dari pengalaman panjang di berbagai negara. Di Irak, setelah jatuhnya Saddam Hussein, konflik tidak hanya melibatkan Amerika Serikat, tetapi juga memicu ketegangan antara kelompok Sunni dan Syiah. Di Yaman, konflik antara pemerintah Sunni dan kelompok Houthi, dipandang sebagai bagian dari persaingan pengaruh Iran di kawasan. Di Suriah, perang berkepanjangan juga memperlihatkan bagaimana perbedaan mazhab bercampur dengan kepentingan politik dan kekuasaan.
Belum lagi ingatan lama, seperti demonstrasi jamaah Iran di Mekkah pada 1987 yang berujung tragedi. Peristiwa-peristiwa seperti ini meninggalkan jejak psikologis yang dalam, khususnya di kalangan Sunni.
Di sisi lain, sejak Revolusi Iran 1979 yang dipimpin Ayatullah Ruhollah Khomeini, Iran memang aktif membawa gagasan besar dalam dunia Islam. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap umat. Namun bagi yang lain, hal ini justru menimbulkan kekhawatiran; apakah ini benar-benar ajakan persatuan, atau ada kepentingan politik di baliknya?
Di sinilah persoalan menjadi jelas.
Persatuan tidak cukup dibangun dengan slogan adanya musuh bersama. Persatuan butuh "rasa percaya". Dan rasa percaya tidak bisa muncul jika masih ada ketakutan bahwa satu pihak ingin mendominasi pihak lain.
Banyak negara Muslim hari ini juga memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang dekat dengan Barat, ada yang berseberangan. Ada yang fokus pada stabilitas dalam negeri, ada yang aktif dalam konflik regional. Karena itu, dunia Islam sulit satu suara.
Akibatnya, umat Islam berada dalam kondisi yang paradoks. Di satu sisi, ada kesamaan iman. Di sisi lain, ada perbedaan kepentingan yang tajam.
Karena itu, jika Iran ingin mengajak umat Islam bersatu, maka tantangan terbesarnya bukan meyakinkan bahwa Israel atau Amerika adalah musuh bersama. Tantangan terbesarnya adalah "meyakinkan dunia Sunni bahwa Iran bisa dipercaya".
Ini bukan pekerjaan mudah. Kepercayaan tidak bisa dibangun lewat pidato atau pertemuan formal. Kepercayaan hanya bisa tumbuh dari tindakan nyata; menghormati kedaulatan negara lain, tidak mencampuri urusan dalam negeri, dan membuka ruang dialog yang jujur antar-mazhab.
Di sisi lain, umat Islam secara umum juga perlu mulai melihat persoalan ini dengan lebih jernih. Tidak semua konflik harus dilihat sebagai perang mazhab. Banyak di antaranya adalah konflik politik yang menggunakan agama atau mashab sebagai identitas.
Persatuan umat Islam bukan berarti harus menjadi sama. Persatuan justru berarti "mampu hidup berdampingan dalam perbedaan tanpa rasa curiga", semisal NU dan Muhammadiyah di Indonesia, berbeda tapi bersatu.
Perjalanan menuju PERSATUAN memang panjang. Luka sejarah, konflik politik, dan perbedaan pandangan tidak bisa hilang dalam waktu singkat.
Namun jika kepercayaan tidak mulai dibangun dari sekarang, maka seruan persatuan akan terus terdengar indah, tetapi tidak pernah bisa terwujud.
wallahu a'lam bissawab
******
Posting Komentar