Eropa, Khomeini dan Kanal Kebencian pada Yahudi yang Belum Selesai
Oleh: Achmad Ilyas, mantan sekjen HMI MPO
Sejarah panjang hubungan Eropa dengan bangsa Yahudi tidak pernah bersih dari bayang-bayang konflik. Sejak era Romawi Kuno, ketika kekaisaran menghancurkan Yerusalem dan menghapus identitas politik Yahudi dari tanahnya, mengubahnya menjadi Palestina. Jejak sentimen tersebut terus bertransformasi dalam berbagai bentuk agama, sosial, hingga tragedi Holocaust Di bawah rezim Adolf Hitler dan ideologi Nazi.
Memasuki abad ke-20, luka sejarah itu menemukan panggung baru di Timur Tengah. Berdirinya Negara Israel 1948 menjadi titik balik geopolitik yang memicu perang berkepanjangan antara Israel dan negara-negara Arab. Sejak 1948 hingga 1973, konflik terbuka menjadi saluran utama perlawanan terhadap eksistensi negara Yahudi tersebut.
Namun, pasca perang 1973, lanskap mulai berubah. Konflik militer mereda, dan untuk pertama kalinya muncul gagasan serius tentang solusi dua negara (Israel-Palestina) sebagai jalan damai. Ketegangan tidak hilang, tetapi kanal konfrontasi mulai berubah dari militer ke diplomasi.
Di tengah momen transisi inilah muncul figur yang kelak mengubah arah sejarah kawasan, yakni Ayatollah Khomeini.
Dalam pengasingannya di Prancis pada dekade 1970-an, Khomeini bukan sekedar tokoh religius, tetapi simbol perlawanan baru yang tengah mencari bentuk. Dari Eropa, ia membangun jaringan, narasi dan momentum yang akhirnya bermuara pada Revolusi Iran 1979, sebuah peristiwa yang tidak hanya menggulingkan monarki Iran, tetapi juga melahirkan poros ideologis baru di Timur Tengah.
Yang menarik tentunya bahwa, revolusi ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Retorika anti-Israel dan anti-Amerika yang dibangun Khomeini menemukan resonansi global. Dalam perspektif tertentu, narasi tersebut tampak "bersinggungan erat" dengan sejarah panjang kebencian terhadap Yahudi di Eropa, meskipun lahir dari konteks yang berbeda; satu berbasis pengalaman kolonial dan politik Timur Tengah, yang lain berakar pada sejarah panjang Eropa.
Di sinilah muncul tafsir kritis yang layak diperdebatkan.
Ketika negara-negara Arab mulai bergeser ke jalur diplomasi dengan gagasan solusi dua negara (Israel-Palestina)., apakah ada “kekosongan kanal konflik Eopa vs Yahudi” yang kemudian diisi oleh Iran pasca-revolusi?.
Lebih jauh lagi, apakah keberadaan Khomeini di Eropa sebelum revolusi sekadar kebetulan sejarah, atau bagian dari dinamika yang lebih kompleks antara kepentingan geopolitik dan memori kolektif lama bangsa Eropa?.
Sejak 1979, Iran mengambil posisi sebagai aktor utama yang secara konsisten menentang Israel, tidak hanya secara retoris tetapi juga melalui jaringan proksi dan pengaruh regional. Dalam banyak hal, posisi ini menggantikan peran negara-negara Arab yang setidaknya mulai menahan eskalasi perang terbuka dengan Israel.
Memasuki 2026, pola ini tampak belum berubah secara fundamental. Dalam ketegangan antara Iran di satu sisi dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain, negara-negara Eropa seperti Prancis, Spanyol, dan Inggris mengambil posisi yang tidak sejalan dengan pendekatan Donald Trump.
Apakah ini cerminan dari konsistensi nilai diplomasi Eropa, atau justru menunjukkan ambivalensi historis yang belum selesai terhadap konflik yang melibatkan Israel?
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban tunggal.
Namun satu hal jelas; hubungan antara Eropa,
Israel, dan aktor-aktor seperti Iran tidak bisa dipahami hanya melalui
peristiwa kontemporer. Ia adalah akumulasi dari sejarah panjang, trauma
kolektif, kepentingan politik, dan perubahan strategi global.
Membaca kemunculan Khomeini semata sebagai fenomena internal Iran mungkin terlalu sempit. Tetapi melihatnya sebagai bagian dari skema besar Eropa juga berisiko menyederhanakan kompleksitas realitas.
Di antara dua kutub itulah, analisis harus ditempatkan secara kritis, terbuka, dan sadar bahwa dalam geopolitik, yang tampak sering kali hanya permukaan dari dinamika yang sebetulnya jauh lebih dalam.
*****
.jpg)
Posting Komentar