Kematian Haniyeh dan Bayang-Bayang Gagalnya Perdamaian Palestina
Oleh: Mubha Kahar Muang
Kematian Ismail Haniyeh di Teheran pada 31 Juli 2024 kabar duka dari konflik yang tak kunjung usai di Timur Tengah. Peristiwa itu menyimpan lapisan makna politik yang lebih dalam; tentang rapuhnya setiap upaya menuju perdamaian Palestina, dan tentang bagaimana kekerasan selalu hadir justru ketika harapan perdamaian itu mulai tumbuh.
Haniyeh berada di Iran untuk menghadiri pelantikan Presiden Masoud Pezeshkian. Kehadirannya di Teheran mencerminkan posisi strategisnya sebagai tokoh politik utama dalam Hamas, yang tidak hanya memainkan peran dalam konflik bersenjata, tetapi juga dalam jalur diplomasi dan rekonsiliasi antar faksi Palestina.
Beberapa waktu sebelumnya, dunia menyaksikan perkembangan yang jarang terjadi; sebuah pertemuan antara faksi-faksi Palestina di Beijing, yang dimediasi oleh China. Pertemuan itu menghasilkan komitmen untuk mengakhiri perpecahan antara Hamas dan Fatah, sebuah prasyarat penting bagi terbentuknya negara Palestina yang utuh dan berdaulat.
Namun, harapan itu seolah kembali mendapat ujian. Serangan presisi yang menewaskan Haniyeh yang dikonfirmasi oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memunculkan pertanyaan pelik; mengapa setiap momentum menuju persatuan Palestina selalu saja diiringi oleh eskalasi kekerasan, Kenapa?
Dalam politik internasional, peristiwa seperti yang menewaskan Haniyeh biasanya bukan kebetulan. Setiap peristiwa memiliki konteks, dan setiap konteks membuka kemungkinan adanya kepentingan. Dalam hal ini, kematian seorang tokoh kunci seperti Haniyeh berpotensi mengganggu proses rekonsiliasi internal Palestina. Tanpa figur yang memiliki legitimasi politik kuat di dalam Hamas, proses negosiasi dengan faksi lain akan kembali tersendat.
Peristiwa ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik yang lebih luas. Keterlibatan China dalam memediasi konflik Palestina menandai babak baru dalam peta diplomasi global. Selama ini, proses perdamaian Palestina lebih banyak berada di bawah pengaruh negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Masuknya China sebagai mediator alternatif membuka kemungkinan perubahan keseimbangan kekuatan dalam diplomasi internasional.
Dalam konteks ini, setiap upaya perdamaian tidak hanya menjadi urusan internal Palestina, tetapi juga bagian dari kontestasi global yang lebih besar. Perdamaian bukan lagi soal dua pihak yang bertikai, melainkan juga tentang siapa yang memiliki pengaruh dalam menentukan arah penyelesaian konflik tersebut.
Sejarah panjang konflik Palestina menunjukkan pola yang berulang; ketika peluang rekonsiliasi muncul, selalu terjadi peristiwa yang menggagalkan atau setidaknya memperlambat proses tersebut. Dari kegagalan perjanjian Oslo hingga berbagai upaya gencatan senjata yang berumur pendek, harapan selalu berakhir pada kenyataan yang pahit.
Kematian Haniyeh dapat dibaca dalam kerangka pola tersebut. Hamas atau Palestina bukan hanya kehilangan seorang individu, tetapi juga kehilangan momentum politik perdamaian. Dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun, momentum adalah segalanya. Sekali hilang, maka tidak mudah untuk kembali.
Namun demikian, penting untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Tanpa bukti yang jelas, setiap dugaan mengenai aktor di balik serangan tersebut tetap berada dalam ranah spekulasi. Yang lebih penting adalah memahami dampaknya; bagaimana peristiwa ini mempengaruhi arah politik Palestina.
Kegagalan rekonsiliasi ini sangat merugikan, dan memperpanjang penderitaan rakyat Palestina. Perpecahan internal faksi Palestina hanya akan memperlemah posisi mereka di hadapan dunia internasional.
Di tengah situasi itu, hati bertanya; "apakah perdamaian benar-benar dikehendaki oleh semua pihak?”. Jika setiap upaya menuju persatuan selalu berujung pada kekerasan, maka patut diduga bahwa perdamaian belum menjadi kepentingan bersama.
Kematian Ismail Haniyeh di Iran adalah pengingat pahit bahwa jalan menuju kemerdekaan Palestina tidak hanya terhambat oleh konflik internal, tetapi juga oleh kompleksitas politik yang melibatkan banyak aktor dengan kepentingan yang saling bertabrakan.
Dan selama kepentingan-kepentingan itu belum menemukan titik temu, maka setiap harapan perdamaian akan selalu berada di bawah bayang-bayang kegagalan.
Mubha.
.jpg)
Posting Komentar