Ketika Kematian Menghidupkan
Oleh: Arman Arfah
Pada seratus hari kepergian itu, waktu seakan menanggalkan sifat berlarinya. Ia tidak lagi tergesa, melainkan duduk bersila di ruang batin, mengajak kita menatap ulang makna hidup yang kerap luput dari kesadaran. Dalam hening yang meresap, almarhum Kakanda Sufri Laude tak lagi sekadar kenangan, tetapi menjelma menjadi cermin, tempat kita berkaca tentang arti hidup, perjuangan dan kematian.
Di ruang batin yang khusyuk itulah, Prof. Khusnul Yaqin berdiri. Bukan sebagai penceramah yang merasa selesai dengan ilmunya, melainkan sebagai seorang pejalan yang sedang meniti lorong pulang. Ia membuka tauziahnya dengan kegelisahan yang jujur, bahwa lisan kita melimpah, tetapi tulisan kita kering. Ucapan mudah hilang di udara, sementara tulisan berpeluang menjadi jejak panjang yang menuntun zaman.
Di sanalah kita diingatkan, bahwa hidup bukan hanya dijalani, tetapi juga diabadikan. Dari kegelisahan itu, ia menuntun kita pada satu prinsip yang mengguncang kesadaran. Melalui Firman Allah SWT:
> لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
“Kamu tidak menzalimi dan tidak (pula) dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 279).
Sabda yang nampak sederhana, namun memuat fondasi peradaban. Ia menolak dua kutub sekaligus, menjadi penindas dan menjadi yang tertindas. Dalam kedalaman maknanya, bentuk panggilan menuju kemerdekaan sejati. Tebebas dari hawa nafsu yang menindas, dan merdeka dari ketakutan yang membuat kita rela ditindas.
Dalam konteks itulah, Iran dihadirkan sebagai cermin peradaban. Bukan untuk dipuja tanpa kritik, tetapi untuk dibaca sebagai fenomena. Sebuah bangsa yang berusaha berdiri di atas prinsip, tidak menindas dan tidak mau ditindas. Lebih dari itu, ia menjadi simbol keberpihakan kepada kaum mustaḍ‘afīn. Sejarah para nabi telah lama mengajarkan bahwa membela yang lemah adalah jalan yang paling lurus menuju Tuhan. Dalam perspektif tasawuf, ini adalah maqam izzah. Suatu bentuk kemuliaan yang lahir dari ketundukan total kepada Allah.
Namun, tauziah itu tidak berhenti pada dimensi sosial. Ia menukik lebih dalam memasuki wilayah yang paling sunyi disebut kematian. Kematian tidak lagi dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai jeda. Istirahat dari kezaliman dunia. Kepulangan bagi jiwa yang telah lelah mengarungi kefanaan. Allah SWT berfirman:
> وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu mengira mereka yang gugur di jalan Allah itu mati; mereka hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki.” (QS. Āli ‘Imrān: 169)
Di titik ini, hidup dan mati tak lagi terpisah tegas. Yang gugur justru hidup. Yang hilang justru hadir dalam cara yang lebih hakiki. Di sanalah makna syahid menemukan kedalamannya, bukan sekadar kematian di medan perang, tetapi kehidupan dalam kesaksian. Sebuah cara hidup yang menempatkan kebenaran di atas segalanya. Mungkin inilah yang di fahami ahli tasawuf sebagai puncak fana. Tatkala diri telah luluh, yang tersisa hanyalah Allah.
Dari kematian, pembahasan bergerak ke wilayah yang lebih halus. Mengenai hubungan antara yang hidup dan yang telah wafat. Dalam perspektif ruhani, hubungan itu tidak pernah benar-benar terputus. Hidup dalam bentuk rabiṭah, iaitu ikatan batin antara murid dan guru, antara generasi kini dan generasi terdahulu. Imam Al-Ghazali menyebut bahwa ruh orang-orang saleh tetap hidup dan dapat memberi pengaruh bagi mereka yang hatinya terbuka. Sementara Ibn ‘Arabi melihat alam ini sebagai jaringan kesadaran yang saling terhubung.
Di titik ini, kita mulai memahami bahwa ilmu tidak hanya lahir dari akal, tetapi juga dari kejernihan hati. Hati yang bersih menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi dan dari sanalah inspirasi mengalir. Puncak dari seluruh rangkaian perenungan, bagi Prof bermuara pada satu ajaran yang menggugah, adalah tentang al-maut al-ikhtiyari, itulah kematian sebelum mati. Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW:
> مُوتُوا قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا
“Matilah sebelum kamu mati.”
Ini bukan ajakan menuju kematian fisik, tetapi panggilan untuk mematikan ego, hawa nafsu dan segala keterikatan duniawi. Sebuah kematian yang justru menghidupkan. Lalu muncul pertanyaan, jika seseorang telah “mati” secara batin, bagaimana dengan syariat? Saya pun teringat pesan Al-Junaid al-Baghdadi bahwa semakin tinggi maqam seseorang, semakin kuat ia berpegang pada syariat. Karena ketika ego telah tiada, ibadah tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Shalat bukan lagi kewajiban semata, tetapi kerinduan.
Di sanalah kita memahami : mati ikhtiari bukan pelarian dari syariat, tetapi pendalaman makna syariat. Ia bukan penghapusan ibadah, melainkan penyempurnaan ibadah.
Akhirnya, kita kembali pada seratus hari kepergian itu. Kematian almarhum bukan sekadar kehilangan. Ia adalah panggilan. Ajakan untuk hidup lebih dalam. Mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari panjangnya waktu, tetapi dari kedalaman makna. Bahwa keadilan adalah fondasi peradaban. Tentang membela yang lemah adalah jalan menuju Tuhan. Bahwa. kematian yang selama ini kita takuti, sebenarnya hanyalah pintu.
Di antara sunyi dan doa, kita belajar satu hal yang tak lekang oleh waktu. Sejatinya yang benar-benar hidup bukanlah mereka yang masih bernapas,.tetapi mereka yang telah menemukan Tuhan dalam setiap detak hidupnya. Di sanalah rahasia itu bersemayam, tatkala kematian datang,.ia tidak memadamkan kehidupan, melainkan justru menghidupkannya.
02 April 2026
Catatan Reflektif
Arman Arfah
.jpg)
Posting Komentar