Konflik Dipelihara: Siapa Diuntungkan dari Ketegangan Amerikan vs Iran
Rangkuman; Achmad Ilyas
Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran (Islamabad Pakistan) di tengah jeda gencatan senjata menunjukkan satu pola lama dalam politik internasional, bahwa konflik tidak selalu diciptakan untuk dimenangkan, melainkan sering kali dipertahankan karena memberi keuntungan strategis.
Dalam kajian Hubungan Internasional, fenomena ini dikenal sebagai “protracted conflict” (konflik berkepanjangan) yang tetap hidup karena aktor-aktor kunci memperoleh manfaat tertentu darinya (Azar, 1990).
Amerika Serikat: Hegemoni dan “Overstretch”
Sebagai kekuatan global utama, Amerika Serikat berkepentingan menjaga stabilitas tetapi stabilitas versi mereka sendiri.
Menurut John Mearsheimer dalam teori offensive realism, negara besar akan terus berupaya mempertahankan dominasi regional dan mencegah munculnya pesaing. Timur Tengah menjadi salah satu arena penting.
Namun, data menunjukkan sisi lain:
- Pengeluaran militer AS mencapai lebih dari $800 miliar per tahun (SIPRI, 2024)
- Studi RAND Corporation menunjukkan perang berkepanjangan meningkatkan risiko “imperial overstretch”
Artinya:
AS tidak sepenuhnya “untung”, tetapi berusaha menjaga status quo global agar tidak runtuh.
China: Strategi “Non-Interference” yang Menguntungkan
China mengambil pendekatan berbeda; tidak terlibat langsung, tetapi aktif secara ekonomi.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA):
- China adalah importir minyak terbesar dunia
- Sekitar 40% impor minyaknya berasal dari Timur Tengah
Konflik memberi dua keuntungan:
- Akses energi dengan harga negosiasi lebih fleksibel
- Pengalihan fokus AS dari Asia-Pasifik
Dalam kerangka teori geoeconomics, seperti dijelaskan Edward Luttwak, China menggunakan ekonomi sebagai alat kekuasaan, bukan militer.
Hasilnya:
China menjadi “free rider strategis” dalam konflik global.
Rusia: Energi sebagai Senjata Geopolitik
Bagi Rusia, konflik Timur Tengah berkorelasi langsung dengan harga energi.
Data dari World Bank menunjukkan:
- Kenaikan konflik global mendorong lonjakan harga minyak
- Rusia sebagai eksportir utama diuntungkan dari volatilitas ini
Selain itu:
- Konflik baru mengalihkan perhatian Barat dari perang di Ukraina
- Memberi ruang manuver diplomatik bagi Rusia
Dalam perspektif realpolitik, ini adalah contoh klasik bagaimana negara memanfaatkan konflik tanpa harus terlibat langsung.
Israel: Keamanan sebagai Legitimasi Politik
Israel berada dalam posisi unik: ancaman eksternal justru memperkuat kohesi internal.
Menurut studi Brookings Institution:
- Ancaman keamanan meningkatkan dukungan publik terhadap kebijakan militer
- Konflik memperkuat hubungan strategis dengan Barat
Dalam teori securitization (Ole Waever):
Ancaman dapat “dibingkai” untuk membenarkan tindakan luar biasa, termasuk militerisasi.
Dengan demikian:
Konflik menjadi alat legitimasi, bukan hanya risiko.
Iran: Ideologi, Resistensi, dan Survival Politik
Di tengah tekanan ekonomi, Iran justru memperoleh keuntungan dalam bentuk lain.
Data International Monetary Fund (IMF):
- Ekonomi Iran tertekan oleh sanksi
- Namun stabilitas politik domestik tetap terjaga relatif kuat
Dalam analisis Political Sociology:
- Ancaman eksternal sering memperkuat solidaritas internal
- Rezim memperoleh legitimasi sebagai “pelindung bangsa”
Ini sejalan dengan konsep:
“rally around the flag effect”
Iran mungkin tidak menang secara ekonomi, tetapi:
menang dalam narasi dan daya tahan politik.
Kesimpulan: Stabilitas Semu dalam Ketegangan Permanen
Jika diringkas secara analitis:
- Amerika Serikat → menjaga hegemoni global
- China → memanfaatkan distraksi strategis
- Rusia → memperoleh keuntungan energi & geopolitik
- Israel → memperkuat legitimasi keamanan
- Iran → mengonsolidasikan legitimasi ideologis
Dalam kerangka Conflict Studies:
Konflik seperti ini tidak diselesaikan karena terlalu banyak aktor yang diuntungkan oleh keberlangsungannya.
Maka dunia tidak akan serius bergerak menuju damai,
melainkan menuju apa yang oleh para analis disebut:
“stable instability” stabilitas dalam ketegangan yang terus dipelihara.
Referensi Singkat:
- Azar, Edward. The Management of Protracted Social Conflict (1990)
- Mearsheimer, John. The Tragedy of Great Power Politics (2001)
- SIPRI Military Expenditure Database (2024)
- RAND Corporation Reports on US Military Overstretch
- International Energy Agency (IEA) – Global Oil Market Reports
- World Bank – Commodity Markets Outlook
- IMF Country Reports: Iran
- Wæver, Ole – Securitization Theory
- Brookings Institution – Middle East Security Analysis
.jpg)
Posting Komentar