Menang Tanpa Musuh: Strategi Sunyi Indonesia di Tengah Perebutan Kekuatan Global
Menang Tanpa Musuh: Strategi Sunyi Indonesia di Tengah Perebutan Kekuatan Global
Oleh: Muzayyin Arief
Di tengah lanskap geopolitik global yang semakin tegang dan yang ditandai rivalitas Amerika Serikat dan China, konflik dagang, serta perebutan pengaruh ekonomi, Indonesia justru menempuh jalan yang berbeda, lebih soft. Tanpa retorika konfrontatif, tanpa aliansi militer agresif, Indonesia perlahan membangun kekuatan melalui strategi yang sunyi, namun efektif untuk mengurangi ketergantungan pada negara kuat, memperkuat kedaulatan nasional, dan memainkan kepentingan global secara cerdas.
Pendekatan ini adalah refleksi dari prinsip yang sering diucapkan bapak Prabowo Subianto jauh sebelum menjabat Presiden RI. Prinsip ini sangat relevan; seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
Salah satu contoh paling nyata adalah pengembangan sistem pembayaran nasional berbasis QRIS. Di saat banyak negara berkembang masih bergantung pada jaringan pembayaran global, Indonesia mengambil langkah sunyi dengan membangun infrastruktur domestik yang mandiri. QRIS bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga soal kedaulatan data transaksi dan efisiensi ekonomi. Ketika transaksi tidak lagi bergantung pada jaringan global, Indonesia secara halus meminimalkan dominasi sistem keuangan asing tanpa harus menantangnya secara terbuka.
Langkah serupa terlihat dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya dalam kasus Freeport. Alih-alih melakukan nasionalisasi secara agresif yang berpotensi memicu konflik diplomatik, Indonesia memilih jalur negosiasi panjang dan tekanan regulatif. Hasilnya, penguasaan mayoritas atas salah satu tambang emas terbesar di dunia ini, berhasil diraih tanpa menciptakan permusuhan terbuka dengan pihak asing. Ini menunjukkan bahwa kedaulatan tidak selalu harus diperjuangkan melalui konfrontasi; namun bisa juga dicapai melalui ketekunan dan strategi.
Di sektor industri, kebijakan hilirisasi nikel menjadi bukti lain kecerdasan strategi Indonesia. Dengan melarang ekspor bahan mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri, Indonesia tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mengubah posisi tawar dalam rantai pasok global. Menariknya, kebijakan ini tidak menutup pintu bagi investor asing, termasuk dari China. Sebaliknya, Indonesia mengatur syarat permainan; siapa pun yang ingin mengakses sumber daya alam Indonesia harus ikut membangun industri di dalam negeri.
Pendekatan ini mencerminkan transformasi dari politik non-blok klasik menjadi “non-blok 2.0”, bukan sekadar menjaga jarak dari kekuatan besar, tetapi secara aktif memanfaatkan rivalitas mereka untuk kepentingan nasional. Indonesia tidak memihak, tetapi juga tidak pasif. Indonesia memilih posisi sebagai pemain yang mengatur, bukan sekadar mengikuti.
Dalam konteks ini, kemenangan tidak diukur dari siapa yang dikalahkan, melainkan dari seberapa besar kemandirian yang berhasil dibangun. Indonesia tidak sedang “melawan” Amerika atau China, tetapi sedang memastikan bahwa kepentingan nasional tidak larut dalam dominasi kekuatan global mana pun.
Di era multipolar, strategi seperti ini justru menjadi semakin relevan. Dunia tidak lagi hitam-putih, dan kekuatan tidak selalu ditentukan oleh militer atau retorika keras. Dalam banyak kasus, kekuatan justru lahir dari kemampuan mengelola ketergantungan, mengatur arus investasi, dan membangun sistem domestik yang tangguh.
Indonesia menunjukkan bahwa ada jalan lain dalam menghadapi tekanan global; jalan yang tenang, terukur, dan strategis. Jalan yang tidak menciptakan musuh, tetapi tetap menghasilkan kemenangan.
Menang tanpa musuh, pada akhirnya, bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan tertinggi dalam bernegara.
Dallas USA 09/04/2026
*****
(1).jpg)
Posting Komentar