Negara Arab dan Teluk Akan Kembali Naik Onta

Table of Contents

Negara Arab dan Teluk Akan Kembali Naik Onta

Oleh: Muzayyin Arief

Kalimat ini memang terdengar sinis bahkan mungkin menyakitkan. Tetapi justru karena itu, ia jujur.

Kemewahan yang hari ini memantulkan cahaya dari Dubai hingga Riyadh pada dasarnya berdiri di atas dua tiang yang rapuh; yaitu minyak dan stabilitas.
Dan tragisnya, keduanya sedang retak, pelan tetapi pasti.

Dunia tidak lagi menunggu Timur Tengah.
Dunia kini bergerak menuju energi bersih, ekonomi digital, dan inovasi berbasis pengetahuan.

Sementara itu, sebagian kawasan ini masih sibuk dengan konflik lama, rivalitas sektarian, seolah masa depan bisa ditunda seperti gencatan senjata.

Ini bukan soal geopolitik semata.
Ini soal pilihan: "membangun masa depan, atau menghabiskan masa kini".

Ambil contoh Iran

Secara nominal, Iran bukan negara kecil.
Produk domestik bruto (PDB)-nya berada di kisaran $380–420 miliar (2024).

Namun ketika dibagi ke rakyatnya, angka itu menyusut menjadi sekitar
$4.000-4.500 per kapita, jauh dari standar negara maju.

Masalah Iran bukan sekadar ukuran ekonomi, tetapi "arah aliran uangnya".

  • Belanja militer: sekitar $6,5-8 miliar
  • Setara: ± 2% dari PDB

Di atas kertas, ini tampak moderat.
Namun dalam realitas ekonomi yang tertekan sanksi, inflasi tinggi, dan ruang fiskal sempit, angka ini menjadi mahal.

Setiap dolar untuk militer adalah dolar yang tidak pernah sampai ke:
sekolah, rumah sakit, industri sipil, atau inovasi.

Dan ketika anggaran militer direncanakan melonjak drastis (bahkan pernah diwacanakan naik 200 persen dalam APBN), itu bukan sekedar kebijakan fiskal.
Tapi itu adalah cermin dari "prioritas dan kecemasan dalam orientasi geopolitik".

Sekarang lihat Israel

Ekonominya sekitar $550 - 600 miliar (2024) tidak sebesar gabungan negara Teluk.
Namun produktivitasnya jauh melampaui.

  • PDB per kapita: $55.000 - 65.000
    (≈ Rp850 juta – Rp1 miliar per tahun)

Di sini, militer bukan sekadar alat perang. Tapi ia adalah laboratorium inovasi.

  • Belanja militer: ± $45 - 50 miliar
  • Setara: 8 - 9% dari PDB (salah satu tertinggi di dunia)

Sekilas tampak boros.
Tetapi di balik itu, ada mekanisme yang tidak dimiliki banyak negara:

uang perang diputar menjadi teknologi.

  • Drone → industri global
  • Cybersecurity → ekspor bernilai tinggi
  • Riset militer → spin-off ke sektor sipil
  • Pertanian gurun pasir → irigasi presisi
  • Bioteknologi → pasar global

Di Israel, konflik memang mahal, tetapi tidak selalu sia-sia.

Di sinilah garis pemisah itu muncul

Militer sebagai mesin inovasi
vs
Militer sebagai beban fiskal

Keduanya sama-sama membakar uang.
Tetapi hanya satu yang tahu cara mengubahnya menjadi masa depan.

Perang tetap mahal bagi semua pihak

Israel sendiri menghadapi:

  • Defisit anggaran: sekitar 6 - 8% PDB ( masa konflik)
  • Biaya perang: puluhan miliar dolar

Namun ekonominya tidak runtuh, karena ditopang oleh sesuatu yang tidak dimiliki oleh bahan bakar minyak, yaitu PENGETAHUAN.

Sektor teknologi tetap berjalan. Inovasi tidak berhenti hanya karena sirene berbunyi.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara Teluk?

Mereka memiliki segalanya, setidaknya di atas kertas:

  • Kekayaan minyak
  • Cadangan devisa raksasa
  • Kota-kota futuristik
  • Infrastruktur kelas dunia

Namun pertanyaannya:

"apakah mereka punya mesin ekonomi selain minyak, yang benar-benar hidup?"

Jika jawabannya belum, maka waktu bukan lagi sekutu, dan telah berubah menjadi ancaman.

Bayangkan skenario yang semakin dekat

  • Dunia akan meninggalkan ketergantungan pada minyak
  • Energi terbarukan menjadi dominan
  • Konflik terus menguras anggaran
  • Diversifikasi ekonomi datang terlambat

Seperti hujan datang setelah panen gagal.

Pada titik itu, kemunduran bukan lagi metafora

“Kembali naik onta” bukan soal transportasi. ini adalah simbol.

Simbol kehilangan relevansi.
Dari pusat energi dunia menjadi pinggiran ekonomi global.
Dari penguasa komoditas menjadi penonton perubahan.

Dan ironi terbesar dari semua ini?

Semua itu bukan terjadi karena kekurangan uang.

Tetapi karena; terlalu lama merasa tidak perlu berubah.

wallahu a'alam bissawab

Salam NKRI, Houston Texas USA, 07/04/2026

*****

Posting Komentar