Ngabalin: Pertanyakan Sikap Iran Terhadap Palestina

Ngabalin: Pertanyakan Sikap Iran Terhadap Palestina
Lipsus: M Fajri dan Ryu Midun
Pernyataan Ali Mochtar Ngabalin yang mempertanyakan sikap Iran terhadap Palestina menjadi sorotan penting di tengah memanasnya dinamika geopolitik Timur Tengah. Dalam salah satu tayangan media iNews tv 08/04/2026 malam. Bang Ali panggilannya akrabnya menyoroti "absennya isu Palestina" dalam 10 tuntutan Iran kepada Amerika Serikat dalam rangka gencatan senjata. Sebuah ironi bagi negara yang selama ini mengklaim dirinya sebagai pembela utama rakyat Palestina.
Pernyataan tersebut bukan kritik spontan, tapi justru membuka ruang refleksi yang lebih luas; apakah dukungan Iran terhadap Palestina benar-benar merupakan komitmen ideologis, atau sekadar instrumen politik yang digunakan secara situasional?.
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dikenal sebagai salah satu negara paling vokal dalam menentang Israel dan mendukung Palestina. Retorika perlawanan menjadi identitas politik luar negeri Iran, bahkan sering dijadikan simbol perlawanan terhadap dominasi Barat.
Namun, dalam praktik diplomasi, terutama saat berhadapan langsung dengan Amerika Serikat, Iran tampak lebih pragmatis. Fokus utamanya bergeser pada isu-isu strategis seperti pencabutan sanksi ekonomi, keamanan nasional, dan stabilitas internal.
Dalam kontes ini, Lensa Ngabalin nampak fokus dan relevan.
Jika Palestina adalah inti perjuangan, mengapa isu tersebut tidak dijadikan bagian dari tuntutan utama kepada AS?.
Dalam studi hubungan internasional, terdapat satu prinsip yang hampir tak terbantahkan bahwa negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional (national interest), bukan semata-mata idealisme. "Iran" tidak terkecuali.
Ketika tekanan ekonomi meningkat akibat sanksi internasional, atau ketika stabilitas dalam negeri terancam, maka prioritas negara akan bergeser. Palestina, dalam konteks ini, berpotensi menjadi isu sekunder, tetap penting secara simbolik, tetapi tidak selalu strategis dalam meja perundingan.
Palestina: Simbol atau Substansi?
Pertanyaan mendasar yang muncul dari kritik Ngabalin adalah soal konsistensi.
Apakah Palestina benar-benar menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri Iran?
Ataukah hanya berfungsi sebagai simbol politik untuk membangun legitimasi regional dan dukungan domestik?.
Dalam banyak kasus, isu Palestina sering muncul dalam pidato dan retorika publik di Iran, tetapi tidak selalu hadir dalam agenda diplomasi konkret. Ini menimbulkan kesan bahwa Palestina lebih sering dijadikan narasi mobilisasi ketimbang agenda perjuangan yang konsisten.
Menguji Kejujuran Politik Global
Apa yang disampaikan Ngabalin pada akhirnya bukan hanya tentang Iran, hal ini juga mencerminkan realitas yang lebih luas dalam politik global; bahwa antara kata dan tindakan, sering kali terdapat jarak yang tidak kecil.
Dukungan terhadap Palestina, yang seharusnya menjadi isu kemanusiaan universal, kerap terjebak dalam kalkulasi politik negara-negara. Isu Palestina dipakai saat menguntungkan, dan dikesampingkan ketika tidak relevan dengan kepentingan strategis.
Dalam konteks inilah, kritik Ngabalin menjadi penting, bukan untuk menyudutkan, tetapi untuk mengingatkan bahwa konsistensi adalah ujian sejati dari setiap klaim moral dalam politik internasional.
Jakarta, 08/04/2028
Posting Komentar