Nuklir: Tuhan Baru Di Bumi

Table of Contents
Catatan ringan: Al Giffari Syam

Sejak dunia menyaksikan kehancuran di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia II, manusia memasuki fase paling paradoks dalam sejarahnya; Alat pemusnah massal itu kini dianggap sebagai penjaga perdamaian dunia.

Senjata nuklir bukan lagi sebagai instrumen perang, derajatnya naik menjadi simbol kekuatan tertinggi di dunia. Negara yang memiliki nuklir tidak harus menggunakannya; cukup memilikinya saja, maka mereka akan mampu membuat lawan berpikir ulang sebelum konflik dimulai. Dalam logika ini, nuklir bukan lagi senjata tapi adalah ancaman yang hidup dan nyata.

Pada masa Perang Dingin, dunia berada di ujung kehancuran. Dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Uni Soviet saling menatap dengan senjata yang mampu mengakhiri peradaban. Namun justru karena itulah perang besar tidak pernah terjadi karena adanya "rasa takut mati massal bersama" menjadi penjamin dan pengendali stabilitas.

Di sinilah letak ironi terbesar umat manusia. Perdamaian tidak dibangun di atas kepercayaan dan keadilan, melainkan di atas teror "rasa takut". Dunia tidak damai karena manusia telah menjadi baik, bijak dan toleran, tetapi karena mereka sadar bahwa kehancuran total terlalu mahal untuk dibayar.

Nuklir telah diyakini sebagai kekuatan yang menentukan "hidup dan matinya" jutaan manusia dalam sekejap. Karena itu, Nuklir tidak sekedar ingin dimiliki, tapi juga “dipuja”, sebagai yang mampu menjaga keselamatan dan eksistensi negara, sebagai simbol supremasi dan alat tawar dalam percaturan global.

Dalam konteks ini, nuklir telah menjelma menjadi “Tuhan Baru di Bumi”. Bukan dalam arti disembah secara ritual, tetapi secara sadar diakui (di imani) kemampuannya yang mutlak; menciptakan rasa takut, mengatur keseimbangan, dan pada akhirnya menentukan nasib umat manusia.

Wallahu a'lam bissawab

*****

Posting Komentar