Perang Bukan di Medan Tempur, Tapi Dalam Hati Manusia

Table of Contents

Perang Bukan di Medan Tempur, Tapi Dalam Hati Manusia

Oleh: Achamd Ilyas, mantan sekjen HMI MPO

Di balik setiap ledakan, ada hati yang lebih dulu terbakar.
Di balik setiap kobaran api, ada nurani yang lebih dulu padam.
Perang tidak pernah dimulai di medan tempur; tapi
lahir dari kedalaman hati manusia yang kehilangan cahaya.

Ledakan yang kita saksikan hanyalah wujud akhir dari sesuatu yang jauh lebih dalam. 
Ia adalah akumulasi dari kebencian yang dibiarkan tumbuh, 
dari prasangka yang tak pernah diluruskan,
dan dari hati yang perlahan kehilangan kepekaan. 

Ketika nurani tak lagi mampu membedakan antara kemanusiaan dan kepentingan, 
maka kekerasan menemukan jalannya sendiri, menjelma menjadi perang yang menghancurkan segalanya, tanpa sisa belas kasih.

Dalam kekosongan nurani itulah, bisikan-bisikan gelap menemukan ruangnya. 
Setan tidak datang dengan wajah yang menakutkan; namun hadir dalam bentuk pembenaran, dalam logika yang tampak masuk akal, dalam amarah yang terasa wajar. 
Perlahan, setan menutup mata hati manusia, 
Sehingga penderitaan orang lain tak lagi terasa sebagai luka bersama, melainkan sekadar angka dan statistik. 

Di titik itulah, manusia kehilangan dirinya, bukan karena tidak tahu, 
tapi karena tidak lagi mau merasa.

Maka perang terbesar yang harus dimenangkan bukanlah yang terjadi di antara dentuman senjata, melainkan yang berlangsung di dalam hati manusia sendiri. 

Di sanalah kebencian harus dilawan, empati harus dihidupkan kembali, dan nurani harus dibersihkan dari bisikan yang menyesatkan. 
Sebab selama hati masih dibiarkan gelap, perang akan selalu menemukan jalannya, dalam bentuk apa pun. 

Namun ketika hati mampu ditata dan dijaga, di situlah harapan lahir 
bahwa manusia, pada akhirnya, masih bisa memilih untuk tidak saling menghancurkan.
*****

Posting Komentar