Perang Malu-Maluin: Dua Negara Besar, Satu Masalah, Sama-sama Takut Bertarung Terang-Terangan
Oleh: Marwanto Jamran
Kalau perang adalah panggung untuk menunjukkan kekuatan, maka yang sedang dimainkan oleh Amerika Serikat dan Iran hari ini terasa seperti gladi resik yang tak pernah serius untuk dimulai.
Tidak ada dentuman besar.
Tidak ada pertempuran terbuka.
Yang ada justru kapal sipil yang dicegat, disita, dan dijadikan alat demonstrasi kekuatan.
Sebuah ironi yang sulit diabaikan: dua negara dengan kapasitas militer besar, tetapi yang dijadikan sasaran justru pihak yang tidak bersenjata.
Amerika Serikat, dengan seluruh superioritas militernya, memilih menyita kapal tanker.
Iran, dengan retorika perlawanannya, membalas dengan cara yang sama.
Aksi dibalas aksi.
Narasi dibalas narasi.
Dan publik disuguhi tontonan yang semakin lama semakin terasa janggal.
Ini bukan perang. Tapi juga bukan damai.
Ini adalah sesuatu di antara dan mungkin, sesuatu yang agak memalukan.
Tentu saja, ada penjelasan strategis di balik semua ini. Perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran bukan perkara sederhana. Alasannya ini bisa memicu krisis energi global, mengguncang pasar dunia, dan membuka peluang eskalasi yang melibatkan lebih banyak negara.
Dengan kata lain: terlalu berisiko.
Namun justru di situlah letak persoalannya.
Karena ketika risiko terlalu besar untuk dihadapi, tetapi gengsi terlalu tinggi untuk diturunkan, yang muncul adalah kompromi yang aneh-aneh: konflik tanpa keberanian dan hanya penuh pencitraan.
Dan dalam konflik semacam ini, target yang dipilih bukanlah lawan yang setara, melainkan objek yang aman untuk diserang.
Kapal sipil menjadi pilihan.
Bukan karena mereka ancaman,
tetapi karena mereka tidak bisa melawan.
Di sinilah logika kekuatan terlihat retak.
Sebab jika kekuatan hanya berani ditunjukkan kepada yang lemah, maka publik berhak mempertanyakan: itu kekuatan, atau pertunjukan atau sinetron?
Amerika Serikat akan menyebutnya sebagai penegakan hukum dan sanksi.
Iran akan menyebutnya sebagai perlawanan terhadap hegemoni.
Namun di luar semua istilah itu, yang terlihat oleh publik cukup sederhana:
dua kekuatan besar saling menghindari satu sama lain, tetapi tetap ingin terlihat menang.
Maka yang diserang bukan kapal perang,
melainkan kapal dagang.
Yang dipertontonkan bukan duel,
melainkan demonstrasi.
Dan yang terjadi bukan kemenangan,
melainkan siklus aksi dan reaksi yang tak pernah selesai.
Lebih jauh lagi, konflik ini mengungkap sesuatu yang jarang diakui secara terbuka: bahwa dalam dunia modern, kekuatan militer bukan lagi soal siapa yang paling kuat menyerang, tetapi siapa yang paling piawai menghindari perang sambil tetap terlihat dominan.
Masalahnya, semakin lama pola ini berlangsung, semakin tipis pula batas antara strategi dan kepura-puraan.
Karena pada akhirnya, publik tidak hanya melihat apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang dihindari.
Dan yang dihindari di sini sangat jelas:
konfrontasi langsung.
Maka lahirlah model perang versi baru, perang yang tidak berani menyebut dirinya sendiri sebagai perang.
Perang yang memilih sasaran aman.
Perang yang menghindari risiko setara.
Perang yang lebih sibuk menjaga citra daripada menyelesaikan konflik.
Dan mungkin, di situlah letak kemundurannya.
Bukan karena tidak ada kekuatan,
tetapi karena kekuatan itu sendiri tampak ragu untuk digunakan secara terbuka.
Ketika dua negara besar hanya berani “menggertak” lewat kapal sipil, pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi mengganggu:
ini benar konflik strategis?
atau sekadar sandiwara kekuatan yang terlalu takut untuk menjadi nyata?
Karena jika kekuatan hanya berani menyasar yang tak mampu melawan, maka yang sedang dipertontonkan bukanlah keberanian, melainkan ketakutan yang dibungkus rapi.
*****
.jpg)
Posting Komentar