Peristiwa Bonepute: Diplomasi di Tengah Hutan dan Keteguhan Cita-cita Seorang Perempuan
Oleh: Mubha Kahar Muang
Pertemuan 21 Oktober 1961 di Bonepute, Luwu Selatan, bukan sekadar pertemuan antara Kolonel M. Jusuf dan utusan Kahar Muzakkar. Ia adalah momentum ketika ruang dialog dibuka di tengah kebuntuan konflik bersenjata.
Dan yang menarik, ruang itu tidak dibuka oleh seorang jenderal, bukan pula oleh elite politik melainkan oleh seorang ibu.
Ibu Corry hadir bukan hanya sebagai “utusan”, tetapi sebagai “figur kepercayaan”. Dalam dunia konflik, kepercayaan adalah mata uang paling langka. Ia tidak dibangun oleh jabatan, melainkan oleh integritas personal, kedekatan emosional, dan kemampuan membaca situasi.
Di sinilah letak kekuatan diplomasi Ibu Corry.
Ia berada di titik yang unik:
di satu sisi, ia adalah bagian dari lingkar terdalam Kahar Muzakkar;
di sisi lain, ia mampu membangun komunikasi dengan pihak militer tanpa
kehilangan legitimasi di mata pasukan.
Peran seperti ini dalam teori konflik modern disebut sebagai “informal mediator” aktor non-resmi yang justru sering lebih efektif karena tidak terikat oleh protokol kaku dan kepentingan institusional.
Dalam konteks Bonepute, Ibu Corry bukan hanya menyampaikan pesan. Ia “menciptakan kemungkinan”, kemungkinan damai di tengah situasi yang didominasi logika senjata.
Namun diplomasi itu memiliki batas. Kesepakatan yang sempat terbuka tidak berujung pada rekonsiliasi. Kahar Muzakkar memilih melanjutkan perjuangannya.
Meski demikian, Peristiwa Bonepute tetap penting; ia menunjukkan bahwa bahkan di tengah konflik bersenjata, selalu ada ruang bagi pendekatan kemanusiaan dan sering kali, ruang itu dibuka oleh perempuan.
Ibu dalam Konflik: Melampaui Peran Domestik
Di sinilah dimensi lain dari Ibu Corry menjadi penting; ia bukan hanya aktor diplomasi, tetapi juga seorang ibu dalam arti yang jauh lebih luas daripada sekadar hubungan biologis. Ia membesarkan anak-anaknya di tengah hutan, dalam situasi bergerilya, dengan ketidakpastian yang konstan. Namun lebih dari itu, ia juga menjadi “ibu” bagi para anggota pasukan.
Peran ini bukan simbolik.
Dalam situasi konflik, figur ibu sering menjadi sumber stabilitas psikologis. Ia menghadirkan rasa aman di tengah kekacauan, memberi legitimasi moral pada perjuangan, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik senjata, ada kehidupan yang harus dijaga.
Dalam posisi ini, Ibu Corry menjalankan apa yang bisa disebut sebagai “diplomasi keibuan” sebuah pendekatan yang tidak berbasis kekuasaan, tetapi pada empati, ketahanan, dan kemampuan merawat harapan.
Diplomasi semacam ini tidak menghasilkan perjanjian tertulis, tetapi menjaga agar konflik tidak sepenuhnya kehilangan sisi kemanusiaannya.
Pilihan, Risiko, dan Keteguhan
Pilihan hidup Ibu Corry juga memperlihatkan dimensi keberanian yang tidak sederhana. Ia meninggalkan keyakinan lamanya, memeluk Islam, dan memilih hidup bersama seorang tokoh yang berada dalam pusaran konflik.
Ini bukan semata pilihan personal, tetapi pilihan eksistensial yang membawa konsekuensi sosial, politik, bahkan keselamatan jiwa. Namun justru dari pilihan itulah terbentuk keteguhannya.
Keteguhan itu terlihat hingga akhir hayatnya. Tiga minggu sebelum wafat, dalam kondisi menggunakan kursi roda, ia masih membesuk putranya di RS Fatmawati. Wajah yang telah menua itu tetap menyimpan energi yang sama seperti dalam potret Bonepute; tenang, hangat, tetapi kuat.
Perempuan, Kepemimpinan dan Krisis
Yang ditunjukkan oleh Ibu Corry sesungguhnya adalah model kepemimpinan yang jarang diakui dalam sejarah formal.
Ia tidak memimpin pasukan.
Ia tidak memegang jabatan.
Namun ia mempengaruhi arah peristiwa.
Ia adalah contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu hadir dalam bentuk komando, tetapi juga dalam kemampuan menjembatani, merawat, dan menahan kehancuran agar tidak menjadi total.
Dalam konteks hari ini, ketika peran perempuan dalam ruang publik terus diperjuangkan, pengalaman Ibu Corry memberi pelajaran penting; bahwa kesetaraan bukan hanya soal akses terhadap kekuasaan, tetapi juga pengakuan terhadap bentuk-bentuk kepemimpinan yang selama ini dianggap “tidak formal”.
Tidak berlebihan jika Ibu Corry dipandang sebagai inspirasi. Ia bukan hanaya pendamping seorang tokoh besar, melainkan penopang bahkan dalam banyak hal, penyeimbang.
Di tengah konflik yang keras, ia menghadirkan wajah lain dari perjuangan; wajah yang tidak hanya berbicara tentang perlawanan, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap menjadi manusia.
*****
(2).jpg)
Posting Komentar