Perintah Memikirkan Asal-Usul Manusia

Table of Contents

Penyunting: Azis Talib

Dalam kehidupan manusia, sering sibuk memikirkan tujuan material; karier, kekayaan, status, namun melupakan satu pertanyaan paling mendasar yakni; dari mana kita berasal?

Al-Qur’an memulai kesadaran manusia dari titik ini: refleksi atas asal-usul.

“Apakah mereka tidak memikirkan tentang diri mereka?”
(QS. Ar-Rum/30:8)

Pertanyaan ini bukan ajakan untuk berpikir biasa, melainkan panggilan eksistensial. Panggilan ini menggugat manusia yang hidup tanpa kesadaran asal dan tujuan, seolah hadir begitu.

Padahal, sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut, penciptaan langit dan bumi bukanlah kebetulan. Namun berlangsung “dengan benar dan waktu yang ditentukan.” Artinya, keberadaan manusia pun terikat pada kebenaran dan batas waktu; awal dan akhir.

Dan di antara dua titik itulah, manusia diuji: apakah ia akan mengingat, atau justru melupakan?

Episode Awal: Dari “Tidak Disebut” Menjadi Ada

Al-Qur’an menggambarkan fase paling sunyi dalam eksistensi manusia:

“Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa ketika ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
(QS. Al-Insan/76:1)

Ini adalah fase “tanpa nama” - No Name.
Manusia belum dikenali, belum memiliki identitas, bahkan belum dianggap “sesuatu”.

Dalam perspektif filosofis, ini adalah kondisi non-being ketiadaan total.

Lalu Allah menegaskan kembali:

“Kami telah menciptakannya dahulu, padahal sebelumnya dia tidak berwujud sama sekali.”
(QS. Maryam/19:67)

Dari nihil menuju eksistensi.
Dari tidak ada menjadi ada.

Ini bukan hanya proses biologis, tetapi loncatan metafisik sebuah kehendak Ilahi yang mengangkat manusia dari ketiadaan menuju keberadaan.

Pertanyaannya:
Jika awal kita adalah “tidak ada”, mengapa kita hidup seolah kitalah “segala-galanya”?

Episode Surga: Asal yang Terlupakan

Dalam narasi Al-Qur’an, manusia tidak memulai kisahnya di bumi.
Ia juga berasal dari tempat yang lebih tinggi; surga.

Di sana, manusia diciptakan dalam kondisi terbaik:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin/95:4)

Sebagian mufasir, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jailani, memaknai ini bukan hanya bentuk fisik, tetapi juga kesempurnaan ruhani, kejernihan fitrah sebelum tercemar konflik dunia.

Namun, kisah manusia berubah ketika perintah turun:

“Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain…”
(QS. Al-A’raf/7:24)

Turun ke bumi bukan sekadar perpindahan tempat.
Ia adalah transisi eksistensial: dari harmoni menuju konflik, dari kepastian menuju ujian.

Dan bersama itu, Allah memberikan janji sekaligus peringatan:

“Jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa yang mengikutinya tidak ada rasa takut dan tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah/2:38)

Di sinilah makna hidup menjadi jelas:
manusia hidup untuk menemukan kembali petunjuk menuju asalnya.

Bumi: Tempat Singgah, Bukan Rumah

Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa bumi hanyalah:

“tempat tinggal dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.”
(QS. Al-A’raf/7:24)

Artinya, hidup di dunia bukan tujuan akhir, melainkan fase sementara.

Dalam perspektif filosofis, manusia adalah makhluk perantauseorang pengembara yang sedang dalam perjalanan pulang.

Namun ironisnya, banyak manusia justru memperlakukan dunia sebagai rumah permanen. Mereka membangun, menumpuk, dan melekat, seolah tidak akan pernah pergi.

Padahal, seluruh narasi Al-Qur’an tentang manusia adalah narasi tentang "kepulangan".

Pulang Sesungguhnya

Jika “pulang” dalam kehidupan sehari-hari berarti kembali ke tempat asal, maka secara spiritual, pulang adalah:

"Kembali kepada Asal - kepada Tuhan".

Inilah yang banyak dilupakan manusia modern.

Mereka merayakan perjalanan pulang secara fisik, tetapi lupa perjalanan pulang secara eksistensial.

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan:

  • Kita berasal dari “tidak ada”
  • Kita pernah berada dalam keadaan terbaik
  • Kita diturunkan ke bumi untuk diuji
  • Dan kita akan kembali kepada-Nya

Namun, ayat Ar-Rum/30:8 menutup dengan peringatan yang tajam:

“Sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.”

Bukan karena tidak tahu, tetapi karena "tidak mau berpikir".

Berpikir adalah Ibadah Awal

Perintah Al-Qur’an sangat sederhana: berpikirlah tentang dirimu sendiri.

Karena dari sana akan lahir kesadaran:

  • bahwa kita pernah tidak ada,
  • bahwa kita sedang dalam perjalanan,
  • dan bahwa kita pasti akan kembali.

Kesadaran ini bukan ranah pengetahuan biasa, melainkan fondasi spiritual terdalam.

Tanpanya, manusia akan hidup tanpa arah.
Dengannya, setiap langkah menjadi bagian dari perjalanan pulang.

Maka, pulang yang sesungguhnya bukanlah perjalanan sesaat, melainkan adalah perjalanan seumur hidup.

Perjalanan dari tidak ada”, menuju Tuhan, Sang Sumber Segala Ada.

Wallahu a'lam bissawab

*****

Posting Komentar