Selat Hormuz: Premanisme Global dan Polisi Dunia Ikut Ngetem
Lipsus: Ryu Midun, Achmad Ilyas, Marwanto Jamran
Kalau kabar ini benar, maka dunia internasional tampaknya sedang belajar langsung dari kearifan lokal. Selat Hormuz kini bukan hanya jalur energi dunia, tapi juga… jalur “parkir berbayar" versi geopolitik.
Iran, dengan percaya diri, mulai menarik semacam... “uang lewat” bagi kapal yang melintas. Tarifnya tidak main-main, bisa mencapai jutaan dolar setara 30an milyar per kapal, dibayar pakai Yuan atau Bitcoin.
Kalau ini terdengar asing, mungkin kita jarang keluar rumah. Atau justru terlalu seringnya, sampai-sampai sudah kebal dan merasa biasa.
Sebab praktik seperti ini bukan barang baru. Di banyak sudut kehidupan terutama di negeri yang katanya ramah ini, kita sudah akrab dengan konsep “izin lewat”. Parkir di pinggir jalan? Bayar. Lewat lahan sengketa? Bayar. Buka usaha kecil? Tunggu dulu, ada yang harus “disapa.” ini dan itu bayar, dan lain sebagainya.
Dan seperti hukum alam yang tak tertulis: di mana ada pungutan, di situ ada otoritas yang datang… bukan untuk menghapus, tapi untuk ikut mengatur aliran.
Preman menarik uang.
Lalu aparat datang.
Bukan membubarkan, tapi memastikan: semua kebagian. itu namanya Ngetem.
Kalau ditarik ke level global, apa yang dilakukan Iran di Selat Hormuz itu terasa seperti versi makro dari fenomena mikro yang sudah lama kita pahami sehari-hari. Bedanya cuma satu; yang Hormuz pakai kapal tanker, bukan motor Beat.
Yang menarik justru reaksi dunia. Amerika Serikat yang sering dijuluki “polisi dunia” tidak sepakat dengan praktik ini. Ada penolakan, ada tekanan, ada peringatan bahwa jalur itu seharusnya bebas dilalui.
Tapi di sinilah satirnya mulai terasa.
Karena dalam banyak kasus, “polisi dunia” ini juga tidak selalu "gratis" jasanya. Ada kepentingan, ada pengaruh, ada “biaya keamanan” dalam bentuk lain; aliansi, tekanan politik, bahkan intervensi.
Jadi kalau Iran menarik “uang lewat” di hormuz, sementara pihak lain merasa punya hak mengatur jalur itu juga, nah kita akan melihat dua model pungutan bertemu di satu titik sempit bernama Selat Hormuz.
Yang satu terang-terangan malak.
Yang satu pakai istilah diplomatik padahal cuma ngetem (ikut malak) alias minta setoran.
Dunia, pada akhirnya, mungkin tidak sedang menghadapi konflik baru. Ini hanya versi global dari sesuatu yang sudah sangat kita kenal; rebutan siapa yang paling berhak berdiri di pinggir jalan… dan meniup peluit.
Bedanya, kali ini yang lewat bukan warga kampung.
Tapi 20% pasokan minyak dunia.
Dan seperti biasa, yang membayar - pada akhirnya - tetap orang lain.
Oh nasib.

Posting Komentar