Surga yang Luas, Mengapa Hati Menyempit
Surga yang Luas, Mengapa Hati Menyempit
Oleh: Abu Bakar Huremaking
Di tengah kehidupan yang kian riuh oleh perdebatan dan klaim kebenaran, manusia sering lupa, tidak semua hal perlu diperebutkan. Termasuk ysng secara simbolik maupun spiritual tentang surga.
Banyak ajaran agama menggambarkan surga sebagai tempat yang luas, penuh kedamaian, dan melampaui batas-batas imajinasi manusia. Dalam Islam, konsep Jannah bahkan dilukiskan sebagai ruang yang disediakan dengan penuh kasih sayang bagi hamba-hamba yang beriman dan berbuat kebajikan. Tempat tersebut bukan ruang sempit yang hanya cukup untuk segelintir orang, melainkan hamparan yang terbuka luas bagi siapa pun yang menempuh jalan kebaikan.
Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, manusia seringkali memandangnya secara berbeda. Surga, seolah menjadi sesuatu yang harus dimenangkan bukan dijalani. Dalam spekturm ini, yang muncul bukan lagi keteduhan, melainkan kecenderungan untuk saling menilai, bahkan menghakimi.
Kita dapat menyaksikan bagaimana ruang publik, termasuk ruang percakapan keagamaan, sering kali dipenuhi oleh nada kompetitif. Siapa yang paling benar, siapa yang paling lurus, atau siapa yang paling layak. Tanpa disadari, semangat untuk menjadi baik perlahan bergeser menjadi keinginan untuk terlihat paling baik.
Padahal, ajaran moral yang paling mendasar justru menekankan kerendahan hati. Kebaikan tidak diukur dari seberapa keras hal itu diklaim, melainkan dari seberapa tulus dijalankan. Dalam banyak tradisi, bahkan terdapat peringatan bahwa kesombongan termasuk kesombongan spiritual dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendekat pada nilai-nilai ilahiah termasuk surga.
Di sinilah pentingnya menjaga kelapangan hati. Jika surga adalah simbol dari keluasan rahmat dan kebaikan, maka jalan menuju ke sana semestinya juga ditempuh dengan sikap yang lapang, bukan sempit. Bukan dengan menyingkirkan yang lain, tetapi dengan memperluas ruang kebaikan itu sendiri.
Refleksi ini juga relevan dalam kehidupan sosial yang lebih luas. Dalam perbedaan pandangan, keyakinan, maupun pilihan, manusia sering kali tergoda untuk mempertajam batas. Padahal, kedewasaan justru hadir ketika seseorang mampu melihat bahwa kebaikan tidak selalu tampil dalam bentuk yang seragam.
Mungkin, yang perlu diingat kembali adalah bahwa menjadi baik tidak memerlukan pengakuan. Kebaikan tidak menuntut panggung, apalagi pembenaran terus-menerus. Nilai tersebut bekerja dalam diam, namun dampaknya terasa luas.
Dengan cara pandang seperti ini, surga tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang harus diperebutkan. Tujuan tersebut menjadi sesuatu yang ditempuh dengan kesadaran, bukan dengan ambisi. Dan dalam proses itu, manusia tidak hanya berharap mencapainya di akhir, tetapi juga berusaha menghadirkan nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, keluasan surga hanya dapat didekati oleh hati yang lapang, bukan oleh keinginan untuk merasa paling berhak.
Wallahu a'lam bissawab'
.jpg)
Posting Komentar