Ngabalin: Tidak Ada Negara yang Bisa Diharapkan untuk Membahas Perang AS Vs Iran selain Indonesia

Table of Contents

Ngabalin: Tidak Ada Negara yang Bisa Diharapkan untuk Membahas Perang AS Vs Iran selain Indonesia

Lapsus: Ryu Midun

Pernyataan Ali Mochtar Ngabalin bahwa tidak ada negara yang bisa diharapkan untuk membahas konflik antara Amerika Serikat dan Iran selain Indonesia terdengar optimistik, di tengah eskalasi ketegangan global, hal ini seolah ingin menempatkan Indonesia sebagai jangkar moral dunia, sebagai negara penengah yang diterima semua pihak.

Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah peran itu nyata, atau hanya sekedar harapan diplomatik.

Indonesia memang memiliki sejumlah modal penting dalam diplomasi global. Sejak era awal kemerdekaan, Indonesia dikenal sebagai penggagas Gerakan Non-Blok sebuah posisi yang menolak keterikatan pada kekuatan besar dunia. Dalam berbagai forum internasional, Indonesia juga konsisten mengusung narasi perdamaian, terutama dalam isu Palestina dan konflik Timur Tengah.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki kedekatan emosional dan kultural dengan dinamika kawasan teluk tersebut. Dalam konteks Iran, hal ini memberi keuntungan psikologis: Indonesia tidak dipandang sebagai bagian dari blok Barat yang kerap berseberangan dengan Teheran. Di sisi lain, hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat tetap stabil, tanpa permusuhan ideologis yang tajam.

Kombinasi ini menciptakan citra Indonesia sebagai “pihak yang bisa diterima semua pihak.”

Namun, persoalan utama dalam diplomasi global bukan hanya soal diterima, melainkan soal didengar dan diikuti.

Di sinilah keterbatasan Indonesia menjadi nyata.

Teringat dipanggung debat Pilpres 2024 yang lalu, Capres pak Prabowo menjelaskan bahwa diplomasi bukan hanya soal bicara tapi harus di dengar, dan untuk didengar kita harus punya nilai tawar, dan nilai tawar itu ditentukan oleh kapasitas di dalam negeri kita sendiri.   

Dalam konflik sebesar AS versus Iran, aktor yang menentukan arah bukanlah mereka yang netral, tetapi mereka yang memiliki daya tekan; baik militer, ekonomi, maupun politik. Amerika Serikat memiliki kekuatan militer global dan jaringan aliansi yang luas. Iran, meski tertekan sanksi, memiliki pengaruh regional melalui jaringan proksi dan posisi strategis di Timur Tengah.

Indonesia tidak memiliki keduanya.

Diplomasi Indonesia selama ini lebih bersifat normatif: menyerukan perdamaian, mendorong dialog, dan mengedepankan hukum internasional. Ini penting, tetapi tidak cukup. Dalam realitas geopolitik, seruan tanpa kekuatan sering kali hanya menjadi gema terdengar, tetapi tidak mengubah arah.

Lebih jauh lagi, Indonesia juga tidak memiliki leverage langsung terhadap kedua negara tersebut. Tidak ada ketergantungan ekonomi signifikan yang bisa digunakan sebagai alat tawar, tidak pula aliansi strategis yang memungkinkan tekanan politik efektif.

Akibatnya, peran Indonesia cenderung berhenti pada level simbolik: hadir dalam forum, menyampaikan sikap, tetapi tidak menjadi penentu.

Ini bukan berarti Indonesia tidak penting. Justru sebaliknya, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai penjaga norma global, sebuah fungsi yang semakin langka di tengah dunia yang kian transaksional. Namun, peran ini harus disadari sebagai peran moral, bukan kekuatan strategis.

Masalah muncul ketika narasi moral ini disemangati menjadi harapan kepemimpinan global yang tidak ditopang realitas. Di titik ini, optimisme yang dibangun oleh Ali Muhktar Ngabalin bisa berubah menjadi ilusi.

Pernyataan bang Ngabalin mencerminkan kecenderungan tersebut: keinginan untuk menghadirkan Indonesia sebagai realitas solusi dunia, tanpa diiringi refleksi atas kapasitas nyata yang kita miliki. 

Agar diperhitungkan, Indonesia harus memperkuat fondasi pengaruhnya melalui kapasitas ekonomi yang lebih kuat, posisi strategis yang lebih jelas, serta diplomasi yang tidak hanya normatif, tetapi juga operasional.

Dalam dunia yang ditentukan oleh kekuatan dan kepentingan, moralitas tetap penting tetapi hanya akan efektif jika disertai daya tekan.

Tanpa itu, Indonesia mungkin tetap didengar.
Namun belum tentu diperhitungkan.

*****

Posting Komentar