Tidak Semua Manusia Ingin Kekerasan

Table of Contents

Tidak Semua Manusia Ingin Kekerasan

By: Muhamad Fajri, Driver grab


Di tengah arus informasi yang dipenuhi perang, konflik, dan kekerasan, publik terus disuguhi gambaran seolah dunia digerakkan oleh kehendak untuk saling menghancurkan. Setiap hari, kita menyaksikan berita tentang serangan, korban sipil, dan eskalasi militer di berbagai belahan dunia. Namun di balik semua itu, ada satu kenyataan yang jarang mendapat tempat dihati pemimpin bahwa *tidak semua manusia menginginkan kekerasan*.


Pandangan yang menyamakan tindakan negara atau kelompok bersenjata dengan kehendak seluruh rakyat adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Dalam banyak konflik, keputusan untuk berperang tidak lahir dari konsensus publik, melainkan dari kalkulasi politik, kepentingan strategis, dan perebutan kekuasaan oleh segelintir elite.


Akibatnya, yang menanggung beban terbesar justru mereka yang tidak pernah terlibat dalam pengambilan keputusan tersebut. Warga sipil kehilangan tempat tinggal, keluarga tercerai-berai, dan generasi muda tumbuh dalam trauma. Bahkan prajurit di garis depan pun sering kali berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya bebas, terikat oleh perintah dan struktur komando.


Kekerasan juga tidak berdiri sendiri, ia dipelihara oleh narasi yang membelah; *propaganda*, *disinformasi*, dan *konstruksi identitas* yang menempatkan pihak lain sebagai ancaman. Dalam situasi seperti ini, empati menjadi korban pertama. Ketika manusia berhenti melihat sesamanya sebagai individu, kekerasan menjadi lebih mudah dibenarkan.


Namun demikian, penting untuk diingat bahwa mayoritas manusia tidak hidup dalam logika tersebut. Di berbagai wilayah konflik, selalu ada warga yang berupaya menjaga kemanusiaan; melindungi tetangga, menolong korban, atau sekadar menolak ikut dalam pusaran kebencian. Sayangnya, suara-suara ini selalu kalah oleh narasi konflik yang lebih dominan.


Pernyataan bahwa *tidak semua manusia menginginkan kekerasan* bukanlah bentuk naivitas. Sebaliknya, justru adalah pijakan moral sekaligus fakta sosial yang perlu diakui. Tanpa pengakuan ini, kita cnderung menggeneralisasi dan memperkuat polarisasi yang menjadi akar konflik itu sendiri.


Tantangan terbesar kita, bukan hanya menghentikan kekerasan, tetapi juga memberi ruang bagi suara mayoritas yang menginginkan perdamaian. Sebab di sanalah letak harapan. Bukan pada mereka yang mengobarkan konflik, melainkan pada mereka yang diam-diam menolaknya.


Tangerang, 09/04/2026

*****

Posting Komentar