1.1.2: Terima Kasih Pak Prabowo

Table of Contents
1.1.2: Terima Kasih Pak Prabowo

Oleh: Achmad Tang

Saya begitu terharu ketika dua orang ibu mencium tangan saya saat saya mampir di sebuah rumah sederhana di pedesaan. Awalnya, saya hanya singgah mencari kelapa muda. Namun percakapan kami kemudian mengalir tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dapur MBG yang sementara saya bangun.

Spontan kedua ibu itu mencium tangan saya sambil berkata, “Terima kasih, Pak.”

Salah seorang dari mereka lalu bercerita dengan mata yang berkaca-kaca. Kini ia merasa jauh lebih tenang. Satu anaknya duduk di bangku SMA, satu di SMP, dan dua lainnya masih SD. Sejak adanya program MBG, ia mengaku tidak lagi terlalu memikirkan makan siang anak-anaknya sepulang sekolah.

“Sekarang saya bisa lebih fokus mengurus kebun,” katanya pelan.

Ia bercerita bahwa sehari-hari mereka hidup dari kebun kecil. Membuat kopra, menanam pisang, dan jeruk menjadi sumber penghidupan keluarga mereka selama bertahun-tahun. Meski sederhana, dari kebun itulah mereka menyekolahkan anak-anak dan bertahan menjalani kehidupan.

Namun keterbatasan waktu dan biaya sering membuat mereka kewalahan. Pikiran tentang kebutuhan makan anak-anak di sekolah menjadi beban tersendiri bagi para orang tua di desa.

Karena itu, kehadiran program MBG bagi mereka bukan hanya soal makanan gratis. Program ini menghadirkan rasa tenang dalm jiwa. Memberi ruang bagi para orang tua untuk bekerja lebih fokus, memperbaiki usaha kecil mereka, dan tetap memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan yang layak dan bergizi.

“Saya sekarang benar-benar lebih lega,” lanjut ibu itu. “Semoga anak-anak kami semakin sehat dan semakin semangat belajar untuk masa depan mereka.”

Ucapan sederhana itu membuat saya sadar bahwa di balik sebuah program negara, ada harapan rakyat kecil yang perlahan mulai menemukan ketenangan hidupnya.

Barangkali bagi sebagian orang, MBG hanya dilihat sebagai program biasa. Namun bagi banyak keluarga kecil di desa, program ini telah menjadi bantuan nyata yang terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dan hari itu, di sebuah rumah sederhana di pedesaan, saya melihat sendiri bagaimana rasa syukur hadir dengan begitu tulus.

“Terima kasih Pak Prabowo.”

*****




Posting Komentar