Ada Allah dalam Setiap Hembusan Napas
Oleh: Abdul Said Patombongi (Andis)
Di dalam kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari menulis sebuah hikmah yang sangat dalam tentang hubungan manusia dengan Allah SWT:
مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيْهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيْهِ
“Tidak ada satu napas pun yang engkau hembuskan, kecuali ada takdir Allah yang sedang berlaku padamu.”
Hikmah ini mengajarkan bahwa manusia sesungguhnya hidup di dalam genggaman Allah pada setiap detiknya. Napas yang masuk ke dada, denyut jantung yang terus bergerak, mata yang masih mampu melihat, bahkan kesempatan untuk bangun pagi hari - semuanya bukan sekadar proses biologis, melainkan bagian dari kehendak dan takdir Allah SWT.
Manusia sering merasa dirinya kuat, mandiri, dan mampu mengendalikan hidup sepenuhnya. Padahal, satu tarikan napas saja tidak benar-benar berada dalam kuasa manusia. Karena itu, para ulama tasawuf mengajarkan bahwa hidup sejati adalah hidup yang selalu sadar akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan.
Kesadaran inilah yang kemudian disebut dzikir - bukan sekadar ucapan lisan, tetapi keterhubungan hati kepada Allah.
Al-Qur’an secara sistematis memerintahkan manusia untuk terus mengingat Allah. Pertama, Allah menjelaskan hubungan timbal balik antara hamba dan Tuhannya:
﴿
فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ ﴾
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini menunjukkan betapa mulianya orang yang mengingat Allah. Ketika seorang hamba mengingat Allah, sesungguhnya Allah juga “mengingat” hambanya dengan rahmat, pertolongan, dan penjagaan-Nya. Inilah hubungan spiritual yang menjadi sumber ketenangan jiwa.
Kemudian Allah memerintahkan agar dzikir tidak dilakukan sesekali saja, melainkan sebanyak-banyaknya:
﴿
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Aḥzāb: 41)
Perintah ini menunjukkan bahwa mengingat Allah bukan hanya ritual di masjid atau setelah shalat. Dzikir adalah kesadaran hidup. Mengingat Allah ketika bekerja, berdagang, memimpin, menghadapi masalah, bahkan saat sendirian.
Lalu Al-Qur’an menjelaskan bagaimana orang-orang beriman menjaga kesadaran itu dalam seluruh kondisi hidupnya:
﴿ ٱلَّذِينَ
يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Āli ‘Imrān: 191)
Ayat ini seolah menjadi penjelasan langsung dari hikmah Al-Hikam. Tidak ada ruang hidup yang kosong dari Allah. Berdiri, duduk, berbaring, sehat, sakit, senang, sedih, kaya, miskin, dimuliakan atau dihina - semuanya adalah keadaan yang membawa manusia kepada Allah bila dijalani dengan kesadaran iman.
Karena itu para ahlullah berusaha menjaga hati mereka pada setiap hembusan napas. Mereka memahami bahwa napas yang berlalu tanpa mengingat Allah adalah kerugian. Sebab umur manusia sejatinya bukan dihitung dari panjangnya tahun kehidupan, tetapi dari seberapa dekat ia dengan Allah SWT.
Lalu bagaimana cara manusia mengingat Allah?
Al-Qur’an memberi gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Allah SWT berfirman:
﴿ فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَـٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ
كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ﴾
“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka
berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu,
bahkan berzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Pada masa Arab jahiliyah, manusia sering membanggakan
leluhur dan nenek moyangnya dengan penuh semangat dan kebanggaan. Al-Qur’an
lalu mengarahkan manusia agar menyebut nama Allah lebih banyak daripada
menyebut kebanggaan duniawi mereka dengan menyebut-nyebut nenek moyangnya.
Maknanya sangat dalam: hati manusia jangan dipenuhi oleh
selain Allah. Jangan sampai manusia lebih sering memikirkan harta, jabatan,
keturunan, kelompok, atau pujian manusia daripada mengingat Tuhannya sendiri.
Karena itu para ahlullah berusaha menjaga hati mereka pada setiap hembusan napas. Mereka memahami bahwa napas yang berlalu tanpa mengingat Allah adalah kerugian. Sebab umur manusia sejatinya bukan dihitung dari panjangnya tahun kehidupan, tetapi dari seberapa dekat ia dengan Allah SWT.
Wallahu a’lam bissawab
*****

Posting Komentar