Dari Dunia Aktivisme ke Perkampungan Mukmin An Nadzir

Table of Contents

PROFIL TOKOH
Dari Dunia Aktivisme ke Perkampungan Mukmin An Nadzi
r

Perjalanan hidup Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M. yang akrab disapa Ustadz Samir, merupakan potret transformasi seorang intelektual-aktivis menuju jalan pengabdian spiritual dan sosial. Dari lingkungan keluarga pendidik, dunia aktivisme mahasiswa, ruang-ruang kajian intelektual, hingga membangun komunitas religius berbasis kemandirian, perjalanan hidupnya mencerminkan konsistensi dalam pencarian ilmu, keteguhan dalam keyakinan, serta keberanian mengambil jalan sunyi perjuangan.

Profil ini disusun sebagai dokumentasi perjalanan hidup dan pengabdian Ustadz Samir, sekaligus sebagai inspirasi bagi generasi yang tengah mencari makna perjuangan, keilmuan, dan keberimanan di tengah derasnya arus zaman.

Akar Keluarga dan Pendidikan Awal

Ustadz Samiruddin Pademmui lahir dan tumbuh di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru Pegawai Negeri Sipil. Suasana rumah yang akrab dengan dunia pendidikan membentuk karakter disiplin, rasa ingin tahu yang tinggi, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak usia dini.

Pendidikan dasar ia tempuh di Wajo. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan menengah pertama dengan tinggal bersama bibinya di Keppe dan bersekolah di SMP Negeri 1 Larompong Luwu. Setelah menamatkan SMP, ia kembali ke Wajo dan tinggal bersama neneknya sambil menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sengkang. Pola hidup berpindah-pindah ini membentuk kemandirian, daya adaptasi, serta kepekaan sosial yang kelak sangat berguna dalam perjalanan hidupnya.

Masa Mahasiswa dan Dunia Aktivisme

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas, Ustadz Samir hijrah ke Palopo untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Di kota inilah jiwa aktivisme dan kepemimpinannya mulai menemukan wadah. Bersama tiga orang saudaranya, ia aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palopo.

Dalam dinamika organisasi, Ustadz Samir dikenal sebagai sosok yang tekun, disiplin, dan memiliki kemampuan manajerial yang baik. Kepercayaan organisasi mengantarkannya mengemban sejumlah amanah strategis, antara lain sebagai Ketua Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI), Ketua Umum HMI Cabang Palopo, serta Ketua Bidang Pembinaan Ummat HMI Badan Koordinasi Indonesia Timur.

Aktivisme ini tidak semata membentuk kemampuan kepemimpinan, tetapi juga memperluas wawasan kebangsaan, keumatan, dan keislaman. Ia terbiasa berdiskusi, berdebat gagasan, serta terlibat langsung dalam pembinaan umat di tingkat akar rumput.

Kehidupan Berkeluarga dan Pengembaraan Intelektual

Memasuki fase kehidupan berkeluarga, pada awal tahun 1992 Ustadz Samir menikah dengan Siti Nuraini, perempuan asal Yogyakarta. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai lima orang anak. Setahun kemudian, ia menetap di Yogyakarta hingga tahun 1997.

Masa Yogyakarta menjadi periode penting dalam pendalaman intelektual dan spiritualnya. Selain tetap aktif dalam HMI, ia berguru kepada seorang ulama lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Ustadz Jamaluddin, serta aktif mengikuti berbagai halaqah dan forum kajian keislaman. Di kota pelajar ini, ia juga rutin menghadiri seminar-seminar nasional yang memperkaya perspektif keilmuan dan sosialnya.

Pada masa yang sama, Ustadz Samir menjalani profesi sebagai wartawan Media Dakwah. Aktivitas jurnalistik ini memperluas jejaring, mengasah ketajaman berpikir kritis, serta melatihnya mengekspresikan gagasan secara sistematis dan komunikatif.

Titik Balik Spiritual dan Jalan Jamaah

Menjelang era Reformasi, pada tahun 1997, Ustadz Samir hijrah ke Jakarta. Dalam fase pencarian spiritual yang semakin intens, ia dipertemukan dengan seorang mursyid dan imam, KH. Syamsuri Abdul Madjid. Pertemuan ini menjadi titik balik fundamental dalam perjalanan hidupnya.

Sejak itu, ia mulai mengurangi keterlibatan dalam berbagai forum kajian umum. Ia merasa telah menemukan pembimbing rohani yang diyakini mampu menuntunnya menuju jalan yang lebih hakiki dan terarah. Bersama sang guru dan sejumlah sahabat awalun, ia turut merintis berdirinya Majelis Jundullah pada tahun 1999, yang kemudian bertransformasi menjadi An Nadzir pada tahun 2002.

Pilihan untuk berkhidmat dalam jamaah bukanlah jalan populer. Namun, Ustadz Samir menjalaninya dengan penuh keyakinan sebagai bentuk ketaatan dan pengabdian.

Pesantren, Pengabdian, dan Kemandirian

Ustadz Samir menetap di Jakarta hingga tahun 2005, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jasinga, Bogor. Di sana, bersama Ir. H. A. Juanda, mendirikan Pondok Pesantren Raudhatul Tarbiyah pada tahun 2005 dan dipercaya sebagai mudir hingga tahun 2012.

Selain mengelola pesantren, ia juga terlibat dalam pengembangan pengobatan spesialis TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV, dan Herpes) di Klinik Aquatreat Therapy Indonesia (AQTI). Dari pengalaman tersebut, ia turut menyusun buku TORCH dan Solusinya, yang menjadi rujukan praktis bagi masyarakat.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengabdian baginya tidak terbatas pada dakwah verbal, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan dan kemanusiaan.

Perkampungan Mukmin An Nadzir

Pada tahun 2012, Ustadz Samir kembali ke Sulawesi Selatan dan menetap di Kabupaten Gowa. Bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang berhijrah dari berbagai daerah; Palopo, Kolaka, Bone, Maros, Takalar, hingga Jawa dan Sumatera, ia merintis Perkampungan Mukmin dan Pondok Pesantren An Nadzir.

Kawasan ini berkembang menjadi komunitas mandiri dengan sekitar seratus kepala keluarga. Selain sebagai pusat pendidikan dan ibadah, kawasan ini juga menjadi ruang pembinaan sosial, ekonomi, dan spiritual. Berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, LSM, hingga peneliti dan akademisi, telah melakukan kunjungan silaturahmi dan penelitian.

Kehidupan Pribadi dan Keteladanan

Dalam perjalanan hidupnya, Ustadz Samir juga membangun rumah tangga kedua pada tahun 1999 dengan Nurfadilah Caniago, perempuan berlatar keluarga Minangkabau-Bugis. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai enam orang anak, meskipun anak pertamanya wafat di usia dini pada masa awal perintisan pesantren di Jasinga.

Istri keduanya menjadi pendamping setia dalam perjuangan hingga wafat pada tahun 2022 dan dimakamkan di Pemakaman Jamaah An Nadzir, Gowa. Kehidupan pribadinya sarat dengan nilai kesabaran, pengorbanan, dan keteguhan iman.

Perjalanan hidup Drs. M. Samiruddin Pademmui, M.M. adalah kisah tentang konsistensi menuntut ilmu, keberanian mengambil jalan perjuangan, serta dedikasi membangun masyarakat berbasis nilai-nilai keimanan. Dari dunia aktivisme hingga perkampungan mukmin, jejak hidupnya menjadi cermin bahwa perubahan besar sering kali lahir dari kesetiaan pada keyakinan dan kesabaran dalam proses.

Profil ini diharapkan menjadi inspirasi dan dokumentasi sejarah perjuangan bagi generasi kini dan mendatang.

Barakallahu fiikum.

Posting Komentar