Drama Penyembelihan Anak Nabi Ibrahim dalam Injil dan Al-Qur’an
Oleh: Mubha Kahar Muang
Kisah penyembelihan anak Nabi Ibrahim merupakan salah satu narasi paling monumental dalam sejarah spiritual umat manusia. Cerita ini hadir di dalam Injil dan Al-Qur'an, serta menjadi fondasi penting dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam.
Di balik kisah itu tersimpan drama kemanusiaan, ujian iman, ketundukan kepada Tuhan, sekaligus perdebatan panjang tentang siapa sebenarnya anak yang hendak dikorbankan tersebut: Ishak atau Ismail.
Versi Injil: Ishak di Atas Mezbah
Dalam Kitab Kejadian pasal 22, Tuhan memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan putranya, Isaac, sebagai korban bakaran di tanah Moria.
Perintah itu sangat mengguncang. Ishak bukan anak biasa. Ishak adalah anak yang lahir dari penantian panjang dan dianggap sebagai pewaris janji Tuhan kepada Abraham.
Namun Abraham tetap menaati perintah tersebut. Ia membawa Ishak menuju gunung pengorbanan. Dalam perjalanan, Ishak bahkan memikul kayu untuk mezbahnya (alas, talenan) sendiri.
Ketika semuanya siap dan Abraham mengangkat pisaunya, malaikat Tuhan menghentikannya. Seekor domba jantan kemudian disediakan sebagai pengganti Ishak.
Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, peristiwa ini dipahami sebagai ujian iman terbesar Abraham.
Versi Al-Qur’an: Anak yang Saleh
Di dalam Al-Qur'an Surah Ash-Shaffat ayat 99–113, kisah ini diceritakan dengan nuansa berbeda.
Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebut nama anak yang hendak disembelih. Namun mayoritas ulama Islam meyakini bahwa anak tersebut adalah Ismail.
Dalam kisah Al-Qur’an, Nabi Ibrahim terlebih dahulu menyampaikan mimpinya kepada sang anak:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”
Menariknya, sang anak tidak menolak. Ia justru menjawab:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Pada titik inilah drama spiritual itu mencapai puncaknya: bukan hanya ayah yang diuji, tetapi juga anak yang rela menyerahkan dirinya demi menjalankan perintah Tuhan.
Saat penyembelihan hendak dilakukan, Allah menggantikannya dengan sembelihan besar.
Perbedaan Penting
Perbedaan paling terkenal antara dua tradisi ini terletak pada identitas anak:
- Dalam tradisi Yahudi dan Kristen: Ishak.
- Dalam mayoritas tradisi Islam: Ismail.
Namun di luar perbedaan itu, keduanya memiliki pesan yang serupa:
- iman,
- kepasrahan,
- pengorbanan,
- dan ketundukan kepada kehendak Tuhan.
Simbol Spiritual yang Besar
Kisah ini kemudian melahirkan tradisi keagamaan yang bertahan ribuan tahun.
Dalam Islam, peristiwa tersebut menjadi dasar ibadah kurban pada Idul Adha.
Sementara dalam tradisi Kristen, pengorbanan Ishak sering dipandang sebagai simbol pengorbanan Yesus Kristus.
Sedangkan dalam tradisi Yahudi, kisah ini dikenal sebagai Akedah atau “pengikatan Ishak”, simbol ketaatan total kepada Tuhan.
Drama yang Melampaui Zaman
Kisah penyembelihan anak Nabi Ibrahim bukan hanya cerita masa lampau, namun adalah refleksi tentang hubungan manusia dengan Tuhan: sejauh mana manusia bersedia percaya, taat, dan menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya.
Karena itulah, drama spiritual ini tetap hidup dalam kesadaran umat manusia hingga hari ini, dibaca, ditafsirkan, diperdebatkan, dan direnungkan lintas zaman.
*****

Posting Komentar