Dulu Sawah Ramai oleh Tawa, Kini Sunyi oleh Mesin

Table of Contents

Dulu Sawah Ramai oleh Tawa, Kini Sunyi oleh Mesin

Oleh: Marwanto Jamran

Tiga bulan terakhir saya tinggal di kampung. Hampir setiap hari mata saya dimanjakan hamparan sawah yang berubah warna mengikuti musim. Dari hijau muda yang menenangkan, perlahan menguning diterpa matahari, lalu akhirnya dipanen. Pemandangan itu begitu indah dan menenangkan hati. Namun di balik keindahan itu, ada sesuatu yang terasa hilang dari ingatan masa kecil saya.

Dulu, musim panen bukan hanya aktifitas memotong padi dan membawa hasil ke rumah. Panen adalah peristiwa sosial. Ada kegembiraan, kebersamaan, dan rasa syukur yang hidup di tengah masyarakat desa. Kami menyebutnya "pesta potong padi" bahkan ada lagunya dengan berbagai judul. Orang-orang datang membantu tanpa harus diundang resmi. Sawah menjadi ramai oleh suara tawa, percakapan, dan canda para petani.

Anak-anak berlarian di pematang sawah sambil bermain jerami. Para ibu menyiapkan makanan sederhana untuk dimakan bersama. Setelah panen selesai, orang-orang berkumpul, bercengkerama, dan saling berbagi cerita. Sawah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ruang yang mempererat hubungan antar-manusia.

Kini suasana itu hampir tak ditemukan lagi.

Teknologi pertanian telah mengubah banyak hal. Hamparan padi yang menguning sejauh mata memandang. kini bisa dipanen hanya dalam hitungan jam oleh mesin panen modern. Praktis, cepat, dan efisien. Tak banyak tenaga manusia yang diperlukan. Sawah yang dulu penuh orang kini terlihat lengang. Yang tersisa hanya suara mesin yang meraung memotong padi tanpa jeda.

Memang, kemajuan teknologi tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Mesin membantu petani menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Di tengah semakin berkurangnya tenaga kerja di desa, teknologi menjadi jawaban atas kebutuhan pertanian modern. Kita tentu tidak bisa menolak perubahan zaman.

Namun di balik semua kemudahan itu, ada nilai-nilai sosial yang perlahan ikut hilang.

Modernisasi pertanian diam-diam mengurangi ruang perjumpaan antar-warga. Gotong royong yang dulu tumbuh alami di sawah kini semakin jarang terlihat. Interaksi manusia digantikan oleh efisiensi kerja. Panen yang dahulu menjadi momen kebersamaan kini berubah menjadi aktivitas teknis yang cepat selesai tanpa banyak percakapan.

Dulu, membajak sawah dengan sapi atau kerbau adalah pemandangan biasa. Ada suara petani memanggil hewan ternaknya, ada lumpur yang melekat di kaki, ada kebersamaan yang tumbuh dari kerja keras bersama. Hari ini, semua bergerak lebih cepat. Traktor menggantikan kerbau, mesin panen menggantikan banyak tangan manusia.

Kita memang memperoleh kemajuan, tetapi mungkin tanpa sadar juga kehilangan sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan uang: "kehangatan sosial".

Desa perlahan berubah. Anak-anak muda banyak merantau ke kota. Tradisi-tradisi lama mulai ditinggalkan karena dianggap tidak praktis. Padahal di dalam tradisi itu tersimpan nilai penting tentang solidaritas, rasa syukur, dan hubungan manusia dengan alam.

Saya sadar, zaman tidak mungkin diputar kembali. Mesin akan terus datang, teknologi akan terus berkembang. Tetapi setidaknya kita perlu menyadari bahwa pembangunan tidak seharusnya hanya berbicara tentang efisiensi dan hasil produksi. Ada sisi kemanusiaan yang juga perlu dijaga.

Sebab pada akhirnya, yang membuat desa terasa hidup bukan hanya hamparan sawahnya, melainkan manusia-manusia yang tertawa dan saling menyapa di dalamnya.

Kini padi memang masih menguning setiap musim. Tetapi sawah yang dulu ramai oleh tawa perlahan menjadi sunyi oleh suara mesin.

*****

Posting Komentar