Elitisme Spiritual

Table of Contents

Elitisme Spiritual

Oleh: Juliadi

Di zaman media sosial hari ini, agama perlahan mengalami pergeseran bentuk. Ia tidak lagi sekadar menjadi jalan pencarian makna dan ketundukan kepada Tuhan, tetapi mulai berubah menjadi panggung citra, simbol status, bahkan alat pembentukan kasta sosial baru. Salah satu gejala yang muncul dari fenomena ini adalah elitisme spiritual.

Elitisme spiritual adalah sikap merasa lebih tinggi secara moral, intelektual, atau religius dibanding orang lain karena merasa memiliki kedekatan tertentu dengan agama, ilmu, tokoh, atau jalan spiritual tertentu. Dalam praktiknya, elitisme ini sering muncul secara halus melalui cara berbicara, cara memandang masyarakat awam, hingga cara mengidolakan figur agama secara berlebihan.

Fenomena ini berbahaya karena agama perlahan berubah menjadi arena superioritas ego. Orang tidak lagi berlomba menjadi rendah hati, tetapi berlomba terlihat paling sadar, paling otentik, paling “dalam”, dan paling dekat dengan kebenaran.

Ironisnya, elitisme spiritual sering dibungkus dengan narasi kesederhanaan. Tokoh agama diposisikan seolah manusia paling berbeda dari manusia lain; pengikutnya lalu membangun mitologi bahwa hanya kelompok merekalah yang memahami “agama yang asli”, sementara masyarakat lain dianggap palsu, dangkal, atau budak dunia.

Padahal inti agama justru menghancurkan kesombongan manusia, bukan menggantinya dengan kesombongan versi religius.

Dalam sejarah, para nabi dan ulama besar tidak membangun jarak psikologis dengan masyarakat. Mereka hadir sebagai pembimbing, bukan kasta suci. Mereka dihormati karena akhlaknya, bukan karena aura intimidasi spiritual yang membuat orang merasa kecil di hadapannya.

Elitisme spiritual juga melahirkan budaya anti kritik. Ketika seorang tokoh sudah dianggap terlalu suci, maka kritik dipandang sebagai penghinaan. Akibatnya, akal sehat perlahan mati, digantikan fanatisme emosional.

Kita tentu boleh mengagumi ulama, guru, atau tokoh agama. Tetapi kekaguman tidak boleh berubah menjadi pengkultusan. Karena pada akhirnya, semua manusia tetaplah manusia: tempat salah, lupa, dan keterbatasan.

Agama seharusnya membuat manusia lebih rendah hati, bukan merasa menjadi golongan langit di tengah manusia bumi.

***** 

Posting Komentar