Gaza, Ukraina, Taiwan: Episentrum Perebutan Pengaruh Dunia

Table of Contents
Gaza, Ukraina, Taiwan: Episentrum Perebutan Pengaruh Dunia

oleh: Valentina Nur Handayani

Dunia hari ini tidak sedang benar-benar dalam keadaan damai. Dunia hanya memasuki bentuk perang baru yang dikenal dengan istilah; perang proksi, perang pengaruh, dan perang ekonomi yang dimainkan oleh negara-negara besar tanpa harus saling menyerang secara langsung.

Jika pada abad ke-20 dunia terbelah antara blok Barat dan Uni Soviet, maka abad ke-21 memperlihatkan konfigurasi baru. Amerika Serikat masih menjadi kekuatan dominan dunia, tetapi dominasi itu mulai ditantang oleh bangkitnya China, kebangkitan militer Rusia, dan perlawanan geopolitik Iran di Timur Tengah.

Karena itu, konflik Gaza, Ukraina, dan Taiwan sesungguhnya bukan konflik yang berdiri sendiri. Ketiganya telah berubah menjadi simpul utama perebutan pengaruh global.

Ukraina menjadi arena Barat untuk menguras Rusia. Taiwan menjadi benteng Amerika untuk membendung ekspansi China di Indo-Pasifik. Sedangkan Timur Tengah menjadi panggung paling panas bagi pertarungan Amerika-Israel melawan Iran dan jaringan pengaruhnya.

Namun Iran memiliki posisi yang jauh lebih strategis daripada sekadar negara Timur Tengah biasa.

Bagi Amerika dan Israel, Iran adalah ancaman utama terhadap dominasi Barat di kawasan Timur Tengah. Iran bukan hanya memiliki ambisi nuklir dan kekuatan misil, tetapi juga membangun jaringan milisi bersenjata lintas negara yang mampu mengguncang stabilitas kawasan kapan saja. Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, hingga Houthi di Yaman merupakan bagian dari apa yang disebut Tehran sebagai “poros perlawanan”.

Melalui jaringan itu, Iran mampu menekan Israel dari berbagai arah tanpa harus berhadapan langsung dalam perang terbuka. Serangan Houthi di Laut Merah, misalnya, tidak hanya berdampak pada Israel, tetapi juga mengganggu jalur perdagangan global dan kepentingan ekonomi Barat.

Di sinilah posisi Iran menjadi sangat penting bagi China dan Rusia.

Bagi China, Iran adalah kunci energi dan jalur strategis Eurasia. China membutuhkan stabilitas pasokan minyak dari Timur Tengah untuk menjaga pertumbuhan industrinya. Iran memberi Beijing akses energi murah sekaligus pijakan geopolitik di kawasan yang selama puluhan tahun didominasi Amerika. Bahkan ketika Barat menjatuhkan sanksi, China tetap menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran.

Lebih jauh lagi, keberadaan Iran membantu China “mengalihkan perhatian” Amerika dari Asia Pasifik. Semakin besar konflik Amerika di Timur Tengah, semakin banyak sumber daya militer dan ekonomi Washington tersedot keluar dari kawasan Indo-Pasifik. Situasi ini memberi ruang strategis bagi China untuk memperkuat pengaruhnya di Laut China Selatan dan sekitar Taiwan.

Sementara bagi Rusia, Iran adalah mitra penting untuk menghadapi tekanan Barat. Rusia memahami bahwa jika Iran jatuh atau berhasil dilemahkan total oleh Amerika dan Israel, maka pengaruh Barat di Timur Tengah akan semakin kuat. Itu berarti Rusia kehilangan salah satu sekutu strategisnya dalam menghadapi dominasi NATO dan Amerika secara global.

Selain itu, konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga menguntungkan Rusia secara ekonomi. Ketegangan di kawasan Teluk sering mendorong harga minyak dunia naik, dan sebagai negara eksportir energi besar, Rusia memperoleh keuntungan finansial sekaligus ruang napas untuk menopang ekonominya di tengah sanksi Barat.

Karena itu, meskipun China dan Rusia tidak secara terbuka terjun perang membela Iran, keduanya memiliki kepentingan besar agar Iran tetap bertahan. Iran bagi mereka adalah “penyeimbang strategis” terhadap kekuatan Amerika dan Israel di Timur Tengah.

Dengan kata lain, Iran bukan sekadar sekutu biasa. Iran adalah tembok geopolitik yang mencegah Amerika menguasai sepenuhnya Timur Tengah.

Inilah sebabnya mengapa konflik Gaza tidak pernah benar-benar hanya soal Palestina dan Israel. Di balik perang itu, ada perebutan jalur energi dunia, persaingan pengaruh global, hingga pertarungan menuju tatanan dunia multipolar.

Amerika tentu tidak ingin kehilangan dominasinya sebagai pusat kekuatan global. Namun China dan Rusia juga tidak ingin hidup dalam dunia yang sepenuhnya dikendalikan Washington. Di tengah tarik-menarik itulah, kawasan-kawasan seperti Gaza, Ukraina, Taiwan, dan Laut Merah berubah menjadi papan catur geopolitik dunia.

Yang tragis, rakyat sipil selalu menjadi korban utama. Kota-kota hancur, ekonomi runtuh, jutaan orang mengungsi, dan generasi muda tumbuh dalam trauma perang yang berkepanjangan. Negara besar berbicara tentang demokrasi, keamanan, dan stabilitas global, tetapi yang paling merasakan penderitaan justru masyarakat kecil yang tidak pernah ikut menentukan arah geopolitik dunia.

Dunia mungkin belum memasuki Perang Dunia secara resmi. Tetapi pola konflik hari ini menunjukkan bahwa umat manusia sedang hidup di era perang global yang tidak diumumkan.

*****

Posting Komentar