Haji dan Qurban
Oleh: M, Samiruddin Pademmui Pimpinan Ponpes An Nadzir
Tanggal 10 Dzulhijjah 1447 H /
2026 M, umat Muhammad yang menunaikan ibadah haji di Mekah sedang melaksanakan
wukuf di Arafah. Dan sebagian besar umat Muhammad lainnya, juga merayakan hari
raya Idul Adha dengan melaksanakan shalat Ied.
Wuquf di Arafah, merupakan
momentum penting yang paling menyentuh dan mengesankan hubungan antara hamba
dengan Rabnya. Di
Semua manusia yang hadir di
Arafah berdiam diri, baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring, seraya
meng-Agungkan Asma Allah, SWT berdzikir dan beristighfar. Matahari yang
memancarkan sinar panasnya tanpa penghalang, seolah-olah tidak berpengaruh
terhadap jamaah yang sesenggukan mengenang dosa-dosanya. Mereka menumpahkan di
Menyingkirkan Rasa Sombong
Saat itu semua orang
menyingkirkan rasa sombong dan angkuhnya, rasa dengki dan sifat jahatnya, serta
kesukaan membanggakan diri lebih baik dari orang lain. Pada hari itu terbuka
tirai kesadaran lebih tinggi bahwa apa yang selama ini sering dibangga-banggakan
dengan rasa sombong, sebenarnya bukanlah miliknya, melainkan semua itu hanyalah
milik Allah SWT semata yang diamanahkan kepadanya. Dan semuanya terikat dengan
qodrat dan iradat Allah SWT.
Suasana wukuf yang hening
berakhir menjelang matahari terbenam. Saat itu kita segera menyaksikan fenomena
luar biasa tentang tumpahnya manusia dari Arafah menuju Mas’aril Haram (Muzdalifah), bagaikan tumpahnya air dari gelas yang
terisi penuh. Fenomena ini dalam Al-Quran disebutkan dengan istilah Al-Faidh atau Ifadhoh, sebagaimana disinyalir Allah SWT lewat firman–Nya yang
bermakna :
"Tidak ada dosa bagimu
untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. maka apabila kamu
telah bertolak dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam dan
berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu;
dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang
sesat." (QS.
Al-Baqarah [2] : 198).
Demikianlah hukum Allah SWT dalam
hal ibadah haji. Tak seorang pun yang boleh berlama-lama di Arafah, sehingga
sore itu juga Arafah harus ditinggalkan. Siapa pun akan merasa takjub bila
menyaksikan dan merenungi hukum Allah tersebut. Semua lembah dan jalur dipenuhi
manusia bagaikan gelombang air mengalir ke arah yang sama, berhenti berpusar
beberapa jam di Muzdhalifah dan berulang kembali gelombang manusia menuju Mina.
Dengan kesadaran jiwa yang
tinggi ketika jamaah haji berada di Muzdhalifah, dari keragu-raguan (subehat) menjadi keyakinan yang bulat,
dari kelalaian dalam menegakkan hukum Allah menjadi serius dan selalu ingat
kepada-Nya, dari riya’ menjadi ikhlas, dari suka dusta menjadi jujur dan
amanah, dari sikap membanggakan diri (ujub)
menjadi rendah hati (tawadhu’) dan
sebagainya.
Dalam hati tak ada lagi ruang
bagi keraguan yang dapat menghalangi jalan menuju perintah-Nya. Jika lalai atau
ragu-ragu ia berkata : "… Amat besar penyesalanku atas kelalaianku
dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk
orang-orang yang memperolok-olokkan (hukum Allah )." (QS. Az-Zumar [39]
: 56).
Kesadaran kehambaannya akan selalu mengingatkan dan seolah-olah berucap : “Ingatlah wahai jiwaku, bantulah aku ini dengan usahamu, merayap di gulita malam ini dan malam-malam selanjutnya ke hadirat-Nya. Agar engkau kelak sukses dan selamat di hari pembalasan, meraih hidup bahagia di dalam keridhaan Allah SWT.”
Perintah Qurban
Menurut riwayat, setelah berada
di Arafah, Nabiullah Ibrahim Khalilullah as bertemu Siti Hajar dan
Ismail. Di Arafah inilah Ibrahim as juga berjumpa malaikat Jibril. Dari
perjumpaannya itulah, Ibrahim diberitahu
tata cara manasik haji yang benar. Dan seterusnya, mereka pulang ke
Mekah melalui jalan setapak. Pada saat-saat inilah udara malam membuat mereka
keletihan, sehingga mereka berhenti di kawasan yang sekarang ini disebut dengan
Muzdhalifah, lalu mereka tertidur sejenak.
Dalam tidurnya Ibrahim as
kembali bermimpi menyembelih putranya Ismail. Sehingga Ibrahim as semakin yakin
bahwa Allah SWT benar memerintahkan menyembelih putranya sebagai qurban.
Ibrahim as kemudian menyampaikan mimpinya itu dengan bahasa lembut kepada putranya
: "Wahai anakku, aku bermimpi bahwasanya aku diperintahkan Allah SWT
untuk menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?"
Meskipun usia Ismail masih muda,
namun ia telah memahami hakekat kebenaran wahyu itu. Sedikit pun ia tidak
meragukan integritas dan dedikasi orang tuanya. Ismail as sami'na wa'ata'na,
tulus dan ikhlas menerima perintah Allah SWT tersebut. Ia rela diqurbankan
semata-mata demi menegakkan hukum Allah SWT.
Skenario ini sesungguhnya sengaja diciptakan Allah untuk menguji kadar keimanan Ibrahim dan Ismail. Ketulusan dan keikhlasannya menunaikan perintah Allah SWT tersebut, membuktikan keimanannya yang sejati, utuh, dan sempurna. Pengorbanannya yang tulus dan ikhlas itulah yang harus kita contoh ketika kita melakukan perintah qurban dengan menyembelih hewan qurban.
Perjalanan Spiritual
Seluruh rangkaian pelaksanaan
ibadah haji dan umrah serta qurban, merupakan perjalanan spiritual yang secara
simbolik menggambarkan puncak dari pengalaman rohani setiap Muslim. Karena itu,
ibadah haji dan qurban, selalu mempunyai
pengaruh yang luar biasa. Batin kita dibawa untuk mengenali hakekat keimanan
yang agung. Mengenal kekuatan iman Ibrahim as, ketika harus melaksanakan tugas
pengabdiannya mengorbankan Ismail. Hakekat keimanan harus dimenangkan melebihi
kecintaan kepada anaknya. Dengan penuh kasih sayang, beliau membimbing anaknya
memahami hakekat kebenaran dengan bijaksana.
Selanjutnya, kita dibawa
mengenali kekuatan iman Siti Hajar as. Ibu ini dalam semua keadaan, tidak
pernah kehilangan kepercayaan akan pertolongan Allah SWT. Ia tetap menjadi ibu
yang lembut, penuh percaya diri untuk tetap mencintai dan setia pada amanat
suaminya. Hajar tidak goyah sedikit pun atas rayuan iblis. Ia melambangkan
keimanan wanita yang tulus dan ikhlas dalam mengasuh generasi yang
dilahirkannya.
Dan yang tak kalah pentingnya, batin kita dibawa kepada sosok identitas keimanan pemuda Ismail yang sabar dan teguh hati. Ia melambangkan generasi muda yang tak pernah kehilangan kepercayaan terhadap integritas dan dedikasi orang tuanya. Ia selalu siap membantu tugas pengabdian orang tuanya dalam rangka melaksanakan perintah Allah.
Ziarah ke Madinah
Secara moral, perjalan haji dan
umrah tidak sempurna bila tidak berziarah ke Madinah, kemudian shalat di masjid
Nabawi dan berziarah ke makam Rasulullah saw. Meskipun di
Allah SWT berfirman yang
maknanya :
“Katakanlah
jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3] : 31).
Iman seorang Muslim belum bisa
dipercaya sebelum membuktikan bahwa Rasulullah saw lebih dicintai dari dirinya.
Meskipun ziarah ke Madinah tidak termasuk rukun umroh dan haji, namun pergi ke
Madinah telah menjadi sopan santun yang timbul bukan karena ikatan syarat,
rukun atau pun kewajiban haji dan umrah, melainkan karena ikatan rasa cinta (mahabbah) kita pada Nabi saw. Jiwa
Mukmin manakah ketika pergi haji atau umrah sanggup untuk tidak berziarah ke
makam Rasulullah saw?
Suatu ketika, seusai perang
Hunain, Nabi saw membagi-bagikan harta rampasan perang. Kaum anshar dibagikan
tidak sebanyak yang diberikan kepada kaum Qurasy, bekas musuh-musuh mereka yang
rata-rata memiliki pertalian darah dengan Nabi saw. Sikap ini menimbulkan rasa
pedih, seolah-olah beliau melupakan penduduk Madinah yang begitu besar jasanya
pada perjuangan. Kepedihan hati penduduk Madinah terwakili oleh seorang pemuda
yang mengatakan :
“Semoga
Allah mengampuni Rasulullah saw, dia telah memberikan harta rampasan kepada
orang-orang Quraisy dan melupakan kita. Padahal pedang-pedang kita masih
meneteskan darah….”
Ketika keluhan dan protes itu sampai ke Rasulullah, saw beliau kemudian
mengumpulkan semua kaum Anshar di rumah beliau seraya bersabda yang bermakna:
“Wahai
kaum Anshar, apakah kalian tidak ridha melihat orang-orang itu pergi membawa
harta rampasan perang, sedangkan kalian pulang membawa aku?” Lalu kaum Anshar serentak
menjawab : “Kami ridha ya Rasulullah.” Kemudian
beliau melanjutkan sabdanya yang bermakna :
“Wahai
kaum Anshar, sekiranya orang-orang itu melintasi suatu lembah dan orang-orang
lain lagi melintasi jalan yang lainnya, tentu aku akan melintasi jalan yang
dilalui kaum Anshar….AL-MAHYA MAHYAKUM WAL-MAMAATU MAMATUKUM. “Kehidupanku adalah kehidupan kalian, dan kematianku adalah kematian
kalian.”
Demikianlah Rasulullah saw
memberitahu kaum Anshar bahwa beliau akan sehidup semati dengan mereka di
Madinatul Munawarah. Meskipun Mekah adalah tanah kelahirannya, dan di
“Wahai
manusia, orang-orang ini akan semakin banyak, sedang orang-orang Anshar tetap
saja sedikit, sehingga jadilah mereka itu bagaikan garam di dalam makanan. Maka
barangsiapa yang memegang kekuasaan (kepemimpinan) di antara kamu, yang
kekuasaannya itu dapat membuat bahaya terhadap seseorang atau dapat membuat
manfaat terhadap seseorang, maka hendaklah mereka mengingat kebaikan
orang-orang Anshar dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka.” (HR. Bukhari, sumber dari
Ibnu Abbas). Barakallah Fiikum (*)
.jpg)
Posting Komentar