Jumhur Hidayat dan Gerakan Satu Bumi untuk Menyelamatkan Lingkungan yang Kian Keropos

Table of Contents

Jumhur Hidayat dan Gerakan Satu Bumi untuk Menyelamatkan Lingkungan yang Kian Keropos

Oleh: Lukman Hakim, aktivis buruh

Pidato pertama Jumhur Hidayat selaku Menteri Lingkungan Hidup di hadapan jajaran aparatur kementerian LH pada 1 Mei 2026 memuat pesan yang patut dicermati. Ia secara terbuka menyatakan kesepahamannya dengan pemikiran Rocky Gerung tentang environmental ethics, etika lingkungan yang menempatkan alam bukan semata sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek moral yang harus dihormati.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau administratif, melainkan persoalan etis. Selama ini, alam terlalu sering direduksi menjadi komoditas ekonomi. Pembangunan diukur terutama dari pertumbuhan, sementara daya dukung lingkungan diabaikan. Akibatnya, kerusakan ekologis kian meluas dan berdampak lintas generasi.

Dalam pidatonya, Jumhur juga menekankan dimensi tanggung jawab antargenerasi. Kita, katanya, bertanggung jawab terhadap Generasi Z. Mereka adalah generasi yang akan hidup paling lama dengan dampak kerusakan lingkungan yang kita biarkan hari ini. Jika negara dan dunia gagal bertindak, Generasi Z memiliki alasan kuat untuk marah, bukan karena sikap emosional, melainkan karena ketidakadilan.

Kemarahan itu bukan sekadar ekspresi psikologis, tetapi dapat berubah menjadi krisis sosial dan politik. Generasi Z tumbuh dengan kesadaran ekologis yang lebih tinggi dan akses informasi yang luas. Mereka menyaksikan paradoks besar, tetang kemajuan teknologi yang berlangsung cepat, tetapi kualitas lingkungan justru terus memburuk. Di titik ini, krisis lingkungan berpotensi menjadi krisis kepercayaan terhadap negara dan elite global.

Namun, penyelamatan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. Krisis iklim, pencemaran laut, dan kerusakan ekosistem tidak mengenal batas negara. Aktivitas industri di satu wilayah dapat berdampak pada kehidupan generasi muda di wilayah lain. Karena itu, pendekatan nasional yang terfragmentasi tidak lagi memadai.

Di sinilah relevansi gagasan gerakan satu bumi. Jumhur menegaskan bahwa untuk menyelamatkan lingkungan, dunia perlu membangun kesadaran bersama. Gerakan satu bumi adalah seruan solidaritas global yang melampaui kepentingan sempit negara dan ideologi. Dalam kerangka environmental ethics, bumi dipahami sebagai rumah bersama yang harus dijaga demi keberlanjutan hidup umat manusia.

Namun, gerakan satu bumi tidak boleh hanya slogan moral. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan konkret; transisi energi bersih yang adil, perlindungan hutan dan keaneka-ragaman hayati, pembatasan industri ekstraktif yang merusak, serta penegakan hukum lingkungan yang konsisten. Tanpa keberanian politik, etika lingkungan akan selalu kalah oleh kepentingan jangka pendek.

Bagi Indonesia, pesan ini memiliki arti strategis. Sebagai negara dengan kekayaan alam besar, pilihan kebijakan hari ini terutama di sektor energi, pertambangan, dan kehutanan akan menentukan apakah Indonesia menjadi bagian dari solusi global atau justru mempercepat kerusakan ekologis. 

Masa depan Generasi Z Indonesia sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan tersebut.

Kita pahami bahwa, krisis lingkungan adalah cermin krisis etika manusia modern. Kesepahaman Jumhur Hidayat dengan gagasan environmental ethics menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan bukan sekadar urusan teknis, melainkan tanggung jawab moral global. Menyelamatkan bumi berarti menyelamatkan masa depan Generasi Z.

Jika dunia gagal membangun kesadaran bersama hari ini, maka lingkungan yang kian keropos akan menjadi warisan paling mahal dan paling pahit bagi generasi mendatang.

by: Lukman Hakim

Posting Komentar