Ketika Cokelat Eropa Berasal dari Tangan Petani Perempuan Sulawesi
Ketika Cokelat Eropa Berasal dari Tangan Petani Perempuan Sulawesi
Oleh: Ayu Antariksa Rombe
Artikel ini merupakan intisari dari surat dan pernyataan yang saya sampaikan secara langsung kepada Parlemen Uni Eropa, dalam sebuah pertemuan global yang diselenggarakan di Brussel, Belgia. Melalui forum tersebut, saya mewakili suara petani kecil, khususnya petani perempuan kakao dari Sulawesi untuk menyampaikan pengalaman nyata di lapangan, serta harapan agar kebijakan keberlanjutan global berjalan adil dan berpihak pada mereka yang menjaga hutan sekaligus menggantungkan hidup darinya.
Di sebuah desa di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, kakao bukan sekedar komoditas ekspor, namun merupakan sumber hidup masyarakat desa, warisan pengetahuan, dan harapan masa depan bagi ribuan keluarga petani. Dari kebun-kebun rakyat inilah sebagian biji kakao yang kemudian bisa dinikmati masyarakat dunia termasuk di Eropa.
Saya Ayu Antariksa, petani kakao dan Ketua Koperasi Tani Masagena. Koperasi kami menaungi lebih dari 2.400 petani dengan total kebun sekitar 2.000 hektare. Selama bertahun-tahun, kami menjadi bagian penting dari rantai pasok kakao Indonesia, khususnya dari Sulawesi selatan yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi kakao rakyat.
Sejak 2012, koperasi kami telah berupaya memenuhi standar pasar global. Kami pernah mengantongi sertifikasi RA-UTZ untuk menembus pasar Eropa seperti Prancis, Belanda, dan Italia. Bahkan produk olahan seperti kakao nibs sempat masuk ke pasar Amerika Serikat. Kini, kami juga mengembangkan gula-gula cokelat lokal bermerek Chalodo, yang perlahan mulai dilirik pasar internasional.
Namun jalan petani kecil tidak pernah benar-benar mudah. Sejak 2020, produksi kakao kami menurun tajam akibat dampak El Niño dan serangan hama. Produktivitas rata-rata hanya bertahan di kisaran 500 kilogram per hektare per tahun. Tekanan ekonomi membuat hampir separuh lahan petani beralih ke sawit. Baru ketika harga kakao melonjak tajam pada akhir 2024, banyak petani kembali menanam kakao. Perubahan ini menunjukkan satu hal penting, bahwa kakao rakyat sesungguhnya memiliki potensi besar, asalkan diberi dukungan yang tepat.
Hari ini, tantangan baru datang dari kebijakan global seperti European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR). Kami memahami dan menghormati tujuan mulia regulasi ini untuk melindungi hutan dan menekan laju perubahan iklim. Bagi masyarakat Luwu Utara, hutan bukanlah musuh pembangunan, namun adalah sumber air, penyangga kehidupan, dan bagian dari identitas kami. Bahkan sebagian besar kebun kakao rakyat ditanam dengan sistem agroforestri yang justru menjaga keseimbangan ekologi.
Namun bagi petani kecil di Sulawesi Selatan, implementasi EUDR menghadirkan persoalan nyata di lapangan.
Pertama, soal legalitas lahan. Sekitar 80 persen petani belum memiliki sertifikat resmi, bukan karena sengaja melanggar hukum, tetapi karena keterbatasan akses dan biaya.
Kedua, tuntutan keterlacakan dan geolokasi kebun. Kami tidak memiliki kemampuan teknologi untuk melakukan pemetaan "polygon" atau digitalisasi kebun sebagaimana disyaratkan.
Ketiga, biaya sertifikasi internasional yang sangat mahal dan tidak sebanding dengan harga jual yang diterima petani.
Keempat, beban administratif dalam rantai pasok kakao yang panjang dan kompleks, yang membuat kewajiban due diligence terasa semakin berat.
Jika tantangan ini tidak dijembatani, maka EUDR akan menciptakan paradoks, bahwa kebijakan yang bertujuan melindungi hutan justru akan meminggirkan petani kecil yang selama ini hidup berdampingan dengan hutan dan menjaganya secara turun-temurun.
Karena itu, suara kami sederhana namun mendesak. Kami berharap Parlemen Uni Eropa tidak hanya menetapkan standar, tetapi juga menghadirkan dukungan teknis dan finansial bagi petani kecil. Dukungan untuk pemetaan kebun, sertifikasi kelompok, serta akses teknologi yang sederhana dan terjangkau, akan sangat menentukan apakah kakao rakyat Sulawesi bisa tetap hadir di pasar Eropa secara adil dan berkelanjutan.
Ketika masyarakat Eropa menikmati sebatang cokelat, mungkin ada biji kakao dari kebun kami di dalamnya. Dari tangan perempuan petani yang setiap hari membersihkan kebun, memanen buah, memfermentasi, dan menjemur biji dengan penuh ketekunan. Kami mungkin kecil dalam peta perdagangan global, tetapi kami nyata. Dan tanpa petani kecil, tidak akan pernah ada kakao yang benar-benar berkelanjutan dan tidak akan ada cokelat.
Keberlanjutan sejati tidak hanya tentang menyelamatkan hutan, tetapi juga tentang melindungi manusia yang hidup dari hutan, dan yang menjaganya dengan sepenuh hati.
Salam Uni Eropa
*****
.jpg)
Posting Komentar