Koperasi dan Rapuhnya Ikatan Sosial di Indonesia
Koperasi dan Rapuhnya Ikatan Sosial di Indonesia Oleh: Radjulansani AT
Koperasi sejak lama dipandang sebagai tulang punggung ekonomi rakyat Indonesia. Bahkan konstitusi menempatkan semangat kekeluargaan sebagai fondasi utama ekonomi nasional. Namun dalam praktiknya, koperasi di Indonesia sering sulit berkembang secara sehat dan berkelanjutan. Banyak yang mati suri, terjebak konflik internal, atau berubah menjadi lembaga formal tanpa ruh kolektivitas.
Masalahnya mungkin bukan semata pada modal, regulasi, atau manajemen. Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada psikologi sosial masyarakat itu sendiri.
Bangsa Indonesia memang memiliki tradisi gotong royong yang kuat dalam sejarah budaya pedesaan. Namun jika ditelaah lebih dalam, sebagian besar ikatan sosial itu sering tumbuh dalam konteks tertentu misalnya; pesta pernikahan, panen sawah, pembangunan rumah, atau kegiatan seremonial desa. Ikatan sosial hadir karena dorongan adat, tekanan sosial, rasa sungkan, atau harapan timbal balik di kemudian hari.
Artinya, solidaritas sosial kita dalam banyak kasus belum sepenuhnya berdiri di atas kesadaran kolektif yang matang, tapi sering berjalan karena situasi sosial yang memaksa orang untuk terlibat.
Ketika masyarakat memasuki era modern melalui pendidikan, urbanisasi, ekonomi uang, dan invasi teknologi digital, struktur psikologis itu perlahan berubah. Individualisme tumbuh semakin kuat. Nilai keberhasilan diukur dari pencapaian pribadi. Kompetisi ekonomi semakin dominan. Bahkan relasi sosial pun sering berubah menjadi relasi transaksional.
Dalam situasi seperti itu, koperasi menghadapi tantangan besar.
Koperasi sejatinya bukan sekedar lembaga ekonomi, namun sangat membutuhkan watak sosial tertentu; saling percaya, kesabaran kolektif, kesediaan berbagi manfaat, dan kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi. Tanpa fondasi psikologis itu, koperasi mudah berubah menjadi arena konflik internal.
Tidak sedikit koperasi yang akhirnya dipenuhi persaingan antaranggota, rasa iri, saling curiga, perebutan pengaruh, bahkan praktik mencari keuntungan pribadi. Semangat “sama-sama bekerja untuk kesejahteraan bersama” perlahan kalah oleh mentalitas kompetisi individual.
Di sinilah letak perbedaan penting antara koperasi yang berhasil dan koperasi yang hanya bertahan secara administratif. Koperasi yang sehat lahir dari kesamaan visi sosial para anggotanya. Mereka tidak hanya berkumpul karena kebutuhan ekonomi, tetapi juga karena memiliki kesadaran kolektif tentang pentingnya tumbuh bersama.
Karena itu, membangun koperasi tidak cukup hanya dengan suntikan modal atau program pemerintah. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya sosial yang mendukung kerja kolektif. Tanpa perubahan mentalitas, koperasi akan terus menjadi slogan ideal yang sulit berakar kuat dalam masyarakat modern Indonesia.
Mungkin inilah ironi terbesar bangsa ini; kita sering membanggakan budaya gotong royong, tetapi pada saat yang sama semakin hidup dalam psikologi individualisme.
Dan koperasi adalah cermin paling jujur untuk melihat kontradiksi itu.
Merdeka
(1).jpg)
Posting Komentar