Lebaran Berbeda, Banyak Umat Melanggar Sunnah Nabi

Table of Contents

Lebaran Berbeda, Banyak Umat Melanggar Sunnah Nabi

Oleh: Djamaluddin Karim dan Rekan

Perbedaan penetapan Idul Fitri di Indonesia bukan sekadar persoalan melihat hilal atau menghitung posisi bulan. Di balik perdebatan hisab dan rukyat, sering tersembunyi persoalan yang lebih dalam terkait identitas kelompok, otoritas keagamaan, dan gengsi organisasi.

Setiap tahun, publik menyaksikan pola yang hampir sama. Ketika satu kelompok besar lebih dahulu menetapkan jadwal Lebaran, kelompok lain cenderung mempertahankan metode dan keputusan masing-masing. Dalil-dalil fikih pun kembali diperdebatkan. Akibatnya, umat Islam di satu negara dapat merayakan hari raya pada dua bahkan tiga waktu berbeda.

Tentu tidak semua perbedaan lahir karena ego. Dalam tradisi Islam, perbedaan ijtihad adalah sesuatu yang wajar. Ada ulama yang berpegang pada rukyat langsung, ada yang menggunakan hisab astronomi, ada pula yang menggabungkan keduanya. Semua memiliki dasar argumentasi.

Namun masalah muncul ketika perbedaan metodologi berubah menjadi simbol gengsi kelembagaan.

Keputusan hari raya bukan lagi hanya hasil kajian ilmiah dan syar’i, tetapi juga menyangkut citra organisasi. Mengikuti keputusan pihak lain kadang dianggap menurunkan wibawa internal atau mengurangi pengaruh di hadapan jamaahnya sendiri. Maka yang terjadi kemudian bukan sekedar mencari kebenaran, melainkan mempertahankan posisi.

Dalam situasi seperti ini, dalil terkadang hadir belakangan, setelah keputusan psikologis dan organisatoris terbentuk terlebih dahulu.

Masyarakat awam akhirnya menjadi pihak yang paling bingung. Mereka melihat para tokoh agama sama-sama membawa ayat, hadis, dan argumen ilmiah, tetapi menghasilkan keputusan berbeda. Sebagian mulai mempertanyakan: apakah ini benar-benar soal ilmu, atau sudah bercampur dengan fanatisme kelompok?

Ironisnya, dampak perbedaan itu bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga menyentuh praktik ibadah umat secara langsung. Ketika sebagian umat Islam telah menetapkan 1 Syawal dan merayakan Idul Fitri, sementara sebagian lain masih berpuasa Ramadan, maka pada saat yang sama muncul situasi yang sangat problematik: ada umat Islam yang tetap berpuasa pada hari yang oleh Nabi Muhammad ï·º dilarang untuk berpuasa.

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah ï·º melarang puasa pada dua hari raya: Idul Fitri dan Idul Adha. Larangan ini menunjukkan bahwa 1 Syawal adalah hari berbuka, hari makan dan bergembira sebagai tanda kemenangan setelah Ramadan.

Karena itu, ketika satu wilayah sudah meyakini masuknya 1 Syawal tetapi sebagian umat masih melanjutkan puasa, masyarakat awam melihat adanya benturan yang membingungkan antara semangat mengikuti kelompok dengan semangat mengikuti sunnah Nabi.

Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena umat Islam hidup dalam satu ruang sosial yang sama. Takbir berkumandang di televisi, masjid menggelar salat Id, pemerintah menetapkan hari raya, tetapi di sisi lain sebagian umat masih menahan lapar dan dahaga karena mengikuti keputusan kelompoknya masing-masing.

Di sinilah persoalan hari Lebaran yang berbeda waktu tidak lagi sekedar perdebatan astronomi atau fikih hisab-rukyat, namun telah menyentuh wajah persatuan umat dan praktik keagamaan sehari-hari.

Islam sejak awal sebenarnya menekankan pentingnya kebersamaan jamaah. Hari raya bukan hanya momentum ibadah individual, tetapi juga simbol persatuan sosial umat Islam.

Indonesia memang tidak memiliki satu otoritas agama tunggal yang mengikat semua organisasi Islam. Namun semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula tanggung jawab moralnya untuk memikirkan dampak sosial dan keagamaan dari perbedaan yang terus dipertahankan.

Pada akhirnya, persoalan "Lebaran berbeda" bukan hanya soal siapa yang paling tepat membaca hilal, tapi persoalan sesungguhnya mungkin terletak pada apakah umat Islam lebih mengutamakan kebesaran kelompok, atau kebersamaan umat.

Sebab boleh jadi, tantangan terbesar umat hari ini bukan kekurangan dalil, melainkan kekurangan kerendahan hati dalam menyikapi perbedaan.

*****

Posting Komentar