Ngabalin Bongkar Sisi Gelap Perang Iran-AS: Senjata Laku, Gaza Terlupakan

Table of Contents

Ngabalin Bongkar Sisi Gelap Perang Iran-AS: Senjata Laku, Gaza Terlupakan

Penyunting: Ashar Ilyas

Pernyataan Ali Mochtar Ngabalin bahwa konflik Iran-Amerika Serikat bukan semata persoalan politik, melainkan juga terkait bisnis senjata, sesungguhnya menyentuh inti “paling gelap” dari geopolitik modern. Perang tidak hanya melahirkan kehancuran, tetapi juga keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi pihak-pihak tertentu.

Ketika rudal diluncurkan, drone diterbangkan, dan pangkalan militer diserang, ada industri raksasa yang bekerja di belakang layar. Perusahaan-perusahaan pertahanan global memperoleh lonjakan permintaan, negara-negara meningkatkan anggaran militer, dan pasar senjata bergerak sangat agresif. Dalam situasi seperti ini, perang bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga mesin ekonomi.

Konflik Iran-AS memperlihatkan pola itu dengan sangat jelas. Ketegangan yang terus dipelihara membuat kawasan Timur Tengah tetap berada dalam pusaran ketidakstabilan. Amerika Serikat mempertahankan pengaruh strategisnya di kawasan Teluk, dan Israel memperkuat argumentasi keamanan nasionalnya, sementara Iran terus memainkan narasi “perlawanan terhadap hegemoni Barat.”

Namun pertanyaan yang mulai muncul di tengah publik internasional jauh lebih tajam: apakah mungkin Amerika Serikat dan Iran sesungguhnya sama-sama memperoleh keuntungan politik dari konflik yang terus dipelihara ini?

Pertanyaan tersebut memang masih berada dalam ranah dugaan dan spekulasi geopolitik. Tidak ada bukti terbuka yang menunjukkan adanya “persekongkolan” langsung antara Washington dan Teheran. Namun publik mulai melihat pola yang dianggap janggal: perang berlangsung lama, eskalasi dibuat naik-turun, tetapi jarang benar-benar mencapai titik penghancuran total.

Dalam banyak momen, serangan demi serangan tampak seperti memiliki batas tidak tertulis. Ancaman keras dilontarkan, rudal ditembakkan, tetapi kemudian muncul jalur diplomasi, negosiasi tidak resmi, atau gencatan senjata sementara. Pola seperti ini membuat sebagian publik mulai curiga bahwa di balik layar justru ada semacam “pengaturan misterius” yang menjaga konflik tetap hidup, tetapi tetap terkendali.

Kecurigaan itu muncul karena perang berkepanjangan ternyata menguntungkan terlalu banyak pihak.

Amerika Serikat memperoleh legitimasi untuk mempertahankan dominasi militernya di Timur Tengah. Iran tetap bisa menjaga citra sebagai simbol perlawanan anti-Barat di dunia Islam. Israel mendapat dukungan keamanan dan tambahan bantuan pertahanan. Negara-negara Arab meningkatkan belanja militer mereka. Sementara perusahaan-perusahaan senjata global menikmati pasar da cuan yang terus bergerak.

Dengan kata lain, konflik yang panjang dan terukur terkadang lebih menguntungkan dibanding perang total yang selesai dalam waktu singkat.

Dalam teori “war economy” atau ekonomi perang, situasi seperti ini bukan sesuatu yang mustahil. Ketegangan yang dipelihara secara terus-menerus mampu menciptakan siklus ekonomi bernilai miliaran dolar. Ketakutan publik dijadikan alasan memperbesar anggaran pertahanan, memperluas pangkalan militer, dan mempercepat transaksi senjata lintas negara.

Di titik inilah sebagian publik mulai mempertanyakan: apakah irama perang memang sengaja dijaga agar rantai bisnis senjata global tetap hidup?

Kecurigaan itu semakin menguat ketika perang terlihat seperti sebuah pertunjukan atau teater geopolitik yang penuh simbol. Retorika keras terus diproduksi, tetapi pada saat yang sama masing-masing pihak tampak berhitung agar konflik tidak benar-benar keluar kendali dan menghancurkan kepentingan strategis mereka sendiri.

Namun ada sisi lain yang lebih sensitif dan mulai ramai dibicarakan di ruang publik internasional, adalah bahwa perang Amerika-Iran secara perlahan justru menenggelamkan isu Palestina.

Ketika perhatian dunia tersedot pada ancaman perang besar, Selat Hormuz, harga minyak global, dan kemungkinan bentrokan langsung Washington-Teheran, operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon justru terus berjalan tanpa sorotan sebesar sebelumnya.

Dalam kesibukan opini dunia membahas potensi perang regional, Israel terus merangsek lebih dalam ke Gaza, meningkatkan tekanan terhadap kelompok Hamas yang masih bertahan. Di Lebanon selatan, serangan terhadap posisi-posisi Hizbullah juga terus berlangsung dengan intensitas tinggi.

Situasi ini memunculkan pertanyaan yang jauh lebih kontroversial; apakah perang Amerika-Iran sesungguhnya menjadi “ruang strategis” yang secara tidak langsung menguntungkan Israel?

Sebagian analis kritis mulai melihat bahwa ketika dunia sibuk membahas perang Iran, perhatian terhadap korban sipil Palestina perlahan bergeser. Media internasional lebih fokus pada ancaman penutupan Selat Hormuz, serangan rudal Iran, atau respons militer Amerika Serikat, sementara tragedi kemanusiaan di Gaza tidak lagi menjadi pusat perhatian utama seperti sebelumnya.

Dalam perspektif geopolitik, pengalihan fokus opini global memang sering menjadi bagian penting dalam strategi perang modern. Ketika perhatian dunia terpecah, operasi militer di wilayah lain bisa berjalan dengan tekanan internasional yang lebih kecil.

Karena itu muncul spekulasi publik; apakah eskalasi konflik Iran-AS secara tidak langsung “by design” memberi ruang bagi Israel untuk memperluas operasi militernya di Gaza dan Lebanon?

Tentu tuduhan semacam ini sulit dibuktikan secara faktual. Namun dalam politik global, persepsi publik sering lahir bukan hanya dari fakta resmi, tetapi juga dari pola kejadian yang terlihat berulang. Ketika satu konflik besar menyedot perhatian dunia, konflik lain sering tenggelam dari sorotan media internasional.

Di tengah eskalasi tersebut, publik dunia justru mulai menyoroti hal lain yang tidak kalah menariknya; misalnya mengapa Mojtaba Khamenei hampir tidak pernah tampil ke publik?

Absennya pemimpin tertinggi Iran itu memunculkan banyak spekulasi. Ada yang menduga Iran sedang menjalankan strategi perlindungan maksimal terhadap simbol kekuasaan negara. Ada pula yang menilai kondisi ini mencerminkan kekhawatiran serius Teheran terhadap ancaman infiltrasi intelijen dan serangan presisi dari musuh-musuhnya.

Iran tampaknya belajar dari berbagai operasi intelijen modern yang mampu melumpuhkan tokoh penting hanya melalui pelacakan digital, sinyal komunikasi, atau pengintaian satelit. Dalam era perang teknologi, tampil di ruang publik bisa berarti membuka celah bagi keamanan sang tokoh.

Karena itu, ketidakhadiran Mojtaba Khamenei di hadapan publik kemungkinan bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi bagian dari strategi negara. Iran ingin memastikan bahwa struktur kekuasaan tetap stabil meskipun simbol utamanya tidak terlihat.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa Iran sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Negara yang selama ini dikenal berani menantang Amerika Serikat dan Israel justru tampak sangat berhati-hati menjaga figur tertingginya. Ini mengindikasikan bahwa perang modern telah berubah menjadi perang psikologis dan perang intelijen yang jauh lebih kompleks dibanding perang konvensional masa lalu.

Yang menarik, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula keuntungan yang beredar di industri pertahanan global. Negara-negara Arab membeli sistem pertahanan baru, perusahaan senjata memperoleh kontrak jumbo, dan ketakutan publik dijadikan alasan untuk meningkatkan belanja militer.

Pada konteks inilah pernyataan Ngabalin menemukan relevansinya. Perang ternyata tidak selalu didorong oleh keinginan untuk menang cepat. Dalam banyak kasus, konflik yang berkepanjangan justru menciptakan siklus keuntungan ekonomi dan politik bagi banyak pihak.

Sementara rakyat sipil kehilangan rumah, masa depan, bahkan nyawa, para elite global sibuk berbicara tentang stabilitas kawasan sambil terus memperdagangkan senjata. Timur Tengah akhirnya menjadi panggung panjang tempat kepentingan geopolitik, energi, ideologi, dan bisnis bertemu dalam satu arena konflik yang seolah tidak pernah benar-benar ingin diselesaikan.

*****




Posting Komentar