Peta Rahasia Kepentingan China di Timur Tengah: Arab, Israel, dan Iran
Oleh: Husein Mukhsin Al Habsyi
Di tengah memanasnya geopolitik Timur Tengah, banyak orang melihat China seolah berada di belakang Iran. Kedekatan politik Beijing dan Teheran memang terlihat jelas dalam berbagai forum internasional, terutama ketika keduanya sama-sama berhadapan dengan tekanan Amerika Serikat dan Barat. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kepentingan China di Timur Tengah ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar mendukung Iran.
China bukan pemain ideologis seperti era Perang Dingin. Beijing bergerak dengan logika dagang, energi, stabilitas jalur laut, dan kepentingan ekonomi jangka panjang. Karena itu, China membangun hubungan dengan hampir semua kekuatan utama di Timur Tengah sekaligus: negara-negara Arab Teluk, Israel, dan Iran.
Bahkan secara ekonomi, Iran sebenarnya bukan mitra terbesar China di kawasan tersebut.
Posisi paling penting justru ditempati oleh Saudi Arabia. Nilai perdagangan China dengan Saudi diperkirakan mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS per tahun. Arab Saudi menjadi pemasok energi vital bagi industri raksasa China. Di saat yang sama, Beijing juga masuk ke proyek-proyek besar Saudi, mulai dari petrokimia, teknologi, energi hijau, hingga pembangunan kota masa depan.
Bagi China, Saudi bukan sekadar penjual minyak. Saudi adalah sumber stabilitas energi global.
Setelah Saudi, United Arab Emirates menjadi pusat kepentingan ekonomi China berikutnya. Nilai perdagangan keduanya mendekati 100 miliar dolar AS per tahun. Dubai dan Abu Dhabi kini telah menjadi pintu perdagangan utama China menuju Timur Tengah dan Afrika. Banyak barang China masuk ke kawasan Arab melalui pelabuhan-pelabuhan UEA.
China juga aktif membangun pelabuhan, kawasan industri, dan proyek logistik di UEA dalam kerangka Belt and Road Initiative. Secara bisnis, UEA jauh lebih aman dan nyaman bagi investasi besar dibanding Iran yang terus dibayangi sanksi.
Di sisi lain, Qatar dan Oman juga memiliki nilai strategis tinggi. Qatar penting karena gas alam cair atau LNG yang sangat dibutuhkan China untuk menopang kebutuhan energinya. Sementara Oman menjadi titik penting jalur perdagangan laut dekat Selat Hormuz.
Lalu bagaimana dengan Israel?
Inilah bagian yang sering luput dari perhatian publik Timur Tengah.
Walaupun secara politik China sering terlihat dekat dengan Palestina dan dunia Arab, hubungan ekonomi China dengan Israel justru berkembang cukup besar. Nilai perdagangan keduanya diperkirakan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS per tahun.
Namun yang lebih penting bukan sekadar angka perdagangan, melainkan jenis hubungan yang dibangun.
China melihat Israel sebagai sumber teknologi tinggi. Dalam beberapa dekade terakhir, China banyak menjalin kerja sama dengan perusahaan dan lembaga Israel di bidang kecerdasan buatan, keamanan siber, teknologi air, pertanian modern, semikonduktor, hingga inovasi militer sipil. Bagi Beijing, Israel adalah salah satu pusat inovasi dunia.
Artinya, jika Arab Teluk memberi China energi, maka Israel memberi China teknologi.
Sementara Iran memberi sesuatu yang berbeda lagi: keuntungan geopolitik.
Iran penting bagi China karena beberapa alasan. Pertama, Iran memiliki cadangan energi besar dan sering menjual minyak dengan harga murah akibat tekanan sanksi Barat. Kedua, Iran berada di jalur strategis penghubung Asia Tengah, Timur Tengah, dan Eurasia. Ketiga, hubungan dengan Iran membantu China menghadapi dominasi Amerika Serikat di kawasan.
Tetapi secara ekonomi, Iran tetap memiliki keterbatasan besar.
Sanksi internasional membuat banyak investasi China di Iran berjalan lambat. Sistem perbankan Iran sulit terhubung dengan pasar global. Banyak transaksi harus dilakukan melalui mekanisme tidak resmi atau jalur alternatif. Risiko geopolitiknya juga tinggi.
Karena itu, meskipun hubungan politik China-Iran terlihat dekat, nilai ekonominya tetap jauh di bawah hubungan China dengan Arab Saudi atau UEA.
Di sinilah terlihat strategi utama Beijing di Timur Tengah: menjaga semua pintu tetap terbuka.
China tidak ingin terjebak dalam konflik sektarian Sunni-Syiah, konflik Arab-Israel, maupun rivalitas Iran-Arab Saudi. Beijing justru ingin menjadi mitra dagang semua pihak sekaligus.
China membeli minyak dari Arab Saudi dan Iran. China membangun pelabuhan di UEA dan Oman. China mengembangkan teknologi bersama Israel. China juga tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Palestina.
Pendekatan seperti ini sangat berbeda dengan pola geopolitik Amerika Serikat yang cenderung membangun blok dan aliansi militer tegas.
China memahami bahwa masa depan ekonominya sangat bergantung pada stabilitas Timur Tengah. Jalur minyak, gas, perdagangan laut, dan investasi global semuanya melintasi kawasan tersebut. Karena itu, Beijing lebih memilih menjadi “penyeimbang” daripada pemain perang terbuka.
Dalam konteks inilah, banyak orang keliru jika menganggap China akan membela Iran secara total dalam setiap konflik besar Timur Tengah. China memang membutuhkan Iran, tetapi China jauh lebih membutuhkan stabilitas ekonomi kawasan Teluk secara keseluruhan.
Sederhananya, Arab Teluk memberi China kekuatan ekonomi, Israel memberi teknologi, sementara Iran memberi posisi strategis geopolitik.
Dan Beijing tampaknya tidak ingin kehilangan satu pun dari ketiganya.
*****
.jpg)
Posting Komentar