Petani Cacao: Dari Benci Jadi Cinta

Table of Contents

Dari Benci ke Bumi: Aku Pulang di Kebun Kakao

Oleh: Ayu Antariksa Rombe

Dulu, bagiku kebun adalah tempat yang ingin kuhindari. Aku sering memandangi telapak tangan ayah yang kasar dan baju ibu yang selalu kusam oleh getah, lalu aku berjanji dalam hati: aku tidak akan seperti mereka. Aku ingin pergi jauh dari bau tanah ini.

Saat itu, bertani bagiku hanyalah peluh tanpa akhir, kulit yang dibakar matahari, dan ketidak-pastian yang melelahkan. Aku membayangkan masa depan yang lebih bersih, lebih wangi, dan tentu saja, lebih modern.

Namun, suatu sore yang sunyi mengubah segalanya. Aku berdiri di tengah kebun ketika melihat ayah menyentuh batang kakao dengan kelembutan yang nyaris sakral seperti menyentuh pipi anaknya sendiri. Di situlah aku tersadar; bagi mereka, kebun ini bukan hanya sumber penghasilan (income), tapi adalah kehidupan nyata yang dirawat, bukan dieksploitasi.

Sejak hari itu, aku mulai turun ke kebun. Memegang gunting pangkas untuk pertama kalinya, tanganku kaku dan perih. Nyamuk seolah menertawakan ketidak-siapanku bertani coklat. Namun ketika bibit kakao yang kutanam sendiri mengeluarkan kuncup daun merah muda pertamanya, ada getaran asing di dadaku, getaran yang tak pernah kutemukan di tempat lain.

Kebencian itu luruh perlahan, bersama setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah. Aku mulai mencintai aroma tanah basah setelah hujan. Aku terpesona melihat biji kakao berubah warna saat difermentasi, sebuah proses “pembusukan” yang justru melahirkan keharuman paling mewah di dunia. Dari sana aku belajar bahwa keindahan sering lahir dari kesabaran, bukan dari pelarian.

Mencintai kebun ternyata belum cukup. Cinta tanpa kendali hanyalah romantisme. Di situlah aku belajar memimpin tanah yang kupijak sendiri.

Banyak orang mengira bertani hanyalah soal memberi instruksi pada buruh kebun. Padahal, di lahan kakao yang aku kelola sendiri, akulah otak sekaligus ototnya. Mengelola kebun bukan hanya soal memiliki tanah, tetapi mengenali karakter setiap pohon, setiap lekuk dahan, setiap tanda yang ia berikan.

Di kebun ini, jadwal adalah hukum. Pemupukan bukan sekedar menabur, melainkan soal waktu yang tepat; saat tanah masih lembap di awal musim hujan agar nutrisi benar-benar diserap akar, bukan menguap sia-sia. Parit melingkar di bawah tajuk pohon kupahami sebagai “piring makan” bagi tanaman-tanamanku.

Memegang gunting pangkas mengajarkan aku tentang ketegasan. Aku harus rela membuang tunas-tunas air yang tampak hijau segar agar energi pohon terfokus pada buah. Cahaya matahari harus menembus hingga ke batang utama, untuk memberi ruang bagi bunga kakao tumbuh tanpa rasa takut pada jamur dan kelembapan berlebih.

Hama PBK mungkin licik, tetapi aku memilih jalan yang tekun. Dengan tanganku sendiri, aku membungkus buah-buah muda dengan plastik transparan, cara paling jujur yang kutahu untuk menjaga kualitas tanpa ketergantungan berlebihan pada bahan kimia. Setiap ikatan plastik adalah janji bahwa buah ini akan sampai ke timbangan pembeli dengan selamat.

Di saku bajuku, selalu ada buku catatan kecil. Di sanalah terekam sejarah setiap petak kebun, kapan diberi nutrisi, kapan berbunga, dan berapa kilogram hasil panen yang dihasilkan. Data menjadi kompas. Aku tak lagi menebak-nebak; aku memimpin kebunku dengan angka dan fakta.

Kini, aku tak lagi malu dengan tanah di bawah kuku-kukuku. Menjadi petani ternyata juga berarti menjadi seniman, ilmuwan, sekaligus pejuang dalam satu waktu. Aku bukan lagi Ayu yang melarikan diri, melainkan Ayu yang pulang ke tanah kebun.

Sejauh apa pun mimpi kukejar, akarku tetap tertanam di sini, di sela-sela pohon kakao, di pelukan bumi yang tak pernah ingkar janji. Aku adalah seorang petani, dengan seluruh bangga dan cinta yang kumiliki. 🌱

*****

Posting Komentar